Beranda Headline Ini Kronologis Perkosaan Fiktor terhadap AD (18) Anak Kandungnya Sendiri

Ini Kronologis Perkosaan Fiktor terhadap AD (18) Anak Kandungnya Sendiri

1051
0
Fiktor Adut (47), pelaku perkosaan terhadap AD anak kandungnya sendiri (Foto : Florespost.co)

Borong, Florespost.co – Terungkapnya kasus perkosaan terhadap AD (18) diketahui setelah AD mengadukan perkosaan yang dialaminya kepada TI ibu kandungnya. TI telah memberikan Laporan Polisi Nomor : LP/02/I/2017/SEK.SAMBI RAMPAS tertanggal 18 Januari 2017 lalu.

Segera setelah mendapat laporan Kapolsek Sambi Rampas M. Ali Mansyur bersama tim bergerak cepat dengan melakukan penangkapan dan penahanan terhadap pelaku.

Adapun pelakunya adalah ayah kandungnya sendiri yaitu Fiktor Adut (47) yang beralamat di Kampung Bong, Desa Compang Congkar, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur.

Fiktor sendiri dilahirkan di Ngkiong, Desa Ngkiong Dora, Kecamatan Poco Ranaka, 47 tahun silam. Pada tahun 1997 Fiktor datang ke Congkar untuk berjualan pakaian. Di Congkar Fiktor bertemu TI dan menjalin hubungan perkawinan. Meskipun belum nikah secara sah, dari perkawinan Fiktor dan TI melahirkan tiga orang anak di antaranya AD.

Pertama kali Fiktor Adut (47) melakukan perkosaan terhadap anak kandungnya AD di belakang sebuah pondok di pinggir jalan raya di Kampung Pilor, Desa Golo Ngawan, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur pada hari Selasa tanggal 18 Oktober 2016 sekitar pukul 20.00 wita.

Fiktor bersama AD pergi ke Kampung Ngkiong, Poco Ranaka Timur hendak menjemput nenek AD dengan menggunakan sepeda motor.  Sesampainya di Kampung Pilor, Desa Golo Nawang dekat sebuah pondok Fiktor memberhentikan dan mematikan motornya dengan alasan kampas kopling motor habis. Dengan menggunakan obeng Fiktor mengancam AD agar mau mengikuti keinginan bejatnya.

Perkosaan kedua dilakukan Fiktor di pinggir jalan raya dalam kawasan hutan Watu Cie, Desa Nggalak Leleng, Kecamatan Poco Ranaka,  Kabupaten Manggarai Timur, pada hari Kamis tanggal 20 Oktober 2016 sekitar pukul 17.00 wita. Di tengah perjalanan kembali ke Congkar setelah menghantar nenek AD di Ngkiong, Fiktor memaksa AD melayani aksinya. Fiktor mengancam AD untuk tidak memberitahukan hal ini kepada mama, nenek dan pamannya.

Yang ketiga terjadi di dalam kebun Rombi, belakang Kampung Congkar, Desa Compang Congkar. Fiktor memaksa AD ikut bersamanya pergi mencari kayu balok. Mulanya AD tidak mau, namun setelah dipaksa dengan menggunakan parang akhirnya AD pun terpaksa ikut kemauan Fiktor. Sesampainya di kebun Rombi, Fiktor melaksanakan aksinya. Setelah hasrat Fiktor terpuaskan, Fiktor menyuruh AD kembali ke rumah.

Satu minggu berselang, kembali Fiktor melakukan perkosaan terhadap AD di dalam semak-semak cabang Waling, Poco Ranaka. Saat itu Fiktor dan AD dalam perjalanan pulang dari Borong dengan menggunakan sepeda motor.

Perkosaan kelima terjadi di kolong jembatan Wae Ninong, Kampung Ngkiong, Desa Ngkiong Dora, Kecamatan Poco Ranaka. Mulanya AD menolak, namun Fiktor menarik AD ke bawah kolong jembatan. AD dipaksa melayani nafsunya setelah sebelumnya diancam akan dibunuh dengan menggunakan parang. Di tengah perjalanan kembali rumah ke Congkar, Fiktor mengancam AD jika AD memberitahukan hal ini kepada mama dan pamannya AD akan dibunuh dengan parang, akhirnya AD pun diam saja.

Ketika dihubungi Florespost.co, Fransikus Ramli, S.H. selaku Penasihat Hukum yang ditunjuk sebagai Penasihat Hukum tersangka Fiktor oleh Polsek Sambi Rampas membenarkan kejadian tersebut. Fiktor sendiri tidak mau didampingi didampingi Pengacara, namun karena ancaman hukumannya berat yaitu di atas 5 tahun penjara, maka atas perintah undang-undang Penyidik wajib menunjuk Pengacara. Kebetulan Polsek Sambi Rampas menunjuk saya sebagai Pengacara, kata Ramli.

“Saya menyampaikan rasa turut prihatin kepada korban AD atas kejadian tersebut dan berharap tidak ada lagi kejadian serupa di kemudian hari”, tambah Ramli.  (Ardi Nembok/Florespost.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here