Beranda Opini Pilkada DKI Satu Putaran : Yon Lesek

Pilkada DKI Satu Putaran : Yon Lesek

1.095 views
0
Yon Lesek, Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan kolumnis sebuah media online di Jakarta (Foto : Yon/Florespost.co)

Ruteng, Florespost.co – Pilkada DKI Jakarta tinggal menghitung hari. Suhu politik kian meningkat saat mendekati hari H (15/2). Masing-masing pasangan calon beradu taktik dan strategi guna meraup suara sebanyak-banyaknya dari para calon pemilih.

Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan kolumnis sebuah media online di Jakarta Yon Lesek, ketika dihubungi oleh Florespost.co melalui surat elektronik mengatakan bahwa jika tiga paslon DKI ini bersaing sehat seperti sedari awal, yakin Ahok bisa menang satu putaran.

Menurut Yon, Ahok punya massa pendukung yang konsisten karena rasional dan operasional. Rasional terlihat dari jumlah KTP yang terkumpul lebih dari satu juta. Tentu ada pemilih Ahok yang rasional ini yang tidak sempat memberikan KTPnya dan jumlahnya banyak. Pasti pemilih ini konsisten dan akan coblos no 2. Selain itu, ada pemilih yang operasional di lapangan, bagian dari penikmat kerja Ahok selama periode pertamanya sebagai Gubernur DKI. Mereka ini termasuk kelompok pemilih silent majority AHOK, seperti para pekerja penyapu jalan, pembersih sungai, pns yang merasakan manfaat kinerja AHOK untuk DKI dan mayoritas non Muslim di DKI.

“Kemungkinan dua putaran hanya bisa terjadi jika ada kongko-kongko antar paslon Ahy-Sylvi dan Anies-Uno, di mana demi asal bukan Ahok, salah satunya legowo mundur secara konstitusional dengan mendorong para pendukungnya untuk mencoblos no 1 atau 3”, kata Yon.

Jika ini terjadi, lanjut Yon, kemungkinan yang legowo paslon AHY-Sylvie. Implikasinya, suara melonjak naik ke paslon Anies-Uno. Pola kedua ini tidak seratus persen efektif karena waktunya terlalu mepet untuk sosialisasi ke bawah dan atau tidak semua pemilih pendukung masing-masing paslon legowo untuk itu. Sebagian akan pindah ke Ahok karena akan dinilai Ahok lebih konsisten dan tulus ketimbang dua paslon lain yang tampak sekali menghalalkan segala cara untuk menjegal Ahok, bukan demi DKI yang lebih hebat.

Pola kedua memungkinkan dua putaran, kata Yon. Ada sinyal cukup kuat untuk ke sana. Hanya waktu yang bisa menghentikannya dan egoisme serta akal waras pemilih setia masing-masingnya yang menghentikan langkah ini.

Satu hal yang kita amati untuk meyakinkan pilkada satu putaran, terlihat selama masa kampanye, pendukung Ahok ini real pemilih DKI, bukan urbanisasi massa, bukan pula anak-anak di bawah usia pilih. Warga yang dikunjungi Ahok itu berdatangan bahkan membeludak bukan karena dimobilisasi atau disetting seperti kampanye paslon lain. Mereka terlihat tulus dan antusias, jelas Yon.

“Hanya, mereka takut memperlihatkan diri secara tegas di depan umum sebagai pemilih Ahok karena intimidasi bernuansa sara yang amat sangat kuat dimainkan di tengah warga. Kebebasan akan mereka dapatkan hanya di bilik suara pada 15 Februari 2017”, pungkas Yon. (Yos Syukur/Florespost.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here