Beranda Headline Demokrat Merapat, Prahara di Kubu Paslon Anis-Sandy : OPINI

Demokrat Merapat, Prahara di Kubu Paslon Anis-Sandy : OPINI

2218
0
Yon Lesek / Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan kolumnis sebuah media online, tinggal di Jakarta (Foto : Yon/Florespost.co)

Demokrat Merapat, Prahara di Kubu Paslon Anis-Sandy

Penulis : Yon Lesek*

Nah, ketika Partai Demokrat merapat ke kubu Anis-Sandy, pertarungan yang sudah mengarah ke perseteruan itu pun akan terus berlanjut, bahkan semakin besar dan luas karena mau tidak mau melibatkan Anis-Sandy di dalamnya.

Semakin jelas sudah ke mana kubu AHY-Sylvie, dalam hal ini merujuk ke Partai Demokrat, menambatkan hatinya yang galau setelah tersingkir dengan angka yang telak dengan perolehan 17% suara pada putaran pertama pilgub DKI. Hal itu diutarakan oleh juru bicara tim pemenangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Roy Suryo.

Melalui pakaian yang dikenakan saat mendatangi forum diskusi Sindotrijaya Network bertajuk ‘Spesial Pilkada’ di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (18/2/2017), Roy Suryo menyiratkan pesan dukungan untuk Anies-Sandi di putaran kedua Pilgub DKI.

“Saya tak ingin jawab dengan kata-kata, terjemahkan dengan baju saya ini. Itu sudah sangat jelas,” kata Roy yang memakai baju putih sembari tertawa.

Pesan Roy Suryo politisi Demokrat ini dalam nada tawa menyiratkan dampak serius menghantam kubu pemilih Anis-Sandi bahkan lebih cenderung membawa prahara.

Mengapa?

Pertama, sesuatu yang serius dihadirkan secara tidak serius akan memperlemah keseriusan pesan yang disampaikan dan menyiratkan arogansi di balik itu.

Kubu AHY-Sylvie merasa diri super, seolah-olah dua paslon lain yang akan berlaga di leg kedua pilgub DKI ini harus menimang-nimang dalam pengharapan besar akan kemurahan hati paslon No 1. Bahasa medsosnya sering terucap, paslon dua dan tiga harus menyembah-nyembah dengan termehek-mehek minta dukungan untuk merapat ke kubunya. Ini namanya ‘biar kalah asal sombong’.

Respons seperti ini akan kontraproduktif bagi paslon yang didekatinya. Sebab, di dalam tubuh pemilih Anis Sandi pada putaran pertama, berlabuh banyak pemilih yang antipati pada Demokrat mengingat sepak terjang mereka yang licik dan penuh intrik menjelang hari pencoblosan 15 Februari lalu.

Terlebih isu korupsi yang marak diangkat ke permukaan hingga menghantam dan membuat merah muka sang pendiri Demokrat sendiri, SBY. Disinyalir, suara yang pindah ke paslon No 3 itu adalah sebagian besar pemilih yang antipati pada SBY dan Demokrat ini, paling tidak tak menemukan harapan pasti yang akan dibawa AHY-Sylvie mengingat konstelasi di balik layar.

Kedua, Demokrat selalu hadir sebagai Partai yang punya daya dominasi yang kuat, sebagai salah satu partai besar di NKRI ini. Dari tubuh Demokrat terlahir Presiden ke enam RI, yang berhasil memimpin selama dua periode yang menuai banyak kritik karena KKN yang menggurita. Ketergabungan Partai besar ini pada leg kedua pilgub DKI mengecilkan pengaruh dan ekspektasi pemilih pada prestasi dan daya tarik dua partai pendukung Anis-Sandy lainnya. Pemilih DKI akan merekam dalam hati dan pikirannya bahwa Paslon No. 3 berselingkuh dengan lingkaran Cikeas untuk merawat lupa akan banyaknya kasus yang harus diangkat ke permukaan. Akan dibaca sebagai alat politis untuk mengamankan Demokrat dan lingkaran Cikeas, sementara itu Gerindra dan PKS sebagai pengusung pertama dan utama tidak lagi diperhitungkan pemilih.

Bukan tidak mungkin akan menimbulkan friksi internal partai pendukung Anis-Sandy memasuki pencoblosan putaran kedua yang akan berlangsung pada 19 April 2017 nanti.

Ketiga, sulit untuk percaya bahwa 17% suara pemilih AHY-Sylvie akan mengikuti apa saja arahan Demokrat dan AHY sendiri. Bahkan anggota Partai Demokrat sendiri di dalam internal mereka ada perbedaan sikap dan pendapat. Ada yang mengikuti arahan pimpinan Partai, tak sedikit pula yang ingin agar anggotanya bebas tak terikat untuk memilih siapa saja yang dikehendakinya, entah ke Anis-Sandy ataukah ke kubu Ahok-Djarot.

Mereka yang menginginkan kebebasan umumnya yang tidak mau terikat untuk memilih Anis-Sandy sesuai arahan partai. Peluang untuk direbut hatinya oleh kubu Ahok-Djarot.

Last but not least, putaran pertama amat sangat terasa pertarungan sengit bahkan cendrung tensi tinggi antara kubu Ahok-Djarot dan AHY-Sylvie. Sementara kubu Anis-Sandi sedikit sekali mendapat tekanan, terutama dari nitizen yang bersuara liar di medsos dan juga dari aparat penegak hukum dan polri. Bahkan sampai melibatkan Jokowi, Presiden kita, yang menjadi rival SBY dalam banyak kasus.

Nah, ketika Partai Demokrat merapat ke kubu Anis-Sandy, pertarungan yang sudah mengarah ke perseteruan itu pun akan terus berlanjut, bahkan semakin besar dan luas karena mau tidak mau melibatkan Anis-Sandy di dalamnya.

Bukankah prahara yang didapat alih-alih mendulang suara lebih banyak dan simpatisan yang lebih besar ? Bermain air, basah. Bermain api, terbakar. Dengan siapa kita bermain, tidak terelakan akan kena dampaknya.

Jakarta, 19 Februari 2017

*Sebagai Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan kolumnis sebuah media online, tinggal di Jakarta.

(Isi tulisan di luar tanggung jawab kami – Redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here