Beranda Headline Ivan Nestorman Itu Musisi Hebat : Lagu Mogi, Award, dan Musik Neo...

Ivan Nestorman Itu Musisi Hebat : Lagu Mogi, Award, dan Musik Neo Tradisi – PROFIL

2160
1
Ivan Nestorman / Musisi asal Ruteng, Flores, NTT, tinggal di Jakarta (Foto : Ivan/Florespost.co)

Ivan Nestorman Itu Musisi Hebat : Lagu Mogi, Award dan Musik Neo Tradisi

Penulis : Armin Bell

 

Ivan Nestorman Itu Musisi Hebat

Ini adalah catatan yang berisi apresiasi saya atas karya Ivan Nestorman di blantika musik negeri ini. Saya mengenalnya melalui tahapan biasa; mendengar lagunya, menggemari karyanya, berkenalan dengannya, bekerja sama di beberapa iven. Ivan Nestorman itu musisi hebat! 

Siapa Ivan Nestorman ?

Tidak banyak seniman yang mengambil bagian penting dalam perjalanan saya selama ini. Saya tidak sangat menyukai musik pop, saya tidak sangat menyukai sinetron, saya tidak sangat menyukai film kolosal (apalagi kalau itu produk dalam negeri, karena sering digarap setengah hati); tetapi saya menikmati beberapa lagu pop, menonton beberapa sinetron dan sangat terkagum-kagum pada pengambilan gambar dan musik pada film Troy. Lalu, beberapa yang sangat saya sukai biasanya ditanggapi dingin dan setengah hati oleh orang-orang di sekitar saya.

Ketika berapi-api bersemangat membara bercerita tentang betapa saya sangat menyukai Sting -Lelaki Inggris di New York itu- tidak banyak yang berhasil saya paksa masuk dalam cerita. Demikian pula ketika saya mengagumi episode-episode awal sinetron TERSANJUNG (ini karena Lulu Tobing selalu cantik bahkan ketika dia menangis), tidak banyak yang larut dalam kekaguman saya. Tapi saya tidak kecewa. Selera, toh, adalah satu-satunya hal yang tidak boleh diperdebatkan di dunia fana ini.

Maka ketika belasan tahun silam di Malang saya bercerita tentang Ivan Nestorman dan ditanggapi sepi oleh kawan-kawanku sekalian, tidak lantas membuat saya berhenti mengaguminya. Kekaguman pertama adalah karena dia adalah orang Manggarai pertama yang saya tahu berhasil bekerja sama dengan penyanyi-penyanyi terkenal di Indonesia. Franky Sahilatua, Chrisye, Andre Hehanusa adalah tiga nama yang di era itu luar biasa kerennya. Dan Ivan mengambil bagian pada proses kreatif mereka. “Hebat ini orang!” kata saya ketika itu dan berharap suatu saat bisa bertemu dan foto bareng dengannya, untuk melengkapi kebanggaan saya setelah sebelumnya menikmati kebanggaan lain: Kami sama-sama orang Manggarai.

MP3 belum se-terkenal sekarang kala itu. Agak sulit mencari lagu-lagu Ivan yang lain. Saya pernah dengar cerita, orang Nekang ini punya full album berjudul Embong, tetapi saya tidak dapat -album ini digarap dan didistribusi dengan konsep indie. Maka pilihan terbaik saat itu adalah terus menyanyikan lagi E Wada dari album Perahu Retak-nya Franky Sahilatua. Maka menyanyilah saya di beberapa kesempatan: Eeee… Ité kali ngara’n awang agu tana buru agu waé… Ité kali ata ba le léké tiwu léwé dan sebagainya dan sebagainya sampai di refrein: é wada é wada é wada cau’le Mori Mésé. Sanggé’d oné lino de Mori’n dé ngara’n ta… Itu belasan tahun silam.

Pada masa itu sampai kini, Ivan Nestorman terus berkarya sesubur-suburnya. Musik tema untuk iklan digarapnya dengan agung. Albumnya bersama Nera (Gilang Ramadhan dkk.) menuai pujian dari kritikus musik dan berhasil meraih penghargaan. Album internasional dengan balutan etnik diluncurkannya bersama Andy Bayou dan bersama Dwiki Dharmawan. Orang Manggarai ini semakin besar dan semakin bertambah hormat saya padanya, dan semakin kecil peluang untuk bertemu apalagi berfoto bersama.

Untunglah, zaman punya bahasanya sendiri dan setiap saat semakin memudahkan. MP3 menjadi lancar piras. Saya telah di Manggarai ketika itu. Koleksi lagu-lagunya semakin banyak di komputer, flashdisk dan handphone. Dia bersaing dengan Sting di playlist saya. “Luar biasa orang ini!” kata saya lagi sambil tetapi berpikir mudah-mudahan dia suatu saat manggung di Ruteng dan saya bisa melihatnya live–niat dari foto bareng diturunkan menjadi hanya sekedar lihat, berhubung sang idola sudah semakin hebat.

Dan tra la la tri li li… Ketika Pesta Emas Seminari Kisol, beliau datang. Saya juga ikut. Ini kesamaan pertama yang membuat saya tambah berbangga. Saya yang bukan siapa-siapa dan Ivan Nestorman yang adalah seniman hebat itu sama-sama pernah di seminari. Kami sama-sama pernah disebut: Seminari Tompok!

Sejak itulah saya mengenal Ivan bukan hanya dari karyanya tetapi in person, sampai suatu ketika saya ditelfon dan dimintai bantuan untuk mengurus konsernya di Ruteng. WHAT???!!!???!!! Ditelefon oleh penyanyi hebat yang karya-karyanya kau sukai, itu seperti ditelefon oleh seorang Imam yang bilang, “Hei… Armin, dosamu telah diampuni!” Ada rasa lega sekaligus cemas yang sulit dijelaskan dengan bahasa yang singkat. Begitulah… Natal 2011 dia datang berpasukan lengkap, musisi-musisi hebat yang selama ini bersama Ivan berkarya di ibukota. Sejak itu, saya mendadak menjadi keren karena sering berkomunikasi dengan musisi hebat. Lihat? Efeknya sedahsyat itu. Jadi ‘temannya’ Ivan Nestorman itu sesuatu tu’ung, karena saat itu penggemarnya di Manggarai Raya semakin banyak. YES! SAYA KEREN!

Sederhana, ramah, suka melucu, itu kesan yang saya lihat dari seluruh obrolan kami. Terbuka, jujur, penuh ide, itu kesan lainnya. “Ini orang memang komplit sudah!” pikir saya. Dan benar, Ivan Nestorman itu musisi yang komplit. Sebagai seniman, sebagai orang Manggarai, sebagai orang Flores dan sebagai orang NTT. 

Tahun ini saya ditelefon lagi. “Bisa bantu ka? Tolong cari orang-orang yang bisa main teater ta, kita mau pentas di Labuan Bajo é, dalam rangka Sail Komodo,” kata Ivan di suatu hari Minggu. Lihatlah kalimat itu sekali lagi. “Bisa bantu ka?” Itu jelas sesuatu. Ivan tahu saya penggemarnya dan seharusnya dengan bilang: “Kau cari yang bisa main teater” saja sudah cukup membuat saya bekerja. Tetapi tidak, dia, seniman besar itu dengan santun meminta bantuan. Dan ini baris ajaib lainnya pada kalimat itu: “Kita mau pentas di Labuan Bajo!” Ho ho ho ho ho…. ini Ivan Nestorman saudara-saudari, dan dia bilang ‘KITA’. Itu artinya saya akan pentas satu panggung dengannya. Maka seperti orang yang ditanyai Pastor saat janji pernikahan, saya langsung bilang: YA, SAYA BERSEDIA! meski saya tidak tahu apa yang terjadi setelah jawaban itu dikeluarkan, seperti juga kau tidak banyak tahu apa yang kau hadapi saat pernikahan setelah mengucapkan janji itu di hadapan Tuhan.

Minggu kemarin dia berkunjung ke Ruteng, melihat persiapan kelompok teater kami, duduk bersampingan dengan saya dan ngobrol. O la la la… ini benar-benar luar biasa. Ivan Nestorman itu pencerita yang hebat. Selain bercerita lewat lagu dan naskah teater berjudul Ora The Living Legend yang akan kami pentaskan di hadapan presiden di Labuan Bajo itu, dia juga bercerita banyak tentang proses dia mempersiapkan diri untuk ajang tahunan bernama Sail yang kali ini mengambil pusat di Labuan Bajo. Dia berbagi banyak hal dalam obrolan yang tidak terlampau lama. Ivan memberi usulan dengan cara yang sama baiknya ketika dia mendengar usulan saya.

Dari sekian banyak interaksi, saya tahu dia mencintai daerah ini, terutama kesenian dan para senimannya, lebih dari siapapun yang pernah saya tahu dan mengaku mencintai tradisi. Paling tidak itu yang saya tahu. Kami tidak banyak bicara tentang berapa duit yang akan diperoleh dari acara ini, tetapi tentang apa yang kita buat agar Sail Komodo tidak malu-maluin. Ini seni-nya, seorang artis tidak berpikir tentang kesejahteraan pribadi, ketika dia berhadapan dengan pilihan: bagaimana daerahnya dikenang sebagai daerah yang hebat! Itu yang lalu saya bagi kepada kawan-kawan di komunitas teater kecil kami. Mengambil contoh kecil dari seniman hebat tentang apa yang sudah sejak lama didengungkan pendiri negeri ini: mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Luar biasa. Pelajaran itu mewujudnyata pada seorang seniman dan tidak banyak terlihat pada para pejabat. Mungkin baik kalau suatu saat negeri ini dijalankan oleh seniman. Dan saya semakin menghormatinya; Ivan Nestorman yang hebat itu, terutama karena dia menghormati semua orang, dan tentu saja karena karya-karyanya selalu membuatnya layak dihormati. Sampai di sini saya bernyanyi: Kawé mosé naang bara wéras wini lau lau… tegi agu Mori’n kudut jari koé’s todo’t tai…. O o u o…. dari lagunya yang berjudul Sendo Te Lebos (Izinkan Mereka Tumbuh Subur). 11 September kami akan berkumpul di Labuan Bajo dengan seniman-seniman NTT dari Jakarta, dengan Gilang Ramadhan dan akan pentas tanggal 14 September 2013, pada puncak Sail Komodo. Presiden akan nonton. Mantap to? “^_^/

Ivan Nestorman, Lagu Mogi, Award dan Musik Neo Tradisi

“Saya memang pengen mempopulerkan Flores…,” kata Ivan setelah tampil dalam acara Sound From The East di Jakarta pada tahun 2012 silam. Beberapa tahun kemudian Ivan masuk nominasi AMI, Anugerah Musik Indonesia untuk lagu Mogi pada kategori Folk Song.

Sesungguhnya tentang Ivan dan keinginannya mempopulerkan budaya Flores, tidak hanya dia ceritakan pada tahun 2012 itu. Jauh sebelum Antara merilis pernyataannya, Ivan sudah menyanyikan lagu-lagu Flores baik yang ditulisnya sendiri mau pun hasil aransemen atas lagu-lagu folk. Tahun 2007, Ivan bahkan sudah meraih sebuah penghargaan bergengsi di SCTV Music Awards yakni, The Most Innovative Recording.

Saat itu, bersama Nera (Gilang Ramadhan, Adi Dharmawan, dan Donny Suhendra), sebuah album yang pada zamannya dianggap sangat ambisius diluncurkan; lbum yang berisi lagu-lagu dalam bahasa Manggarai tetapi mengusung warna musik yang oleh Ivan sendiri kala itu disebut progressive pop. Sejak itu, publik musik mengenalnya sebagai penyanyi yang selalu menyanyikan lagu-lagu Flores–meski tentu saja Ivan juga membuat komposisi dalam bahasa daerah lain, Indonesia, dan Inggris atau penggabungan dua atau tiga bahasa dalam satu komposisi. Jauh sebelumny, orang Manggarai (tempat Ivan Nestorman berasal) telah mengenalnya melalui lagu-lagu seperti Ise Sio, Deng Towe Songke, Embong, Ngkiong Le Poco, dan lain-lain.

Perjalanan panjangnya di dunia musik memasuki babak baru tahun 2016 silam. Ayah tiga anak ini, melalui lagu yang mengambil nama istrinya sebagai judul–lagu tersebut diciptakan karena dan untuk cintanya pada Katarina Mogi, istrinya–Ivan Nestorman masuk dalam daftar nominee Anugerah Musik Indonesia atau AMI. Lagu Mogi ada di daftar calon penerima award bersama beberapa lagu lain hasil karya anak bangsa. Mogi ada di nominasi penerima penghargaan untuk kategori produksi folk terbaik, bersama Adhitia Sofyan “Find Who You Are”, Ari Reda “Di Restoran”, Junior Soemantri “Merindumu”, dan Sarah N’ Soul – “I Don’t Wanna Know“. Aditya tampil sebagai penerima award saat itu.

Ivan Nestorman tentang Award dan lagu Mogi yang Merakyat

Beberapa saat sebelum AMI Award berlangsung (28 September 2016), Ivan Nestorman menulis status facebook yang menjelaskan bahwa baginya menjadi nominator adalah salah satu bentuk kesuksesan. Dia juga mengucapkan selamat kepada teman-temannya yang juga masuk dalam daftar nominator saa itu, sepert Dwiki Dharmawan, Vicky Sianipar, Once Mekel, Andy Bayou, Indro, dan Sopana Sokya, nama-nama yang selama ini dikenal dekat dan pernah ada dalam satu produksi bersama Ivan.

Tentang bagaimana lagu Mogi ada di AMI Award itu, Ivan menulis demikian: “Mogi pun menjadi nominasi untuk kategori folksong. Soal folksong atau tidaknya lagu-lagu dalam ketegori ini adalah hak para juri, namun saya secara pribadi senang sekali Mogi dikategorikan serupa itu. Betapa tidak dalam 5 tahun terakhir ini saya selalu mementaskan folksong baik di Indonesia maupun berbagai belahan bumi ini termasuk lagu Mogi. Saya melihat Mogi mempunyai peluang di masa datang menjadi folksong, lagu rakyat. Sekarang ini masih sebuah lagu yang merakyat.”

Mogi memang lagu yang kini dikenal sangat luas. Di NTT, lagu ini dinyanyikan oleh semua kalangan dari berbagai tingkatan usia. Di Manggarai sendiri, lagu Mogi telah menjadi seperti anthem. Begitu terkenalnya lagu ini sampai ada juga penyanyi yang nekat membajaknya, merekam ulang, mengedarkannya sendiri, dan menuai pujian karenanya; sayang dalam versi itu liriknya dinyanyikan dengan salah. Tetapi lagu Mogi ini memang telah begitu terkenal. Di Ruteng, dan sebentar lagi akan sampai ke daerah-daerah lain, sudah diciptakan sebuah line dance baru. Line dance itu diberi nama Mogi. Ivan Nestorman dan Katarina Mogi barangkali tidak tahu apa-apa tentang line dance. Tetapi bahwa Mogi dinyanyikan dalam setiap kesempatan di NTT, Ivan berkomentar: “Keberuntungan bagiku adalah lagu Mogi bertakhta dalam hati orang NTT. Mereka menyanyikannya dengan versi masing-masing dalam pesta, dalam acara apa saja, menghadirkan kegembiraan bagi banyak orang sekaligus memberi berkat bagi mereka yang membawakannya.”

Kebahagian bermusik menurut Ivan Nestorman tidak lagi tentang trophy yang diraih pada sebuah program anugerah penghargaan, tetapi bagaimana karyanya diapresiasi. Dalam catatan yang sama menjelang AMI Awards 2016 itu, Ivan menulis tentang trophy adalah bonus.

“Ketika tahun 2007 lalu NERA masuk nominasi sekaligus beruntung mendapat trophy SCTV Award untuk The most Innovative Recording, saya bahagia karena lagu-laguku diapresiasi. Saya tidak suka menggunakan istilah kalah atau menang untuk musik (kayak tinju saja). Semua yang telah masuk nominasi pasti yang terbaik. Trophy hanya bonus saja,” tulisnya.

Rasanya, pernyataan itu adalah sebuah penjelasan bahwa dalam berkarya Ivan Nestorman tidak melakukannya untuk penghargaan dalam bentuk piala. Piala hanya bonus, karena, “Jika kalian suka akan lagu-laguku, karya-karyaku, itulah trophy yang sesungguhnya bagiku,” tulis Ivan Nestorman sambil tidak lupa menambahkan “Salam Neo Tradisi” di akhir catatannya.

Neo tradisi adalah aliran yang diusung Ivan Nestorman kini. Situs bentara budaya saat mempromosikan sebuah kegiatan yang Ivan terlibat di dalamnya menulis, menurut musiknya Ivan Nestorman beraliran Neotradisi, di mana ia mengadopsi ritme Flores dengan ekspresi baru yang memperdulikan rasa kekinian dan terasa relevansi universalnya. Sedangkan flavornya akan dijumpai berunsurkan Jazz, etnis dan tropis.

Ivan memulai karir etnis pada 28 November 1995 semenjak tampil membawakan karya berbahasa Flores di sebuah stasiun TV, hingga 20 tahun kemudian. Sebelumnya Ivan memainkan lagu bernuansa Brazil dan juga Jazz standar. Berkat bermain musik etnis, Ivan bisa pentas di USA, Negara Eropa, Afrika, Timur Tengah, Asia dan Australia. Selain bersolo Ivan bergabung dalam Komodo Project, Band Nera bersama Gilang R dkk.

Dalam upaya memperkenalkan Manggarai, Flores, dan NTT kepada dunia, Ivan Nestorman kini membangun Nestornation, sebuah artist management yang di dalamnya bergabung seniman-seniman dari NTT dan kawasan timur Indonesia. Karya mereka bisa dinikmati di Channel Youtube Nestornation. Sampai saat ini ratusan lagu telah Ivan Nestorman ciptakan, dan sebagian besar telah menjadi lagu wajib di beberapa tempat. Ivan juga menjadi musisi yang memberi pengaruh besar pada perkembangan apresiasi atas seniman di NTT. Salute!

Salam

Armin Bell

Ruteng, Flores

Sumber : Armin Bell / Blog Armin Bell

Silahkan kunjungi Personal Blog Armin Bell : www.ranalino.id

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here