Beranda Opini Opini – Manggarai Timur 2018 : Membidik Pemimpin Terbaik

Opini – Manggarai Timur 2018 : Membidik Pemimpin Terbaik

977
1
Yon Lesek / Sebagai Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan kolumnis sebuah media online, tinggal di Jakarta. (Foto : Yon/Florespost.co)

FLORESPOST.CO :

Manggarai Timur 2018 : Membidik Pemimpin Terbaik

Penulis : Yon Lesek*

Empat lensa bidik di atas perlu dielaborasi lagi lebih rinci dengan harapan bisa menjadi alat bidikan kita yang tepat dalam menentukan pemimpin yang unggul demi Manggarai Timur yang lebih baik. Tinggalkan lensa pandang primordial dan primitif.  Mari, jadilah pemilih yang cerdas.

Kerinduan akan pemimpin baru yang lebih baik berdegub kencang di kalbu rakyat Manggarai Timur saat ini.  Ya,  bukan hanya rakyat Manggarai Timur saja sebenarnya,  tapi ini sudah keinginan zaman,  untuk setiap perhelatan pilkada. Dengan kesadaran ini, Pilkada tidak lagi sebagai acara rutin lima tahunan,  tetapi kesempatan emas untuk menghadirkan sosok pemimpin terbaik yang diharapkan banyak orang, bukan pemimpin bekas yang tidak pantas.

Baca juga : Terkait Pilgub NTT 2018, NTT Butuh Potong Generasi, Kata Boni Hargens

Jangan Sampai Salah Pilih

Tidak salah lagi kalau dikatakan bahwa pilkada kini menjadi momen krusial menemukan pemimpin terbaik.  Kalau salah pilih,  bebannya kita pikul lima tahun. Siapa yang salah ?

Satu sisi, kita bisa menyalahkan paslon yang maju bertarung karena tidak tahu diri kalau ada cacat cela dan kelemahan di dalam dirinya.  Atau karena terlalu pede sehingga lupa diri gara-gara digadang ambisi jabatan dan nafsu untuk melanggengkan dinasti kekuasaan. Kita berharap paslon yang maju bersaing perlu introspeksi diri terlebih dahulu.

Baca juga : Boni Hargens dan Problem Kepemimpinan NTT : Opini Alfred Tuname

Sisi lain, yang patut disalahkan adalah rakyat yang memilihnya.  “Siapa suruh pilih dia ?  Rasakan sendiri sudah,” begitu celoteh kita setelah sudah terlanjur basah dipimpin oleh pemimpin yang tidak becus. Banyak sudah pengalaman dari salah memilih pemimpin seperti ini.  Semoga kali ini tidak terulang.

Pengalaman berdemokrasi langsung dalam memilih pemimpin mau tidak mau menghadirkan kesadaran yang semakin tajam di dalam diri rakyat untuk lebih cerdas membidik dan memilih pemimpinnya. Maka tidak bisa tidak rakyat harus ikut terlibat dalam penggodokan calon pemimpin saat ini, apalagi sangat didukung oleh kemajuan teknologi komunikasi yang terus canggih.  Semua punya ruang dan kesempatan untuk bersuara walau lewat medsos seperti fb,  twitter, dsb.

Baca juga : Opini : Menghasilkan Pilkada Yang Berkualitas

Aras Bidik Pemilih Cerdas

Saya pun tidak mau ketinggalan untuk ikut membidik bersama paslon pemimpin Manggarai Timur untuk lima tahun ke depan.  Dari paslon yang beredar sekarang,  tampaknya kita tidak asing lagi dengan mereka,  karena semuanya bekas.

Ada yang bekas pejabat,  bekas birokrasi,  bekas guru,  dsb.  Sebagian juga adalah sosok yang sudah meninggalkan bekas karya di tempatnya masing-masing. Maka sudah pasti rekam jejak harus ditelusuri lebih jeli dan kenyataan siapa paslon itu sesungguhnya dibiarkan terkuak ke permukaan sehingga semuanya transparan. Ini tugas kita semua dalam dialektika mencari pemimpin yang unggul.  Jangan dihalang-halangi apalagi dimusihi bila dalam proses penggodokan calon ini timbul perbedaan pendapat. Kita perlu belajar bersama untuk semakin dewasa dalam berpolitik dan berdemokrasi.

Baca juga : NTT 1, Tokoh Muda atau Tokoh Tua ? Pro Kontra Boni Hargens

Lupakan keluarga,  suku,  agama,  ras,  sentimen wilayah dan primordial kalau mau jujur dengan kerinduan hati untuk mendapatkan pemimpin yang terbaik nantinya.  Jika kita masih berkutat dengan pertimbangan primordial yang cenderung infantil dan primitif ini,  sampai lebaran kuda tak bakalan kita bisa menghadirkan sosok pemimpin unggul.

Perhelatan Pilkada DKI saat ini menjadi contoh terbaik untuk kita belajar dari kelebihan dan kekurangannya.  Ahok-Djarot yang pada putaran pertama unggul,  bukanlah orang asli Jakarta.  Suku,  ras, agama,  dan rekam jejak politiknya juga berbeda-beda,  tetapi mereka punya hati nurani yang sama,  niat dan semangat kerja yang sama untuk menjadi pemimpin pelayan yang sepenuhnya untuk Jakarta yang lebih hebat.

Baca juga : Ciri-Ciri Paslon Pemimpin Berpotensi Korupsi yang Tidak Boleh Dipilih

Lensa Bidik Pemilih Cerdas

Pemilih cerdas,  inilah kuncinya, bukan pemilih promordial dan primitif.  Saya percaya rakyat Manggarai Timur sudah mengarahkan diri untuk menjadi pemilih yang cerdas itu.

Ada empat (4) hal yang menjadi dasar pertimbangan pemilih cerdas dalam menentukan pilihannya.

Pertamacerdas melihat kapasitas calon.  Kapasitas ini tidak masuk dalam kategori primordial dan primitif, tetapi melekat pada rekam jejak pendidikan dan karya paslon di bidangnya masing-masing.  Sangat melekat pada potensi pribadinya yang teruji. Kecerdasan bisa diuji dari pengalamannya.  Apakah calon pemimpin itu cerdas secara intelektual,  cerdas secara emosional,  cerdas secara sosial, cerdas secara spiritual,  cerdas dalam menyikapi perbedaan, cerdas dalam menemukan solusi bukan menciptakan masalah, apalagi bagian dari masalah, dsb.

Baca juga : Pilgub NTT 2018, Potong Generasi ? Ini Kata Christian Rotok

Kedua, pemilih cerdas membaca elektabilitas calon. Hal ini tidak bisa diabaikan walau kepastiannya akan dibuktikan setelah pencoblosan. Pemilih cerdas tentu tidak mau sekadar memilih pemimpin yang punya kapasitas memimpin,  karena dia juga mau agar calon unggulannya menang agar tidak sia-sia memilih.  Maka,  pertimbangan elektabilitas paslon juga menjadi perhatiannya. Pemilih cerdas akan melihat elektabilitas dari sisi komposisi suara wilayah pemenangan dan  karakter pemilih.  Pemilih kita yang tidak kurang banyaknya masih dipengaruhi ikatan emosional suku dan teritori calon,  tetap harus diamati dan bagian dari pertimbangan kita menjatuhkan pilihan.

Ketiga,  yang tidak kalah penting untuk tidak dikatakan yang paling prioritas dalam bidikan pemilih cerdas adalah integritas calon.  Sudah tuntutan zamannya kini seorang pemimpin harus punya integritas. Integritas artinya apakah calon tersebut bisa dipercaya? Apakah calon tersebut punya niat tulus untuk menjadi pemimpin pelayan yang mau total mengabdi ataukah hanya ambisi kekuasaan semata ? Apakah dia jujur dan adil,  ataukah ada bibit korupsi,  kolusi,  dan nepotisme di dalam sepak terjangnya selama ini ?

Dalam hal yang satu ini sikap kita harus tegas.  Jangan pilih pemimpin yang punya bibit korupsi,  kolusi,  dan nepotisme.  Ini serius.  Untuk kepentingan Manggarai Timur yang lebih besar,  bidiklah calon yang tidak ada bibit korupsi,  yang tidak tercium terkait masalah korupsi, sebab ini bahaya laten dan akar penghambat laju pembangunan.  Baca tulisan saya tentang hal ini: http://florespost.co/2017/02/10/ciri-ciri-paslon-pemimpin-berpotensi-korupsi-yang-tidak-boleh-dipilih/

Keempat,  pemilih cerdas melihat visi dan misi atau program kerja paslon.  Jangan mudah dikibuli oleh janji-janji palsu.  Sudah biasa di mana-mana para kandidat,  terlebih timses kandidat,  pandai bermain dengan retorika,  kata-kata manis penuh bujukan rayu,  jargon-jargon yang membius,  hanya untuk mendulang suara. Sulit untuk membedakannya karena terkadang hampir sama.  Tapi pemilih cerdas bisa melihat dari programnya,  apakah realistis, bisa dijalankan,  sesuai atau cocok tidak dengan kenyataan dan kebutuhan Manggarai Timur.  Jangan sampai hanya menjual mimpi menabur angan-angan.

Empat lensa bidik di atas perlu dielaborasi lagi lebih rinci dengan harapan bisa menjadi alat bidikan kita yang tepat dalam menentukan pemimpin yang unggul demi Manggarai Timur yang lebih baik. Tinggalkan lensa pandang primordial dan primitif.  Mari, jadilah pemilih yang cerdas.

Jakarta,  26 Februari 2017

*Sebagai Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan kolumnis sebuah media online, tinggal di Jakarta.

(Isi tulisan di luar tanggung jawab kami – Redaksi)

1 KOMENTAR

  1. Profisiat dan apresiasi pak Yon atas pikirannya yang terpublikasi di FloresPost , kiranya masyarakat Kab. Manggarai Timur semakin cerdas menilai dan memiliki 4 (empat) Hal yang melekat pada Calon Pemimpin yaitu:1/Cerdas melihat Kapaditas calon,2/Elektanilitas Calon,3/Integritas calon,4/cerdas melihat Visi dan Misi atau Program kerja calon. Jika ke 4(empat) pokok pikiran di atas melekat pada peribadi calon pemimpin maka Pemilik suara CERDAS harus mendukung karena kita mempunyai cita2 dan harapan yg luhur serta mulia utk Kesejahtraan Kabupaten Manggarai Timur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here