Beranda Headline Setelah Bertemu King Salman, SBY dan Jokowi ‘Ngopi Bareng’

Setelah Bertemu King Salman, SBY dan Jokowi ‘Ngopi Bareng’

288
0
Yon Lesek / Sebagai Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan kolumnis sebuah media online, tinggal di Jakarta. (Foto : Yon/Florespost.co)

Setelah Bertemu King Salman, SBY dan Jokowi ‘Ngopi Bareng’

Penulis : Yon Lesek*

Alhasil, walau Habib Rizieg tak digubris dan celoteh sindir penuh syiriknya berkeliaran di angkasa pucat, aksi dan reaksi atas kunjungan King Salman, sang penjaga Kabah dan pemilik tempat suci umat Islam ini membawa berkah, meneteskan hujan kedamaian, yang menurunkan ekskalasi politik tanah air.

Di tengah situasi dan kondisi sosial politik bangsa Indonesia mencapai klimaksnya, King Salman bin Abdulaziz al-Saud, Raja Arab Saudi ketujuh, Penjaga Dua Kota Suci umat Islam (Mekah dan Medinah), dan pemimpin Wangsa Saud saat ini,  bertandang ke Indonesia dengan mengikutsertakan 1500 pejabat.  Saat saya merajut pena ini, mereka sedang bertamasyah di Pulau Dewata, Bali.

Berita kedatangan King Salman menjadi viral, demikian pun setiap aksi bersama Sang Raja selalu mencuri perhatian. Mata manusia sejagat tak berkedip menatap dan melirik setiap peran dan aksi yang diperlihatkan selama tiga hari di Jakarta (1-3 Maret 2017).

Dua hal yang paling mencuri hati saya dari sejuta aksi yang memikat rasa dan nalar, yakni ketika King Salman menyalami Basuki Tjahaja Purnama, MM alias Ahok yang ikut menjemputnya di Bandara Halim Perdanakusuma dan ketika Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan beberapa petinggi partai berfoto ria di Gedung DPR bersama King Salman.

Aksi ini bagi saya lebih menarik dari pada inti pembicaraan Presiden Indonesia Joko Widodo dengan King Salman sendiri, di antaranya tentang memerangi terorisme dan radikalisme.  Juga tak bisa dikalahkan oleh adegan sisipan King Salman yang mencari cucu Bung Karno dan selanjutnya bersama Megawati, Sang Bunda, selfie bareng King Salman seusai perjumpaan singkat di istana.

Mengapa dua aksi ini jauh lebih menarik perhatian saya ?  Dua hal, pertama,  saat SBY berpose ria bersama King Salman,  Presiden kita yang cerdas ini,  Jokowi,  tidak ada di antara mereka. Sementara itu,  hal kedua yang menarik,  pada adegan awal cerita kedatangannya,  Ahok bersalaman dengan King Salman di hadapan Jokowi sendiri.

Apakah ini kebetulan atau sudah diskenariokan demikian ? Saya yakin, tidak ada yang kebetulan dalam kancah perpolitikan di mana para lakonnya adalah para elite politik handal yang sedang dalam ekskalasi tinggi. Bisa dipastikan semua ini bagian dari perhelatan pentas politik, dengan sutradara utamanya JOKOWI. Tidak salah kalau dikatakan Jokowi tiada tandingannya.  Ia tahu bagaimana membuka pintu bagi lawan-lawannya dan menguncinya kembali hingga merengek-rengek tak berdaya.

Simak saja cerita selanjutnya. Naskah skenario masih panjang,  cerita belum berakhir.

Pertemuan King Salman dengan SBY, Sang Presiden keenam RI dan Pendiri Partai Demokrat itu, hanya terjadi di Gedung DPR, dan tidak eksklusif. Sementara Ahok, yang disandera paksa sebagai terdakwa penistaan agama Islam, masih diberi ruang khusus untuk bertatap muka dengan King Salman, Sang Penjaga Tanah dan Tempat Suci Muslim. Di episode yang lain, King Salman bertemu para ulama lintas agama tanpa menghadirkan Imam Besar Habib Rizieg, Pemimpin Besar Front Pembela Islam (FPI) yang ngaku-ngaku kuturunan Arab dan isu burung bilang bahwa Habib Rizieg  adalah juga keturunan Nabi Muhammad SAW.

Commonsense masyarakat akan berbicara bahwa hal itu wajar-wajar saja karena Ahok adalah Gubernur DKI dan tuan rumah. Tapi menatap ekskalasi politik saat itu, di mana dalam konteks Pilgub DKI, nama SBY dan AHOK sedang menjadi bulan-bulanan, aksi bersama King Salman bukan sesuatu yang tanpa pesan, apalagi biasa-biasa saja. Sang sutradara sudah menuliskan skenarionya dengan baik dan matang.

Alhasil, walau Habib Rizieg tak digubris dan celoteh sindir penuh syiriknya berkeliaran di angkasa pucat, aksi dan reaksi atas kunjungan King Salman, sang penjaga Kabah dan pemilik tempat suci umat Islam ini membawa berkah, meneteskan hujan kedamaian, yang menurunkan ekskalasi politik tanah air. Hingga SBY dan Jokowi hari ini, 9 Maret 2017, ‘ngopi bareng,’ di Istana Presiden. Tapi skenario masih jauh dari ending. Kita nantikan episode selanjutnya.

Jakarta, 9 Maret 2017

*Sebagai Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan kolumnis sebuah media online, tinggal di Jakarta.

(Isi tulisan di luar tanggung jawab kami – Redaksi)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here