Beranda Diaspora Ada Maksud Terselubung Politisi dari NTT Datang Menggalang Massa di Jakarta

Ada Maksud Terselubung Politisi dari NTT Datang Menggalang Massa di Jakarta

514
0
Yon Lesek / Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan Kolumnis sebuah media online, tinggal di Jakarta. (Foto : Florespost)

Ada Maksud Terselubung Politisi dari  NTT Datang Menggalang Massa di Jakarta

Penulis : Yon Lesek*

Ada apa di balik Politisi NTT datang jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk berkampanye dan menggalang massa memenangkan salah satu Paslon Gubernur DKI?

Politisi dari NTT ikut bergerilia memenangkan pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi untuk Gubernur DKI menjelang berlangsungnya pemilu putaran kedua.  Bukan lagi sekadar seruan moral dan himbauan dari kejauhan NTT, tetapi terjun langsung di arena Jakarta, terang-terangan bahkan sampai menggalang massa asal NTT di Jakarta.

Luar biasa. Itu ungkapan kata yang cukup sopan untuk tidak mengatakan ‘gila’.  Kok bisa sampai segitu jauhnya melangkah? Mau-mau saja dicebur dalam air keruh di tanah orang pula, katanya karena permintaan DPP Pusat.

Headline Pionanews.com, (23/3/2017), dengan lugas memberitakan hal ini : DPRD PDIP Propinsi NTT Ajak Warga NTT Jakarta Selatan Dukung Ahok-Djarot.

Diberitakan, sejumlah kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang saat ini aktif sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan bersilahturahmi dengan warga NTT yang ada di Jakarta Selatan pada Jumat (24/3) besok.

Sekertaris DPD PDIP NTT, Nelson Obet Matara mengatakan, tujuan silahturahmi tersebut untuk satukan kekuatan mendukung pasangan calon nomor urut dua Basuki T Purnama alias Ahok-Djarot Saiful Hidayat (Basuki-Djarot).

“Besok acaranya. Kita kumpul masyarakat NTT yang ada di Jakarta Selatan. Kita kumpul dan makan bersama serta satukan kekuatan mendukung Ahok-Djarot untuk memenangkan Pilgub 19 April. Hanya itu besok,” ujar Nelson di Jakarta, Kamis (23/3) malam.

Ada Udang di Balik Batu

Saya teringat bagaimana cara untuk bisa menangkap udang di balik batu.  Tentu ada banyak alternatif. Yang tradisional dilakukan, biasanya dengan membendung atau tepatnya melokalisir wilayah sekitar tempat udang bersembunyi itu, lalu air dibuat keruh sehingga udang jadi mabuk kepayang dan tak tahu arah, lalu mengapung dan dengam mudah menangkapnya.

Apa pun caranya, sekalipun harus memperkeruh keadaan dam nekat melokalisir apa yang bukan wilayahnya, tidak dihiraukan sama sekali asalkan tujuannya tercapai, mendapat udang. Politisi NTT ini tercebur dalam permainan ini tidak lain tidak bukan untuk mendapatkan kekuasaan dan dukungan partai.

Ada udang di balik batu, ada maksud tersembunyi di balik aksi berani ini walau membuat air menjadi keruh.

Geliat politik seperti dipertontonkan para politisi PDIP ini terbilang langka dan sebuah langkah yang nekat. Ada apa di balik ini semua?

Dua hal bisa kita duga. Itu tak terlepas dari perhelatan Pilgub NTT 2018 yang gaungnya sudah menggelegar di seantero NTT, dengan tampilnya kandidat-kandidat jagoan masing- masing daerah dan partai-partai pendukungnya.

Pertama, bisa dikatakan ini sebentuk pencitraan diri internal partai, agar mendapat dukungan DPP Pusat. Jika paslon DKI yang dikampanyekannya menang, satu poin besar sudah diraih untuk pencalonan paslon di NTT yang didukungnya. Usaha datang jauh-jauh ke Jakarta dan ikut aktif berkampanye dengan menggalang massa pendukung, menimbulkan utang budi dan berharap balas budi dari DPP Pusat.

PDIP NTT pasti sudah memperhitungkan dengan matang bahwasanya Ahok-Djarot bakal menang. Maka, demi mendapatkan pencitraan positif dan meraih dukungan pusat untuk paslonnya di NTT, para politisi ini mau-mau saja mencebur diri di dalam air keruh pilgub DKI ini.

Katanya, kalau Ajok-Djarot menang, itu karena politisi PDIP dari NTT ikut berjibaku dan mereka berjasa. Padahal kita semua tahu, jauh sebelum mereka terlibat, warga Jakarta dari NTT sudah bulat hati bahkan dalam suatu wadah, untuk memenangkan Ahok-Djarot.

Hal kedua bisa dibaca dari sisi lain

Bahwasanya pertarungan menjelang pilgub NTT 2018 kian memanas dengan munculnya paslon-paslon kelas berat, baik paslon yang berkiprah lokal maupun paslon berkiprah Nasional. Geliat ikut berkampanye untuk pasangan Ahok-Djarot dari kubu PDIP NTT ini hendak merebut hati orang NTT yang disinyalir kuat mayoritas rakyatnya mencintai Ahok.  Aksi dukung Ahok secara terbuka ini poin positif bagi pencitraan politisi PDIP NTT dan paslon pendukungnya di mata rakyat NTT.

Di sisi lain, sebentuk pukulan telak terhadap paslon pesaing NTT 1 lainnya, yang tidak ikut mendukung Ahok-Djarot atau yang partai pendukungnya berseberangan dengan Ahok-Djarot. Sentimen rakyat NTT yang begitu kuat untuk Ahok-Djarot diharapkan menular pada mereka dan ikut pula antipati pada paslon Gubernur NTT yang partainya tidak memihak Ahok-Djarot.

Apa gue juga harus bilang #gueahok gitu? 

Dengan langkah nekat seperti yang dimainkan politisi PDIP NTT ini mereka berharap mendulang pencitraan penuh baik dari pusat maupun dari lokal yang menjadi target perolehan suara.

Tidak soal apa pun cara yang dilakukan untuk memenangkan pertarungan asalkan masih di dalam koridor yang benar. Pemilik suara sah NTT untuk Pilgub NTT 2018, yang membaca sorotan liar ini semoga terbuka mata dan menjadi bening jati melihat permainan cantik politisi di dalam air keruh keluasaan ini.

Sapere Aude!

Haqul yakin, orang NTT tidak buta-tuli melihat perbedaan, mana yang tulus dan mana yang fulus. Juga tetap cerdas melihat mana yang sejati dan mana yang ilusi.

Sapere aude! Beranilah berpikir jernih dan jadilah berbeda sesuai hati nuranimu. Walau air senantiasa diperkeruh, kita tetap menatap bening pada paslon yang tulus, berkompeten, dan layak membawa NTT semakin maju dan layak diperhitungkan di tingkat Nasional.

Jakarta, 24 Maret 2017

*Sebagai Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan kolumnis sebuah media online, tinggal di Jakarta.

(Isi tulisan di luar tanggung jawab kami – Redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here