Beranda Headline Tragedi Anies-Sandi, Habis Manis Sepah Dibuang : Opini Yon Lesek

Tragedi Anies-Sandi, Habis Manis Sepah Dibuang : Opini Yon Lesek

1280
0
Yon Lesek / Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan kolumnis sebuah media online, tinggal di Jakarta.

Tragedi Anies-Sandi : Habis Manis Sepah Dibuang

Penulis : Yon Lesek*

Kalau R.A. Kartini menabur harapan dengan semboyan “Habis gelap terbitlah terang”. Jangan sampai Anies-Sandi mematikan harapan dengan adagium, “Habis manis sepah dibuang”.

Anies-Sandi sudah terpilih jadi Gubernur DKI periode 2017- 2022. Walau masih berdasarkan perhitungan cepat (quick count) beberapa lembaga survei terpercaya, sudah bisa dipastikan paslon nomor urut tiga inilah pemenang putaran kedua Pilgub DKI, yang telah berlangsung pada Kamis, 19 April 2017. Tak tanggung-tanggung perolehan suara paslon 3 ini berkisar seputar 58%, unggul sekitar 16% suara dari paslon 2, Ahok-Djarot, yang mencapai angka sekitar 42%.

Baca juga : Manggarai Timur 2018 : Membidik Pemimpin Terbaik – Opini Yon Lesek

Sepintas bisa dikatakan selisih perolehan suara kemenangan sebesar ini sungguh menakjubkan dan di luar prediksi banyak orang. Paslon Ahok-Djarot yang unggul sekitar 2% suara pada putaran pertama, bahkan terbilang unggul dalam setiap debat kandidat, harus menelan pil pahit kekalahan yang mengecewakan. Seolah-olah bukan lawan tanding yang selevel.

Namun, diamati konstelasi politik dan situasi terakhir menjelang putaran kedua ini, dengan alasan yang rasional bisa dikatakan ini sebuah hasil yang sangat realistis. Di tengah mayoritas Muslim dengan isu agama dan masjid sebagai mesin politik, yang menjadi strategi andalan Paslon nomor urut tiga ini, sangatlah wajar Ahok-Djarot kalah telak.

Baca juga : Setelah Bertemu King Salman, SBY dan Jokowi Ngopi Bareng

Selamat buat Gubernur DKI yangg baru : ANIES-SANDI. Patut dipatri dalam hati dan budi berdua bahwasanya setelah dilantik jadi Gubernur, Anda berdua bukan lagi pemimpin ormas, partai, oknum dan fans pendukung Anda lagi, juga bukan pemimpin sekelompok umat Islam, tetapi pemimpin DKI. Di sana tak ada lagi janji manis dan retorika, tetapi kerja nyata. Di sanalah Anda memberi bukti, bukan manis di bibir atau sekadar sandiwara lagi.

Terima kasih untuk Ahok-Djarot yang meninggalkan standar tinggi kinerja seorang Gubernur dan semoga Gubernur baru Anies Baswedan bisa lebih baik darimu.

Baca juga : Teropong Hukum : Abdul Chair Ramadhan S.H. Tidak Kredibel sebagai Ahli Pidana dalam Perkara Ahok

FPI dan Islam Radikal Tagih Janji

Sejak terpilih jadi Gubernur DKI, tuntutannya bukan lagi merebut simpati massa pendukung, tetapi bagaimana membuktikan janji-janjinya. Lebih rumit lagi karena Anies-Sandy harus memenuhi janji-janjinya terhadap para pendukung yang in potensial punya muatan risiko atau riskan terhadap kemajemukan dan toleransi beragama. Sebab kita semua tahu bahwa Anies-Sandy didukung oleh FPI dengan sosok pentolannya Habib Rizieg, dalang di balik aksi-aksi demonstrasi sepanjang perhelatan ini hingga mengantar Ahok ke kursi pesakitan sebagai terdakwa penista agama.

Baca juga : Opini : Menghasilkan Pilkada Yang Berkualitas

FPI yang terang-terangan memperlihatkan identitasnya sebagai ormas Islam garis keras, radikal dan intoleran, berjuang mati-matian untuk menerapkan Syariah Islam di tanah air tercinta dan menghendaki hanya boleh dipimpin oleh pemimpin Islam. Non Islam no way!

Kepada Anies-Sandi, selepas keterpilihan mereka sebagai Gubernur DKI yang baru, FPI terang-terangan menagih janji.

“Kami berharap Pak Anies dan Sandi membuktikan semua janji-janjinya. Tentunya umat Islam harus lebih dibangun di masa kepemimpinan Pak Anies-Sandi. Pemerintah sebaik mungkin (memanfaatkan) persatuan umat ini. Ini kan sudah dibangun, jangan disia-siakan oleh Pak Anies”, kata Juru Bicara FPI Slamet Maarif kepada Suara.com, Kamis (20/4/2017).

Baca juga : Membongkar Ingatan (Jelang Pilkada Manggarai Timur 2018) : Opini

Ia mengatakan, FPI telah mengingatkan Anies-Sandiaga untuk bisa menjaga toleransi beragama. Hal itu, kata Slamet disampaikan agar tidak lagi ada kasus penodaan agama yang bisa memicu kemarahan masyarakat khususnya umat Muslim. Kasus yang dimaksud Slamet adalah perkara Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Paling penting lagi, kegaduhan yang selama ini ditimbulkan oleh penista, ini tidak lagi terjadi. Artinya, jangan sampai menyinggung keyakinan agama siapa pun. Itu kami selalu bilang ke Pak Anies tetap menjunjung kebhinekaan dengan tidak melupakan mayoritas umat Islam di Jakarta”, kata dia.

Dia juga mengakui FPI akan mengawal kebijakan yang dikeluarkan Anies-Sandiaga saat memimpin Jakarta. Pihaknya akan mengkritisi apabila kebijakan tersebut melenceng dari syariat Islam.

Bahkan, Slamet menyampaikan tak segan-segan melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran seperti yang pernah dilakukan terhadap Ahok.

Belum lagi soal janji Anies-Sandy untuk segera menutup Alexis yang dikatakan sebagai tempat transaksi seks. Juga tentang reklamasi di pantai utara Jakarta yang dijanjikan untuk ditutup demi pertimbangan ekologi dan kesejahteraan nelayan. Masih ada janji-janji manis lainnya yang akan ditunggu realisasinya oleh warga DKI, seperti program OK OC, dana hibah 100 miliar untuk modal usaha rakyat kecil, rumah murah di Jakarta, dll.

Selain itu, banyak pengusaha dan politisi yang ada di belakang pemenangannya mengemban bisnis dan politik yang riskan pula, karena sedang ditelusuri KPK, termasuk kasus yang menimpa Sandiaga Uno dan Anies Baswedan sendiri.

Ujian Integritas

Sandiaga Uno diduga melakukan penggelapan dalam penjualan sebidang tanah di Jalan Raya Curug, Tangerang Selatan, Banten, pada 2012. Sandiaga dilaporkan bersama rekan bisnisnya, Andreas Tjahyadi, ke Polda Metro Jaya pada Rabu (8/3/2017). Kasus ini masih akan terus bergulir. Masih ada lagi kasus-kasus lainnya yang menyeret sang molioner muda ini, bisa klik di sini : http://www.gerilyapolitik.com/ini-dia-5-kasus-sandiaga-uno-tapi-aparat-hukum-enggan-mengusut-ada-apa-ya/

Nasib Anies Baswedan masih lebih agak beruntung, hanya kena satu kasus dugaan gratifikasi yang menjeratnya, yaitu proyek VSAT Komunikasi jarak jauh berbasis satelit.

Pada 31 Januari 2017, Komite Aksi Mahasiswa Untuk Reformasi dan Demokrasi (Kamerad) melakukan demo di depan Gedung KPK mendesak agar KPK segera mengusut kasus dugaan suap yang melibatkan Anies Baswedan dalam proyek VSAT (Very Small Aperture Terminal) di Kemenkominfo.

Baca juga : ‘Wuat Wai’ Restui Langkah BKH Sebagai Calon Gubernur NTT Periode 2018-2023

Kamerad mengungkapkan fakta dan bukti bahwa fee proyek sebesar Rp 5 miliar ditransfer ke rekening adiknya Anies Baswedan yang bernama Abdillah Rasyid Baswedan. Bukti transfernya ada di tangan Kamerad, mau ngeles bagaimana lagi? Tugasnya KPK untuk menuntaskan borok ini sampai tuntas.

Keraguan akan integritas terbersit di sini. Bagaimana Jakarta bisa aman APBD-nya yang sebesar Rp 72 triliun itu jika dipimpin oleh pemimpin yang diragukan integritasnya dan menjadi bagian dari masalah?

Baca juga : Pilgub NTT 2018, Christian Rotok Sudah Siap Maju ? Ini Katanya

Syariah,  Jatah FPI,  Radikalisme, Intoleransi : Bom Bunuh Diri

Pilihannya, Anies-Sandi harus senada dengan mereka, memenuhi janji-janjinya ataukah sehati dengan Gerakan Kebangsaan yang berbasis pada empat pilar, yakni NKRI,  PANCASILA, BHINEKA TUNGGAL IKA dan UUD’45?

Kita lihat saja nanti. Waktu akan membuktikan konsistensi dan kerja smart seorang Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Tapi, sedikit meragukan kapabilitas dan komitmen mereka, saya memprediksi Anies-Sandi akan dikuburkan oleh perbedaan kepentingan para pendukungnya tersebut dengan kepentingan Gerakan Kebangsaan.

Baca juga : Robert S. Marut Siap Menjadi Bakal Calon Gubernur NTT

Ini semua bakal menjadi bom waktu yang membunuh diri sendiri. Sebab, bila sehati dengan Gerakan Kebangsaan, Anies-Sandi ingkar janji dengan FPI, kelompok Islam radikal, dan para pendukung pemenangannya. Tetapi, jika mengikuti kemauan para pendukungnya, Anies-Sandi ingkar janji dengan bangsa ini.

Terutama janji menjalankan syariah Islam. Ini kontradiksi dengan kenyataan Indonesia yang dibangun berdasarkan empat pilar bernegara di atas. Shinta Nurwahid, Istri mantan Presiden Gusdur, sebagaimana dilansir media Tempo.co, lugas mengungkap keprihatinan ini.

Baca juga : Boni Hargens dan Problem Kepemimpinan NTT : Opini Alfred Tuname

“Semakin tinggi menerapkan syariah, semakin tinggi keinginan untuk melakukan gerakan radikal”, ucapnya.

Jika dibiarkan, menurut Shinta, gerakan radikal dan intoleran merupakan ancaman yang nyata bagi keberagaman yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Shinta berujar, kebhinekaan terobek-robek oleh bangsanya sendiri karena ada kelompok radikal, fundamentalis, dan intoleransi yang mencoba mencuci pemikiran-pemikiran rakyat Indonesia, terutama kaum pemuda dan mahasiswa.

Baca juga : Ciri-Ciri Paslon Pemimpin Berpotensi Korupsi yang Tidak Boleh Dipilih

“Kaum radikal ini menginginkan mengubah NKRI ini menjadi negara Islam. Ini yang saya tidak suka”, katanya seraya menambahkan dirinya prihatin dengan kondisi bangsa ini.

Peringatan Keras

Rakyat menagih janji-janjimu, Anies-Sandy. FPI juga bakal minta jatah bulanan yang selama Ahok memimpin sudah tidak ada lagi. Akankah Anda berdua memenuhinya?

Kemenangan Anda berdua sesungguhnya tidak berakhir pasca terpilih jadi Gubernur DKI. Jangan sampai melupakan janji-janji yang telah disampaikan selama masa kampanye. Jangan sampai juga pemenuhan janji-janji itu melukai bangsa ini. Jika Anda tidak smart mengelola semuanya ini, janji-janji manis Anda akan berakhir dengan tragedi.

Saya menulis semua ini tepat pada hari Indonesia menghormati jiwa bening R. A. Kartini yang menaburkan optimisme pada warga bangsa ini. Kalau R.A. Kartini menabur harapan dengan semboyan “Habis gelap terbitlah terang”. Jangan sampai Anies-Sandi mematikan harapan dengan adagium, “Habis manis sepah dibuang”.

Jakarta,  21 April 2017.

*****

*Sebagai Peneliti CPS (Center for Poverty Studies) dan kolumnis sebuah media online, tinggal di Jakarta.

(Isi tulisan di luar tanggung jawab kami – Redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here