Beranda Ekobis Selamatkan Bumi Labuan Bajo dari Sampah

Selamatkan Bumi Labuan Bajo dari Sampah

479
0
Thomas Aquino Vinsensius (Tos Ampur) / Kepala KSU Sampah Komodo, Sabtu (22/04/2017). (Foto : Florespost.co)

FLORESPOST.CO, Labuan Bajo – Saat ini sampah sudah menjadi tema diskusi menarik bagi banyak kalangan terutama bagi mereka yang menaruh perhatian pada kelestarian dan keindahan lingkungan.

Keberadaannya yang bertentangan dengan konsep estetika dan efeknya bagi kerusakan lingkungan fisik serta hubungannya dengan kesehatan membuat sampah dilihat layaknya hama yang harus dibasmi.

Di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sampah yang berserakkan sudah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi.

Hampir di semua sudut kota pariwisata ini, sampah bertebaran tidak karuan. Mulai dari pinggir-pinggir jalan, pantai, bahkan sampai di pulau-pulau yang menjadi tempat destinasi wisata.

Hal ini bisa dikatakan sebagai kenyataan yang kontras. Sebab, pariwisata tentu tidak bisa berjalan paralel dengan serakan atau tumpukan sampah.

Melawan kenyataan ini, di Labuan Bajo sudah ada beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mempunyai kepedulian untuk berperang melawan sampah serta berusaha membuat kota ini menjadi sedikit bersih.

Memaknai Hari Bumi yang jatuh tepat pada hari ini, Sabtu (22/04/2017), Florespost.co datang menemui Kepala Koperasi Serba Usaha (KSU) Sampah Komodo dan Fasilitator Waste Management World Widelife Fund (WWF), kantor lapangan (Field Office) Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Di mana dua lembaga ini yang selama ini mempunyai kepedulian tinggi dalam menangani sampah yang ada di kota Labuan Bajo.

Fasilitator Waste Management WWF Labuan Bajo, Susilo Wati, dalam penjelasannya menyampaikan bahwa sampah di Labuan Bajo dan juga di pulau-pulau saat ini sudah terbilang banyak, diperkirakan mencapai belasan ton per hari, dan karena itu harus segera ditangani.

Sistem kerja WWF Labuan Bajo dalam menangani sampah menurut Wati adalah dengan menjalin kerja sama dengan Pemda Mabar dan Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) untuk merumuskan skenario penanganan sampah.

“Kebetulan WWF bersama tim dan juga konsultan sudah bekerja sama dengan Pemda dan Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) dalam menangani sampah. Kita sudah berdiskusi dengan mereka bagaimana cara penanganan sampah, baik skala pemula atau skala rumah tangga”, tutur Wati.

Wati menambahkan bahwa WWF juga kerap menyelenggarakan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai sampah dan alternatif penanganannya.

Sementara itu, Koperasi Serba Usaha (KSU) Sampah Komodo mempunyai cara yang unik dalam penanganan sampah.

KSU yang berdiri sejak tahun 2014 ini memberikan peluang bagi siapa saja untuk menjadikan sampah sebagai aset untuk ditabung. Caranya sangat sederhana, setiap orang yang mempunyai kepedulian terhadap sampah bisa menjadi nasabah di KSU ini asalkan orang tersebut bersedia untuk menyetorkan saham awal sebesar Rp. 250.000,-.

Saham awal tersebut juga bisa diganti dengan membawa sampah yang nantinya ditimbang dan kemudian diuangkan.

Thomas Aquino Vinsensius, Kepala KSU Sampah Komodo, kepada media ini menerangkan bahwa pengelolaan sampah yang dilakukan oleh KSU ini sifatnya berbasis masyarakat.

“Fokus kami ini adalah sampah yang bisa didaur kembali. Jadi masyarakat sendiri yang memilah sampah-sampah yang bisa dibawa ke sini”, ujar Thomas.

Selain itu, lanjut Thomas, KSU Sampah Komodo juga menjalankan kegiatan edukasi, baik kepada masyarakat umum maupun kepada siswa-siswi tingkat SD sampai dengan tingkat SMA.

Jenis sampah yang dikelolah oleh KSU Sampah Komodo saat ini adalah berbagai jenis botol (kemasan minuman), plastik, kertas dan juga gardus.

Menurut Thomas proses daur ulangnya sendiri untuk sementara dilakukan secara manual oleh pengurus KSU lalu dikirim ke pulau Jawa untuk diolah menggunakan mesin teknologi.

Saat ini, lanjut Thomas, kantor KSU Sampah Komodo hanya berpusat di satu tempat, yakni terletak di depan Polres Mabar, NTT.

Ia berharap, dengan terus membangun komunikasi yang baik dengan Pemda dan juga elemen lain, KSU Sampah Komodo bisa membuka cabang di setiap pulau, sehingga sampah yang ada bisa ditangani dengan baik. (Dolfo Suhardi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here