Beranda Opini Popularitas dan Pilkada Matim 2018 : Opini Alfred Tuname

Popularitas dan Pilkada Matim 2018 : Opini Alfred Tuname

2.805 views
3
Alfred Tuname, Direktur Lembaga Neralino (Network On Reform Action For The Well-being Of Indonesia) (Foto : Alfred/Florespost.co)

Popularitas dan Pilkada Matim 2018

Penulis : Alfred Tuname*

Di balik semua itu, popularitas adalah logika politik yang longgar. Tensinya bisa berubah.

Popularitas Andreas Agas, S.H., MHum, mencapai 81 persen menurut survei Jefrin Haryanto Research Centre (JHRC) (www.kupang.tribunnews.com, 5/5/2017). Andreas Agas merupakan bakal calon bupati dalam Pilkada Manggarai Timur (Matim) 2018. Bersama Drs. Stefanus Jaghur (bakal calon wakil bupati), mereka membentuk Paket ASET (Andreas Agas-Stefanus Jaghur) sebagai menu politik menuju kemenangan.

Baca juga : Boni Hargens dan Problem Kepemimpinan NTT : Opini Alfred Tuname

Sementara itu, tingkat popularitas  Tarsisius Sjukur Lupur  mencapari 60 peren, Lucius Modo 57 persen, Yosep Biron Aur 55 persen, Willibrodus Nurdin 45 persen, Paskalis Serajudin 40 persen. Stefanus Jaghur, Bonefasius Uha dan Yohanes Nahas mencapai 35 persen. Fransiskus Sarong dan Fransiskus Anggal ada pada 25 persen dan paling buntut Syahdan Odom dengan 5 persen.

Baca juga : Pemimpin Yang “Mit-Sein” : OPINI Alfred Tuname

Ada pula nama Anton Dergong, Marsel Sarimin dan Hironimus Nawang yang mencapai popularitas 15 persen tetapi diseminasinya tidak masif di publik.

Untuk survei ini, JHRC menggunakan metode multipurpose random sampling dengan margin error 5 persen pada 800 responden.

Baca juga : Gosip Politik Dalam Pilkada : Opini Alfred Tuname

Konfigurasi Politik

Mereka yang disurvei adalah nama-nama yang digadang-gadang masuk dalam bursa politik Pilkada Matim 2018. Dari nama-nama tersebut, ada yang sudah serius meracik strategi, ada pula yang hanya sekadar mengais respon publik. Untuk Pilkada Matim 2018, di antara yang serius itu ada Paket ASET (Andreas Agas-Stefanus Jaghur), Paket NERA (Bonefasius Uha-Fransiskus Anggal), Paket TABIR (Tarsisius Sjukur Lupur-Yosep Biron Aur) dan Paket  SARNAS (Fransiskus Sarong- Yohanes Nahas).

Baca juga : Budaya Lokal dan Politik Pilkada : Opini Alfred Tuname

Paket politik yang masih mengais respon publik atau “meme-politik” di media sosial adalah Paket RASUL (Paskalis Serajudin-Lucius Modo) dan Paket WIDANG (Wilibrodus Nurdin-Syahdan Odom). Sementara figur-figur yang masih “mencari bentuk” politik adalah Anton Dergong, Marselis Sarimin dan Hironimus Nawang.    

Paket-paket politik dan figur-figur “birokrat-politik” memiliki hak yang sama untuk mencalonkan diri dalam kontestasi kepemimpinan lokal. Tetapi dalam politik juga terjadi “Darwinian selection” : semacam survival of the fittest. Artinya politisi yang fit secara politik-lah yang berhak maju dalam Pilkada Matim 2018. Fit secara politik didefinisikan sebagai layak secara hukum, wajar dalam pengalaman dan pantas di hadapan publik.

Baca juga : Terkait Pilgub NTT 2018, NTT Butuh Potong Generasi, Kata Boni Hargens

Jika survei popularitas dipakai sebagai neraca “pantas di hadapan publik”, maka masyarakat Matim sudah bisa menilai siapa yang menjadi jawara dalam ingatan publik. Popularitas figur tentu bertalian dengan kohesi sosial.  Tingkat popularitas yang tinggi menandakan kohesi sosial sang figur sangat tinggi di masyarakat.

Baca juga : Pilgub NTT 2018, Potong Generasi ? Ini Kata Christian Rotok

Pada konteks politik, popularitas ditakar atas performansi figur dalam aktivitas politik dan sosial. Di sini ada kebijakan-kebijakan populis sang figur sekaligus keluwesan personal di ruang publik. Hal itulah yang membuat figur dikenal dan populer di masyarakat.

Popularitas Andreas Agas yang mencapai 81 persen tentu saja linear dengan statusnya sebagai wakil bupati Manggarai Timur yang hampir mencapai 10 tahun. Secara personal dan kebijakannya pasti sudah dikenal dan rasakan oleh masyarakatnya. Melalui Paket YOGA selama 2 periode, ia bersama bupati Yosep Tote telah membangun dan meletakan dasar pembangunan Manggarai Timur. Dukungan dan kritikan terhadap pola kepemimpinanya merupakan lajur demokrasi politik yang disikapi secara bijaksana.

Baca juga : Manggarai Timur 2018 : Membidik Pemimpin Terbaik – Opini Yon Lesek

Popularitas Tarsisius Sjukur Lupur tidak lepas status politiknya sebagai anggota DPRD Matim dari partai PKB. Namanya begitu populer ketika maju dalam Paket WINTAS  (Wilibrodus Nurdin-Tarsisius Sjukur Lupur) yang menjadi tandem serius Paket YOGA di Pilkada Matim 2013. Meskipun anjlok, popularitas Yosep Biron Aur dan Wilibrodus Nurdin tetap ada karena masih mau muncul dalam setiap musim politik Pilkada Matim.

Popularitas Lucius Modo sebesar 57 persen dikarenakan posisinya sebagai Ketua DPRD Matim. Diseminasi media dan”turne” politik menguntungkan dirinya untuk dikenal di masyarakat. Sementara Stefanus Jaghur, Bonefasius Uha dan Yohanes Nahas adalah politisi dan birokrat lama yang baru ingin tampil di gelanggang politik Pilkada. Kira-kira benar bila popularitas mereka mencapai 35 persen. Masing-masing memiliki keunggulan dan pengalamannya sendiri dalam mengurus Manggarai Timur.

Baca juga : Paradoks NTT dan Usaha Demokratisasi : Artikel Yones Hambur

Berbeda dengan itu, popularitas di lapis bawah ada nama-nama seperti Fransiskus Anggal, Fransiskus Sarong, Anton Dergong, Syahdan Odom, Hironimus Nawang dan Marsel Sarimin. Jika diukur dari kiprahnya di Matim, figur seperti Anton Dergong, Hironimus Nawang dan Syahdam Odom seharusnya memiliki popolaritas setara dengan Stefanus Jaghur (35 persen). Hal itu karena mereka adalah birokrat yang lama mengabdi untuk Matim. Boleh jadi ada faktor yang tak bisa diukur sehingga popularitas mereka anjlok di bawah 35 persen.

Sementara Fransiskus Anggal, Fransiskus Sarong dan Marsel Sarimin nyaris tidak dikenal oleh masyarakat Manggarai Timur. Mereka tidak kenal karena ketokohan dan ketenaran mereka terletak di bidangnya masing-masing dan di luar wilayah Kabupaten Manggarai Timur. Mereka memantau pembangunan Manggarai Timur dari “jauh” dengan teropong kepakarannya masing-masing. Persoalan “sentuhan”-lah yang membuat mereka sedikit dikenal oleh masyarakat Manggarai Timur. Mereka baru dikenal di jelang Pilkada Matim 2018. Karena itulah popularitas mereka masih merayap di kisaran 5-25 persen.

Baca juga : Agas Andreas Nyatakan Siap Maju sebagai Calon Bupati Manggarai Timur

Politik Popularitas

Tingkat popularitas politik senyawa dengan angin yang mengisi ruang-ruang kedap politik dan merobohkan sekat pembeda sosial. Figur populer berarti ada di ingatan semua lapis masyarakat; dari elite sampai masyarakat biasa, dari tuang sampai roeng.

Berbeda dengan popularitas segmentaris hanya dikenal di lingkup jabatan dan kepakaran tertentu. Seorang birokrat hanya dikenal oleh para aparatur sipil negara; seorang jurnalis senior hanya dikenal oleh pada jurnalis dan penikmat media; seorang politisi anggota legislatif hanya dikenal oleh konstituen dan elite politik; seorang pejabat kepolisian hanya dikenal oleh anggota polisi, dan seterusnya.

Baca juga : Ciri-Ciri Paslon Pemimpin Berpotensi Korupsi yang Tidak Boleh Dipilih

Pada konteks politik lokal, tingkat popularitas berbanding lurus dengan tingkat akseptabilitas figur. Figur yang dikenal oleh mayoritas masyarakat lebih mudah diterima, ketimbangkan yang tidak kenal. Jika demikian, tinggkat elektabilitas figur politik juga tinggi. Dasar psikologi pemilihnya adalah publik memilih karena ia ingat, kenal dan dekat dengan figur. Pilihan politik tentu tidak seperti memilih kucing dalam karung: hanya ada suara yang melengking tetapi tidak dikenal, tidak tahu warna bulunya, tidak tahu ia liar atau jinak.

Pada konteks popularitas politik, bila bercermin pada Pemilu AS (2016) dan Pilgub DKI Jakarta (2017), fenomena kekalahan Hilary Clinton dan Basuki Tjahja Purnama adalah anomali politik. Popularitas Hilary Clinton dan Basuki Tjahja Purnama sangat tinggi, tetapi mereka harus kalah oleh black campaign.  Dollarocracy  (istilah John Nichols dan Robert W. McChesney) dan sentimen primordial ternyata cukup kuat merubuhkan nilai-nilai demokrasi politik.

Baca juga : Elar Selatan dan Komoditas Politik : Opini

Di balik semua itu, popularitas adalah logika politik yang longgar. Tensinya bisa berubah. “Politik” popularitas ini harus dimaknai sebagai pesan bahwa setiap politisi harus memiliki kalkulasi politik yang tepat untuk ikut dalam Pilkada. Popularitas adalah modal sosial untuk maju, tetapi bukan satu-satunya penentu kemenangan politik. Dalam politik, semua kemungkinan bisa terjadi. Semua terjadi apabila setiap kemungkinan untuk menang digunakan secara bijak.

*****

*Direktur Lembaga Neralino (Network On Reform Action For The Well-being Of Indonesia)

(Catatan : Isi tulisan di luar tanggung jawab kami–Red)

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here