Opini : Mencintai Alam

oleh
Ilustrasi. Lingko Cara, Ruteng, Manggarai, NTT. (Foto : Istimewa)

FLORESPOST.CO :

Mencintai Alam

Oleh : Feliks Hatam*

Membaca realitas sekarang, masalah ekologis bukan hanya persoalan lokal, atau nasional, tetapi juga persoalan internasional. Dari persoalan itu, banyak pihak yang apatis, bahkan seimbang dengan mereka yang peduli dan berusaha membebaskan alam dari sikap dan pemanfaatan yang sembrono. Tentang kita, harus menyadari eksistensi kita sebagai bagian dari alam. Karena itu Harold Turner memperkenalkan jaring laba-laba sebagai falsafah hidup yang bercorak kosmis (Prior, J.:1993:77).

Bereferensi dari gagasan itu, penulis menyederhanakannya dalam dua falsafah. Pertama, wake’haju (akar kayu) sebagai baut, urat alam dan nadi alam dan wae sebagai darah alam.  Wake haju; Manusia dan alam adalah satu sistem  yang tidak dapat dilepas-pisahkan. Waké haju (akar kayu) mempunyai banyak manfaat terhadap ketahanan tanah atau alam, seperti menguatkan tanah dari erosi atau longsor, menjaga tanah dari derasnya hujan dan memfilter air hujan menjadi air alam.

Waké haju juga berperan sebagai nadi dan sendi alam yang menampung, menyimpan, memfiltralisasikan air hujun dan mengalirkannya ke perut bumi, yang selanjutnya difungsikan oleh seluruh makhluk hidup.  Jadi, waké haju dapat dijadikan dasar dalam membangun koinonia ekologis. Waké haju dalam kapasitasnya sebagai baut alam, berperan untuk menguatkan alam dari erosi dan longsor akibat hujan. Sebagai urat alam, waké haju berperan untuk mengikat serta menyatukan antar unsur yang terdapat dalam tanah [alam]. Ketiga hal tersebut terbentuk dalam satu sistem yang saling berkaitan. Jika salah satunya  mengalami kerusakan atau ganguan, maka akibatnya dirasakan oleh semua makhluk.

Kedua, Waé (air) adalah kebutuhan vital seluruh makhluk hidup. Waé dibutuhkan oleh seluruh orgnisme untuk berbagai keperluan, tentunya demi mempertahankan hidup. Kebutuhan akan air tercapai, jika baut alam, urat atau nadi alam dan tulang alam berfungsi secara maksimal untuk menyalurkan air, maka  ketiga komponen tersebut sangat menentukan persedian air dalam alam. Alam (hutan) disebut juga gumbang alam atau bak alam. Dari alam, air terus menetes dan disalur dalam nadi-nadinya. Keberadaan nadi dan tulang alam, menyanggupkan alam mendonorkan darahnya (air) kepada anggota keluargannya sampai pada  musim berikutnya. Singkatnya, waé adalah kebutuhan dasar bagi seluruh makhluk hidup yang berada dalam satu rumpun. Berdasarkan hal tersebut waé dapat dikatakan sebagai darah alam. Darah yang memberikan kehidupan untuk  seluruh organisme, termasuk manusia.

Batu  (Tulang alam)

Seluruh falsafah itu dianologikan dalam diri manusia. Manusia mempunyai organ tubuh yang terbentuk dalam satu sistem. Ketika salah satunya tidak berfungsi, maka manusia tidak dapat menjalankan aktivitas secara normal. Begitupun halnya urat alam sebagai penguat. Bila urat atu nadi manusia tidak dapat mengalirkan darah ke seluruh tubuh, maka organ-organ tubuh tidak berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.

Akibat yang sama dialami pula oleh alam dan  seluruh ciptaan. Hal yang dirasakan oleh manusia dirasakan juga oleh alam, sebab alam dan manusia adalah satu sistem yang  tidak terpisahkan. Namum sebaliknya, alam dan manusia berada dalam satu rumpun yang saling mendukung dan saling mempengaruhi. Relasi intim tersebut dapat diaktualisasikan dalam tindakan reboisasi, menolak tambang, menertibkan sampah dan menindak tegas para aktor illegal loging serta memberdayakan masyarakat adat, orang muda dan pihak lainnya untuk aktif menjaga relasi harmonis atar sesama dan alam. Sebab mahalnya sikap itu, harus menjadi satu kebutuhan yang merangsang setiap pribadi berusaha untuk mencapainya.

Membangun persekutuan ekologis adalah cara bijak menghargai warisan leluhur (generasi pertama). Seluruh kekayaan itu dinikmanti secara bebas oleh generasi sekarang (generasi kedua) dipertahankan agar seluruh kekayaan itu dinikmati pula oleh generasi selanjutnya (generasi ketiga). Mestinya, keselamatan dan kepenuhan kebutuhan generasi akan datang harus dijadikan batas, yakni membatasi ruang gerak dan kebutuhan gererasi hari ini. Dari sanalah, menggagas komunio ekologis sebagai tindakan penyelamatan untuk tiga generasi.

Alam, dalam ketakberdayaannya merindukan kebijaksanaan manusia. Keikhlasan manusia untuk menekan prinsip konsumerisme dan egoisme adalah aplikasi dari prinsip persaudaran yang tersimpul dalam komunio ekologis. Tindakan memanfaatkan alam secara semena-mena merupakan bara api bagi mereka yang belum lahir. Mengakui derajat manusia yang tinggi dari seluruh ciptaan lainnya di bumi, diwujudkan dengan sikap bijak dalam memanfaatkan hasil alam, menerapkan pembangunan berbasis ekologis serta menumbuhkan nilai-nilai budaya dalam setiap generasi.

***

Feliks Hatam

*) Penulis adalah alumni Pendidikan Teologi STKIP St. Paulus Ruteng, tinggal di Ruteng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *