Opini : (Andaikan) Umat Mengundurkan Diri

1141
Robert Bala / Diploma Resolusi Konflik Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. (Foto : Istimewa)

FLORESPOST.CO :

(Andaikan) Umat Mengundurkan Diri

Oleh : Robert Bala*

Di sini butuh keberanian, kekesatrian, dan kerendahan hati untuk mengutamakan Gereja Kristus di atas pertimbangan lainnya.

Berita mundurnya 60an imam Keuskupan Ruteng dari pelbagai jabatan pastoral yang diemban, dengan cepat menjadi viral di media sosial. Inilah kisah yang barangkali pertama terjadi di Indonesia dan bisa juga di dunia.

Tetapi yang lebih menarik, hal mana menjadi latar belakang tulisan ini, adalah celutuk seorang pembaca di medsos. Apa yang terjadi bila umat juga mau mengundurkan diri?

Sebuah pertanyaan konyol. Tetapi menjadi imam dan umat adalah panggilan.  Karena itu, menerima atau tidak merupakan hal yang wajar mestinya. Umat pun bisa mengundurkan diri. Sebuah keputusan yang tentu berpijak pada alasan mendasar.

Baca juga : Heboh, Gelar Rapat Tertutup, Puluhan Imam di Keuskupan Ruteng Nyatakan Mundur?

Simbol Satria

Pada saat Paus Benediktus XVI mengundurkan diri dari jabatan Paus, dunia terhentak tak percaya. Selama ini, Paus adalah jabatan terikat dengan kematian. Hanya kematian yang menghentikan kekuasaan Paus. Makanya ketika Paus Yohanes Paulus II menderita  Parkinson, dengan kondisi yang begitu melelahkan, ada wacana agar ia mengundurkan diri. Tetapi itu hanya wacana. Dorongan itu berhadapan dengan tradisi yang begitu kuat menempatkan jabatan sebagai paus terikat dengan kematian.

Paus Benediktus XVI, yang bernama asli Ratzinger dan lebih dikenal sebagai ‘watchdog’ Vatikan karena begitu gigih mempertahankan kemurnian ajaran, justru mengambil jalan mencengangkan. Ia merasa bahwa secara fisik (padahal kini sudah 4 tahun berselang, ia masih segar) ia tidak sanggup melaksanakan fungsinya secara maksimal. Ia tahu masa depan Gereja lebih penting dari sekedar mempertahankan tradisi.

Yang menarik dari fenomena ini, Paus Fransiskus mau mengajarkan bahwa di bawah kaki langit tidak ada yang kekal. Ketika tugas yang teramat besar dengan perubahan dunia yang kian besar di satu pihak, dan kekuatan fisik di pihak lain, maka ia dengan legowo mengundurkan diri dan memberi tempat kepada Paus Fransiskus kini.

Hal ini menjadi teladan hidup. Ia diawali dari ‘puncak tertinggi’, dengan harapan bahwa hal itu dapat membias ke tataran yang lebih rendah hingga umat. Dalam konteks ini, wacana pengunduran diri para imam di Keuskupan Ruteng mestinya dianggap hal wajar. Demikian juga wacana atau angan-angan pengunduran diri umat, meski dalam dua wacana terakhir ini bisa saja lebih dimaknai sebagai protes.

Sebuah protes yang bisa saja dianggap konyol tetapi bila ditempatkan sebagai pembelajaran maka maknanya teramat luas. Mereka mengajarkan bahwa di tengah ketakberdayaan, yang bisa dilakukan adalah mundur. Tentu mundur dalam konteks ini tidak identik dengan kekalahan. Ia malah menjadi simbol keberanian dan kekesatrian diri. Sebuah pembelajaran bahwa jabatan itu bukan segalanya. Ia hanya sepersekian yang memberi bobot diri. Dengan demikian melepaskannya bukan akhir segalanya. Ia malah bisa membuka ruang baru hal lain yang lebih bermanfaat.

Baca juga : Opini : Komunikasi, Komunitas, dan Komuni (Di Balik Pengunduran Diri Imam dari Jabatan Dioses Ruteng)

Bukan Menekan

Kisah umat yang mengundurkan diri tidak berpretensi sama sekali untuk menghendaki agar Uskup Ruteng mengundurkan diri, sebagaimana kian kuat terdengar. Pengunduran diri akan dijadikan preseden di mana ke depan, ketika tidak ada kepuasan, siapapun biasa demo untuk menurunkan seseorang dari jabatan yang selama ini sangat dihormati umat yakni sebagai Uskup.

Lebih lagi agar orang menyadari bahwa jabatan imam dan Uskup apalagi Paus adalah sangat ilahi dan begitu dihormati. Proses perekrutan hingga pemilihan telah dilakukan begitu rapi dan teliti sebagai penjamin bahwa kaum terpilih (dan tertahbis) adalah orang yang tepat. Hal itu telah menjadi sebuah kebenaran dengan tingkatan ‘infalibitlitas’ tinggi yang artinya nyaris ada kekeliruan padanya.

Namun, dalam kasus yang kini melanda Ke(Uskup)an Ruteng, ada beberapa hal yang mestinya jadi pertimbangan. Pertama, di tengah kuatnya tradisi mempertahankan seorang Uskup, teladan Paus begitu kuat. Dorongan itu mesti berasal dari dalam dan bukan dari luar. Perlu semangat kesatria untuk keluar dari tatanan normal dan wajar kepada sebuah tindakan berani dari dalam.

Paus mengajarkan bahwa kekuasaan itu tidak abadi. Gereja lebih penting dan lebih utama dari sekedar pribadi seseorang yang dipercayakan memegang sebuah kekuasaan. Gereja juga terlalu Kudus untuk bisa dipengaruhi oleh keberdosaan seseorang terlepas apapun jabatannya. Tatapan ke masa depan dan kepentingan yang lebih umum inilah yang menjadi acuan dalam mengambil keputusan.

Kedua, desakan dari luar terutama dari kolega imam menjadi indikator lain yang mestinya tidak bisa disangkali. Tradisi dan kebenaran juga nyata bahwa para imam adalah juga orang-orang terpilih dengan tingkatan kecerdasan yang tentu tidak bisa diragukan lagi. Pengalaman yang dimiliki hingga diberikan kepercayaan tertentu pada Keuskupan mengandaikan bahwa pengalaman sudah membuktikan kualitas mereka.

Dalam konteks ini, bila puluhan imam mewacanakan untuk mengundurkan diri (belum terhitung mosi tidak percaya seratusan lebih sebelumnya) hendak menunjukkan bahwa kegelisahan mereka tidak kosong. Apa yang mereka suarakan bukan sekedar mendemo atau menurunkan seseorang. Ia hanya tanda bahwa selama ini pelbagai jalan telah ditempuh hingga akhirnya mereka memilih jalan yang tak popular, meskipun hal itu patut kita sayangkan.

Ketiga, hal yang paling kita risaukan adalah kegelisahan yang terkesan ‘dibiarkan’ bisa saja merambat ke umat. Adanya mosi tidak percaya dari umat atau antusiasme kehidupan menggereja yang terkesan cukup dipengaruhi oleh rumor yang ada, belum terhitung kedermawanan umat yang disinyalir mulai berimbas oleh dugaan penyalahgunaan keuangan (kalau memang ada), mestinya menjadi hal yang lebih merisaukan daripada mempertimbangkan hal lain termasuk kekuasaan seseorang.

Hal yang jauh lebih memperihatinkan kalau kecemasan umat itu akan berimbas kepada gerakan lebih luas bukan dalam arti protes tetapi mereka secara diam-diam mengundurkan diri sebagai umat. Mereka merasa kepolosan malah kebodohan mereka bukannya dicerdaskan dan dimurnikan tetapi malah di tangan orang yang punya kuasa rohani hal itu dikecewakan.

Kita tentu tidak mau tunggu seperti itu, hal mana mengingatkan penulis akan pesan teolog moral Spanyol, Felicisimo Martinez dalam sebuah sharing, penulis buku Al Servicio de la Fe (Kepada Pelayanan Iman), La Moral Cristiana, Fe para Personas Inquietas, ia menandaskan bahwa Gereja Indonesia yang sangat ‘loyal’, dengan umat yang sangat mempercayai para klerus dan pimpinan Gereja perlu disertai otokritik.

Kepercayaan ‘buta’ harus disertai dengan otokoreksi diri para imam dan uskup dan tidak menunggu sampai terjadi seperti Gereja Eropa kini. Gereja Eropa dianggap terlambat mengoreksi diri akibatnya terjadi kejenuhan dan penurunan seperti sekarang ini. Dengan kata lain, dibutuhkan sebuah keberanian untuk koreksi diri.

Di sini butuh keberanian, kekesatrian, dan kerendahan hati untuk mengutamakan Gereja Kristus di atas pertimbangan lainnya. Bila kita berani, maka badai akan segera berlalu. Kita pun secara antisipatif melerai aksi diam umat yang mengundurkan diri.

*****

*)Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik Universidad Complutense de Madrid Spanyol. Tinggal di Jakarta.

SHARE

2 COMMENTS

  1. Saya mungkin berpikir agak lain terkait fenomena pengunduran diri para imam. Hal mendasar yang mesti kita ingat yaitu bahwa panggilan menjadi imam merupakan pilihan pribadi seorang dan tidak ditentukan oleh uskup atau siapapun. Tugas utama seorang imam adalah melayani umat Allah bukan melayani seorang uskup. Dengan demikian perilaku buruk seorang pemimpin semestinya tidak menentukan sikap (mengundurkan diri) seorang imam. Jika imam mengundurkan diri maka tugas pelayanan ( yang menjadi tugas pokok imam dan yang sangat dibutuhkan oleh umat) akan tidak terlaksana). Umat membutuhkan imam, itu yang perlu diingat imam. Seberapa pun besar dan berat masalah internal klerus tetap tidak membuat imam meninggalkan tugas pelayanan.
    Kedua, sudah dikatakan bahwa kita meyakini jabatan uskup tentu atas penyelenggaraan ilahi. Oleh karena itu, pergantian uskup sejatinya bukanlah sesuatu yang menjadi urusan kita. Singkatnya, ganti atau tidaknya uskup bukan seperti pergantian pejabat pemerintahan, yang kalau berbuat kesalahan maka didesak untuk undur. Benar bahwa kita tidak menginginkan seorang pemimpin menunjukkan teladan yang buruk tetapi kita tidak harus menunjukkan diri lebih tidak kristiani lagi.
    Ketiga, umat menginginkan agar persoalan internal klerus mesti diselesaikan dengan baik (mulia). Pengunduran diri tentu membawa perpecahan dalam umat. Hemat saya ada umat yang lebih melihat fenomena ini sebagai sebuah perebutan kekuasaan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah permasalahan akan selesai dengan cara seperti ini. Terakhir saya ingin berpendapat bahwa segala persoalan pasti akan terselesaikan. Butuh waktu lama, mungkin tetapi kita tetap harus bersabar sambil berdoa dan jangan terlalu banyak menuntut. Perlu introspeksi diri juga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here