Beranda Florata News Kondisi Jalan Tengah Nubatukan Menuju Wulandoni Rusak Parah

Kondisi Jalan Tengah Nubatukan Menuju Wulandoni Rusak Parah

146
2
Ruas jalan tengah Nubatukan menuju Kecamatan Wulandoni dalam keadaan rusak parah. (Foto: Elyas Making)

FLORESPOST.CO, Lembata – Parah sekali, mungkin inilah kata yang pas untuk menggambarkan kondisi ruas jalan poros tengah menuju pedalaman Kecamatan Nubatukan hingga desa-desa di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Entah kenapa, ruas jalan jalur tengah yang senantiasa menjadi jalan alternatif menuju desa-desa pesisir Kecamatan Wulandoni ini nyaris luput dari perhatian pemerintah.

Wajar, kondisi jalan yang sangat rusak ini terus dikeluhkan masyarakat, karena fungsi jalan sangat vital bagi pergerakan roda perekonomian secara keseluruhan mulai dari perkotaan hingga ke pedesaan. Melintas di jalan ini tidak saja membutuhkan kendaraan yang fit, namun nyali pengemudi pun harus benar teruji.

Sabtu, (29/7/2017) media ini berkesempatan untuk memantau ruas jalan jalur tengah hingga ke pesisir selatan kecamatan Wulandoni. Medan terparah sudah ditemukan kurang lebih sepuluh kilometer dari kota Lewoleba, atau tepatnya di sekitar desa Paubokol Kecamatan Nubatukan, semakin jauh ke padalaman semakin parah kondisi jalan yang kita temui.

Baca juga: Uskup Kopong Kung Urapi ‘Hamba Maria’ di Tanah Lahirnya

Pada segmen ini terdapat sungai yang belum dibangun jembatan. Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, bila musim hujan tiba, ruas jalan yang terhitung dari Desa Paobokol hingga Desa Udak Melomata, putus total. Selain karena derasnya aliran sungai dan bertambahnya debit air, juga terdapat jalan tanah yang becek akibat terendam air hujan.

Padahal peningkatan jalan poros tengah menuju Kecamatan Wulandoni menjadi penting, karena jalur ini menghubung kota Lewoleba dengan desa-desa kantong ekonomi. Desa-desa pedalaman Kecamatan Nubatukan hingga beberapa desa di Kecamatan Wulandoni merupakan desa dengan masyarakatnya yang menggantungkan hidup pada komiditi pertanian. Kemiri, kopi hingga cengkeh adalah hasil pertanian yang menjadi andalan warga di wilayah ini. Selain itu daerah ini juga terkenal sebagai daerah penghasil buah dan sayuran.

Selain itu, pembangunan jalan menuju jalur perdesaan mutlak diperlukan guna memperlancar distribusi barang kebutuhan masyarakat dari kota ke desa dan sebaliknya memperlancar distribusi hasil pertanian dari desa ke kota.

Kondisi serba parah ini menjadikan situasi berbanding terbalik. Harga komoditi pertanian anjlok sebagai akibat sulitnya transportasi, sementara barang industri di perdesaan menjadi mahal mengingat besarnya biaya trasnportasi untuk mendatangkan barang dari kota.

Kerbau Kenoki, ruas jalan ini selalu menjadi momok bagi siapa saja yang melintas. Di ruas jalan ini nyali setiap penggemudi diuji. Selain posisi jalan yang menurun dengan kemiringan mencapai 30 derajat, bebatuan lepas dan jurang terjal pada sisi jalan senantiasa menemani pelintas sepajang kurang lebih satu kilo meter. Kondisi yang demikian, diperparah lagi dengan badan jalan yang sempit dan terdapat tebing rawan longsor.

Baca juga: OMK Kampung Sandosi tentang Cinta Tak Pernah Salah

Ruas jalan tengah Nubatukan menuju Kecamatan Wulandoni dalam keadaan rusak parah. (Foto: Elyas Making)

Agus Wutun, salah satu warga desa Udak  Melomata yang ditemui ketika memantau ruas jalan ini, menuturkan, setiap musim hujan, jalan di jalur ini selalu longsor  dan jika sudah begini, akses jalan poros tengah terputus dan dengan sendirinya warga Desa Udak, dan Desa Lewuka yang hendak ke Lewoleba, harus melintas melalui poros selatan menuju Wulandoni. Tentu saja waktu tempuh ke lewoleba semakin lama, dan sudah pasti ongkos kendaraan pun bertambah.

“Iya parah sekali, kalau musim hujan selalu longsor, sebagian besar badan jalan tertutup, jadi mobil tidak bisa lewat, paling kita buka sedikit untuk sepeda motor. Jadi kalau kami mau ke Lewoleba, harus lewat Wulandoni terus ke puor baru ke Lewoleba, jalan jauh bayar oto juga makin mahal,”

Lambannya respon Pemerintah Kabupaten Lembata dalam menjawab kebutuhan masyarakat inilah, memaksa warga Desa Belobao (Lewuka) bersama pemerintah desa mencarikan jalan keluar sendiri. Dengan memanfaatkan sisa dana desa tahun sebelumnya ditambah swadaya murni dan bantuan pihak ketiga, warga akhirnya turun tangan memperbaiki jalan. Tak tanggung-tanggung, ruas jalan sepanjang 308 meter berhasil mereka bangun.

“Mau tunggu dana kabupaten? Kapan baru jadi, padahal kita butuh jalan. Kami akhirnya bersepakat untuk menggunakan sisa dana tahun sebelumnya, ditambah swadaya murni dari masyarakat dan ada bantuan dari pihak ketiga untuk memperbaiki jalan. Kami bangun talud sisi kiri-kanan juga pekerjaan timbun badan jalan. Total badan jalan yang kami kerjakan adalah 308 meter, jadi 154 meter setiap sisi,”  kata Gaspar Wutun.

Gaspar dan warga lainnya yang ditemui disela kesibukan membangun jalan berharap Pemerintah Kabupaten secepatnya menjawab kebutuhan jalan bagi warga di pedalaman Nubatukan dan Wulandoni. Poros jalan tengah adalah jalur utama bagi mereka untuk melintas dari dan ke kota Lewoleba. (Emanuel Bataona/Florespost.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here