Cerpen: Mungkinkah Malam Ini Aku Bermoral Bersama Sekar?

oleh
Ilustasi (foto/istimewa)

FLORESPOST.CO:

Cerpen Efrim Mbomba Reda*

Mungkinkah Malam Ini Aku Bermoral Bersama Sekar?

 

Lembayung senja berdiri tegak pada dada dermaga, akankah dia hanya milik para pujangga? Wanita perkasa berjejer di pinggir stigma kehidupan yang menjual gairah dan desahan, akankah mereka hanya milik para seniman? Atau beribu budaya yang berbaring lemas dalam lembah kemajuan, mungkinkah persoalan itu hanya milik budayawan? Politisi yang kerap menelanjangi legalitas, apakah mereka hanya tanggungjawab Negara? Kita rupanya terpisah – pisah. Melintas ruang, waktu, dan kemawaktuan.

Babak sejarah sedikit banyak telah dilintas, dari imperialisme bangsa asing kita menyambut hidup baru yang penuh pencerahan. Di dalam genggaman kekerasan yang mengatasnamakan kebebasan, muncul tragedi baru yang lebih makan hati. Kemerdekaan rupanya melahirkan sejarah baru yang lebih menindas dari pada imperialisme sistem tanam paksa.

Realitas rupanya tidak murni merdeka, masih campur aduk dengan banyak peristiwa yang memeras perasaan. Di tengah berbagai macam derasnya pertentangan ideologi dan kepentingan politik, generasi muda hadir sebagai korban dari kelelahan ideologi.

Adakala ada benarnya juga jika aku mengatakan kalau dasar kecerdasan adalah gerak pikir, sebab gerak pikir yang melampaui waktulah yang akan memberikan sedikit kelegahan akan kemenangan. Sedangkan gerak pikir yang berjalan bersama waktu hanya mampu menginspeksikan diri di dalam zona aman, tetapi tidak mampu memproduksi.

Hidup entah dengan ototitas kesenjangannya mempertemukan aku dengan seorang wanita yang sedang duduk di warung kopi di sisi jalan, hanya beberapa meter dari kosku. Awalnya, aku hanya ingin membeli sebungkus rokok dan kopi untuk menjadi temanku demi menembus malam itu dengan beberapa ide yang mendesak di dalam benak. Dalam keadaan seperti ini, nikmat sekali untuk menulis cerpen dan melahirkan beberapa sajak sebagai anak jiwa, yang lahir dari keintiman serta pergulatan hakikat.

Tidak tahu dirasuki oleh setan apa, setelah membeli sebungkus rokok sempurna aku sesaat melepas lelah di warung kopi itu. Aku pada akhirnya membakar sebatang rokok. Persis ketika aku nyalakan api rokok, wanita itu memintanya sebatang. Aku terperangah, sebab tidak biasa melihat wanita sehaus itu pada nikotin.

Wajahnya lelah bercampur penat, seakan ada suatu hal yang tersendat di dalam benak. Kuperhatikan tarikan pertama asap tembakau itu, dia menghembuskan dengan perasaan yang membebaskan. Kegelisahan itu hilang di dalam wajahnya bersama sebuah seni yang dibungkus bersama senyuman yang dia lemparkan. Artistik sekali wanita itu. Aku membatin.

“ Sepertinya kau tidak tinggal di kompleks ini!”

Aku membuka percakapan. Dia masih belum menatapku, seakan tidak mendengar apa yang telah aku katakan. Binar matanya masih bebas mengembara, serupa menemani tembakau itu dengan hayalan-hayalan kecilnya.

“ Apa tadi kamu bicara?”

“ Iya, sepertinya kau tidak tinggal di kompleks ini!”

“ Bukan berarti aku tidak bisa duduk di sini dan sampai di tempat ini kan?”

Aku bertemu dengan kebingungan menghadapi wanita ini dengan kesopananku. Seakan mengerti dengan keheranan yang aku pancarkan, dia tertawa kecil memperhatikan air mukaku yang pasih.

“Tadinya aku merasa sepi sekali dan perjalanan membawaku ke tempat ini. Betul sekali, aku tinggal di kompleks sebelah. Tetapi aku sering ke sini kok, justru aku yang sering tidak melihatmu di sini.”

Baru pada saat itu aku sadar, kalau memang benar, aku saja yang jarang ke tempat ini. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengunjungi perpustakaan di daerah-daerah setempat.

“Kamu Gibral kan?”

“Bagaimana kau bisa tahu namaku?”

“Aku banyak mendengar tentangmu dari teman – temanku!”

“Apa yang mereka ceritakan?”

“ Itu lain persoalannya!”

Tanggapanya lepas kendali, tidak peduli pada keingintahuanku sebagai objek yang mereka bicarakan. Dan akupun ikut-ikutan mengabaikan keingintahuanku sendiri.

“Tadi kudengar kalau kau sedang merasa sepi. Apakah tidak ada satu halpun yang mampu menghiburmu?”

“Menurutmu hal-hal apa yang bisa menghibur wanita sepertiku?”

Aku sedikit bergidik, sehingga hampir kelihatan salah tingkahku. Soalnya, bagaimana mungkin privasinya harus aku jawab dengan aku menempatkan diriku di dalam posisinya.

“Mungkin dengan mengecat kuku kakimu, kau akan sedikit terhibur dengan itu. Atau mengecat kuku jarimu.”

“Itu sangat lucu untuk wanita seumurku, apalagi untuk wanita sepertiku!”

“Bukankah untuk seorang wanita, itu sangat menyenangkan?”

“Tidak untuk semua wanita!”

Dengan wanita yang satu ini aku kebingungan untuk mulai dari mana agar bisa bercakap-cakap dengannya. Semua yang aku ucapkan terasa mentah dijawabnya. Demikian aku memilih untuk diam saja, sembari menatapnya dalam-dalam.

“Mengapa kau menatapku seperti itu?”

“Kau berbeda dengan wanita pada umumnya.”

“Apa itu untuk yang baik, atau buruk?”

“Menurutmu apa yang aku pikirkan hingga aku mengatakan seperti ini?”

Aku bermaksud membuat jebakan pertanyaan persis seperti yang dia berikan untukku pada awalnya.

“Mungkin kamu menganggapku wanita yang tidak berbudi, sopan, dan bisa jadi sedikit nakal. Karena aku perokok, mataku sayup-sayup, dan konklusimu begitu merendahkanku!”

“Kesimpulan seperti itu terlalu lucu untuk pria seumurku, apalagi setipe aku.”

“Bukankah penilaian seperti itu sangat menyenangkan untuk seorang pria?”

“Tidak untuk semua pria!”

“Dan kau berhasil membuat rumusan yang sama seperti caraku merumuskan pertanyaanku sebelumnya. Apa maksudmu?”

“Aku hanya berharap kau memperlakukan dirimu sebagaimana hakikatnya wanita.”

“Menurutmu seperti apa hakikat seorang wanita? Kau terlalu berani untuk berbicara seperti itu sementara kau bukan seorang wanita. Menjadi ibu rumah tangga? Itu maksudmu?”

Pandanganku bisa menembus segala penjuru demi mencari jawaban untuk pertanyaan itu. Aku demikian lebih senang lagi menelusurinya, untuk lebih tahu dari pada dia tahu tentang dirinya sendiri.

“Sederhana saja. Wanita itu harus cantik, anggun, sopan, dan mampu merahasiakan apapun. Itu hakikatmu!”

“Kau pikir wanita adalah lembayung senja yang jingga merah merekah? Yang indah dan mesti dipotret oleh pikiranmu?”

“Ya, seperti itulah wanita. Seperti lembayung senja, yang nyaris memikat semua mata. Menjadi obsesi yang sulit untuk dilupakan dan dihapuskan. Tetapi, bukan pikiranku yang memotret tetapi wanitalah yang memberikan stimulus itu.”

“Jika wanita hanyalah lembayung senja, akankah kami hanya menjadi hiasan dari di tengah pergantian siang ke malam? Bahwa hidup sebenarnya tidak seindah itu. Tidak seindah lembayung senja.”

“Sedikit banyak kamu akan bisa ditolong karena kecerdasanmu. Namun kecerdasan juga adalah keutamaan wanita, biar wanita indah tidak hanya milik lukisan seniman. Wanita itu mesti sehalus sutra. Menjadikan dirinya sebagai sebuah kecerdasan yang mampu melumpuhkan. Itulah kecerdasan.”

“Bagi wanita lain barangkali kecerdasan adalah keindahan yang melumpuhkan. Menurutku itu bukanlah kecerdasan melainkan panorama yang hanya sekedar menyegarkan. Sebab kecerdasan di saat-saat tertentu tidak mesti mempertontonkan keindahan.”

Kehakikian persoalan hidup semakin membungkus aku dan wanita di hadapanku ini.

“Aku kira kau juga sedikit banyak sudah tergerus oleh zaman. Sebab, kepribadian yang kau persembahkan ini, sangat tidak meng-Indonesia sekali. Gadis-gadis Indonesia tingkahnya tidak seperti itu.”

“Kau mungkin adalah salah satu lelaki yang terlalu lama menginspeksikan hidupmu untuk membaca kisah-kisah sejarah Indonesia di masa silam. Bahwa wanita digambarkan oleh sejarawan seperti ini dan itu. Penting untuk kau ketahui bahwa Indonesia bukan lagi seperti yang dirumuskan di dalam teks-teks kuno. Indonesia milik tiap pribadi sekarang.”

“Apakah kau dengan sengaja menghapus kewanitaan Indonesia?”

“Kini Indonesia tidak seperti yang dikonstruksikan di dalam teori-teorimu.”

“Aku hanya ingin mengembalikan Indonesia ke dalam pemikiran yang lebih jernih.”

“Bermaksud mengembalikan wanita di dalam rumah serta terus mendekam di dalam dapur?”

Sulit sekali untuk mengerti alur pemikiran orang ini. Dia begitu tahu tentang wanita, kewanitaan, dan Indonesia tetapi juga pada saat itu dia membebaskan kewanitaan Indonesia sebelumnya dari Indonesia. Apa yang salah antara wanita dan Indonesia? Pelacur-pelacur tua yang berakhir di dalam lembaran inspirasi pujangga. Serasa mereka hidup hanya untuk disyairkan.

“Aku sedikit bisa menangkap kalau bagimu perkembangan Indonesia mengikuti perkembangan dunia! Walaupun Indonesia juga milik dunia tetapi dunia sangat jarang mengikuti perkembangan Indonesia. Sebab bagimu, perkembangan dan kemajuan hanya milik negara liberal. Wanita Indonesia terpengaruh oleh itu.”

“Kau sudah mengerti maksudku. Kehakikian itu membuat wanita Indonesia semakin jauh dari keselarasan. Kehakikian wanita yang selalu kau bicarakan itu milik wanita tempo dulu. Sekarang, suara hati wantia sudah banyak yang berubah.”

Sekarang aku mengerti, bahwa kehakikian rupanya bukan persoalan untuk dan tidaknya sesuatu, melainkan mengenai ruang-waktu, dan kewaktuan. Kehakikian lambat laun berubah menjadi stigma jika tidak meleburkan diri bersama arus kehidupan. Hidup di dunia bisa jadi hanya milik dunia, bukan milik siapa-siapa. Sekali itu dia menghembuskan nafas panjang legah seakan ada sesuatu yang telah menyesakan dadanya. Satu batang rokok lagi dibakarnya, dan pada pemilik warung aku segera memesan kopi. Kutahu kalau wanita ini sudah biasa dengan segelas kopi berdua.

“Apalagi wanita-wanita yang kini berjejer di pinggir toko, menjual kemolekan serta seluruh tubuhnya. Para pejabat datang menenteng mereka dengan wajah puas. Binal terpancar dari binar mata mereka. Sadarkah kalau wanita itu tidak hanya soal pemuas kebutuhan seksual? Sebab mereka juga memiliki dimensi perasaan yang mereka simpan sendiri secara terahasia.”

“Wanita dijadikan sebagai mesin pengeruk uang, pemenuhan seksual yang paling memuaskan. Tidakkah wanita sudah terlalu dihina oleh paradigma sebagian besar bangsa Indonesia? Mengapa ini terus dibiarkan sehingga wanita masih terus diperlakukan dengan sedemikian hinanya, tanpa kemanusiaan?” Dia masih melanjutkan.

Aku demikian hanya memilih untuk terus mendengarkannya. Sebab, yang dia bicarakan bukan tentang kegalaluan seperti remaja pada umumnya, melainkan dia mewakili berpuluh juta wanita di Indonesia yang mengadu kebebasan bersama di lingkungan, negara, dan hidup yang sudah terlalu keras menghidupkannya dan memperlakukannya demikian.

“Aku muak mendengarkan tokoh agama bicara tentang moral. Bagiku tidak semua moral itu benar-benar bermoral tetapi atas nama moralitas membenamkan tingkah-tingkah amoral ataukah memang tidak mengeri apa itu moral atau sengaja membiarkan moral dilihat sedemikian rumitnya sehingga liar sudah pikiran masyarakat tentang moral. Mudah sekali bagi kepercayaan dangkal menghasut masyarakat tentang moral. Pada akhirnya membunuh dengan rasa benci juga bermoral. Apakah benar demikian?”

Seteguk demi seteguk kopi kami iringi bersama pembicaraan yang kian mencekik batin. Malam semakin senyap, dan hanya beberapa motor lalu – lalang. Sampai ketika kami baru menyadari bahwa hanya kami berdua yang masih nekat berlari menembus malam bersama kewanitaan, moralitas, negara, kehidupan, dan hakikat hidup dalam ruang – waktu.

“Aku sedikit banyak tahu tentang moral. Apakah kau yang bernama Sekar?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku banyak mendengarkanmu dari teman-temanku.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin sekali tahu tentang moral. Tapi, kau rupanya sudah ngantuk. Bolehkah aku bermalam denganmu?”

“Apa mungkin?”

“Paling tidak, kegundahanku moral di dalam jiwaku bisa kau puaskan dengan moralitas tingkahmu ketika seranjang denganku. Aku ingin tahu seberapa jauh penghayatanmu tentang itu.”

Aku sungguh tidak menyangka. Tetapi hatiku tertawa riang gembira. Sebab, dia termasuk wanita paling cantik, cerdas, indah, yang menjadi idaman teman-temanku. Mungkinkah malam ini aku bermoral?

*****

*)Mahasiswa Universitas Warmadewa, Bali. Penulis Novel “Pikiran Itu Nyata” Terbitan Nusa Indah tahun 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *