Mex Bocah Yatim Tangguh: Sekolah Sambil Bekerja

1841
Maximus Nerdo (Foto: Yuga/Florespost.co)

FLORESPOST.CO, Ruteng – Hidup itu butuh perjuangan. Untuk mendapatkan apapun yang kamu inginkan, tentu kamu harus berjuang. Hal itulah yang dialami oleh Maximus Nerdo. Remaja berusia 16 tahun yang duduk di Kelas VIII SMPN 1 Langke Rembong Manggarai, NTT, ini harus bekerja demi melanjutkan sekolah dan menyambung hidupnya.

Di saat remaja seusianya mungkin bingung membeli gadget yang canggih dan bermain jejaring sosial, Maximus Nerdo (16) yang berasal dari Kampung Colol, Desa Colol, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur, bersekolah sambil bekerja di satu toko bangunan. Apa yang dilakukan Mex, begitu ia biasa disapa teman-temannya, ini memang begitu luar biasa. Semangatnya pantang menyerah.

Mex, anak dari pasangan Yohanes Nerdo (alm) dan Agnes Te’e (almarhumah), mengaku bekerja di sebuah toko bangunan di Kota Ruteng, Manggarai. Meskipun hanya diupah Rp 150.000 hingga 250.000 per bulan dari hasil kerjanya sebagai penjaga toko bangunan, ia tetap bersyukur dan berterima kasih karena masih bisa melanjutkan sekolah dan hidupnya.

“Pulang sekolah saya makan dan langsung kerja di toko bangunan. Kebetulan saya tinggal di yang punya toko bangunan bersama karyawan lain yang bekerja di toko tersebut,” jelas Mex saat ditemui Florespost.co di sekolahnya, SMP Negeri 1 Langke Rembong, Rabu (09/08/2017) sore.

Bagi Mex, toko bangunan yang saat ini dijaganya merupakan tempat bagi dirinya untuk tetap bertahan hidup dan bisa sekolah.

“Saya bekerja di toko bangunan sejak 8 Mei 2017, saat itu saya lamar di toko bangunan dan langsung diterima. Saat itu juga, dengan berani saya langsung bilang ke bos pemilik toko bahwa saya mau kerja sambil sekolah. Awalnya, keinginan saya ditolak. Tetapi mungkin karena melihat muka saya, akhirnya bos saya itu ijinkan saya untuk lanjutkan sekolah. Dan mereka mendaftarkan saya di sekolah ini dan melunasi uang sekolah saya,” tutur Mex.

Mex mengungkapkan pula, saat ini dia berjuang sendiri untuk hidup, tanpa bantuan sanak saudaranya.

“Akhir tahun 2016, saya lari kampung, rumah kakak kandung saya, untuk mengurangi beban mereka dan saya datang ke Ruteng dan melamar kerja di salah satu salon di Kumba Ruteng, dan bekerja selama 6 bulan. Meski tidak digaji, saya tetap bersyukur karena intinya saya diberi makan. Namun karena niat saya ingin sekolah, saya minta keluar dari salon itu dan lamar di toko bangunan. Dan saya diterima karena bos itu iba melihat saya,” tutur Mex kepada media ini.

Dengan menjaga toko setiap pulang sekolah, Mex mengaku tidak pernah mengganggu kegiatan belajar di sekolahnya. Mex sudah terbiasa bekerja sambil sekolah. Justru sekolah dan bekerja baginya sebuah pekerjaan yang harus dijalaninya.

“Saya menjaga toko hingga pukul 19.00 wita, lalu saya dan pekerja yang mengatur atau membongkar barang di gudang. Setelah itu, malam saya tetap belajar dan mengerjakan tugas sekolah,” ucapnya.

Baginya, pantang untuk mengeluh ataupun malu selama pekerjaan yang dilakukan halal dan tidak merugikan orang lain.

Maximus pun tak pernah menyalahkan takdir atas kondisi kehidupan yang dijalaninya saat ini. Meski sulit dan melelahkan, namun karena perjuangannya untuk meraih cita-citanya, semua perasaan itu akan sirna.

“Saya punya cita-cita ingin jadi pengusaha kaya. Jadi saya harus sekolah. Kalau pun nanti saya tidak lanjut sekolah saya tetap kerja,” katanya.

Pelajar yang juga suka bermain bola ini pun berharap mendapatkan bantuan atau pun beasiswa dari sekolahnya.

“Saya berharap dapat bantuan dari sekolah, bebas biaya sekolah. Ataupun beasiswa. Tapi saya tidak dapat. Semoga pemerintah melihat anak seperti saya,” tuturnya dengan sedih. (Yuga, Editor: FR/Florespost.co).

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here