Beranda Profil Roy, Sang Pahlawan Lingkungan Hidup dan Raih Penghargaan

Roy, Sang Pahlawan Lingkungan Hidup dan Raih Penghargaan

296
0
Vitalis Jehadut alias Roy (dalam foto kedua dari kanan) saat pose bersama dengan Bupati dan Wabup Manggarai usai terima penghargaan. (Foto/Istimewa)

FLORESPOST.CO, Ruteng – Upaya untuk menciptakan paru-paru kota Ruteng bukan pekerjaan mudah. Satu hal yang pasti adalah keberanian berkorban baik waktu maupun uang.

Namun Vitalis Jehadut, pria kelahiran Kampung Lawir, Kelurahan Lawir, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, berani mengambil langkah itu.

Sehari-hari Vitalis Jehadut atau biasa di sapa Roy ini, berprofesi sebagai petani.

Karena rasa cinta dan pedulinya terhadap lingkungan hidup dan kelestarian hutan, dia berani merogoh uang dari kantongnya sendiri untuk melestarikan Hutan Kota Ruteng.

Suatu hal yang berani, dan tidak semua orang berani melakukan hal itu.

Roy mengelola lahan seluas 3 hektar lebih miliknya yang terletak di Kilo Lima, Watu Alo, Kabupaten Manggarai, NTT untuk dijadikan sebagai Hutan Kota Ruteng.

Hutan kota sebagai paru-paru sumber napas kehidupan bagi masyarakat kota Ruteng.

Di tengah kesibukannya sebagai petani, di atas tanah miliknya seluas 3 hektar yang terletak di Lingko Nanga Nasa, wilayah kantung Kelurahan Lawir, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, NTT tersebut, dia dengan berani dan tanpa berpikir banyak menjadikan lahannya tersebut sebagai Hutan Kota Ruteng.

Lahannya tersebut terletak tidak jauh dari areal ratusan hektar sawah Kilo Lima dan Watu Alo, dan merupakan wilayah kantung Kelurahan Lawir, Kecamatan Langke Rembong.

“Penanaman tahap pertama saya lakukan 7 tahun lalu dengan menanam 8000-an anakan pohon mahoni yang kalau dipikir-pikir tidak  memiliki  nilai ekonomis,” katanya.

Dia tidak tergiur dengan  apa yang dilakukan petani lain yang memiliki lahan di sekitar hutan kota miliknya. Mereka  menggunakan  lahannya untuk menanam pohon cengkeh.

“Memang jika dilihat kondisi tanah di Lingko Nanga Nasa lahannya sangat cocok untuk dijadikan perkebunan cengkeh, tetapi demi kecintaan akan lingkungan sejuk dan rindang, saya tetap fokus tanam pohon,” kata Roy penuh semangat kepada Florespost.co.

Pada tahun 2015, di tanah warisan orang tuanya tersebut, Roy melakukan penanaman tahap kedua di tengah rindangnya pohon mahoni yang ditanam 7 tahun lalu.

Pada tahap ini dia menanam kurang lebih 3000-an anakan pohon salam.

Memang pohon jenis seperti ini selain daunnya bisa dimanfaatkan untuk bumbu masakan, batang pohonnya juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan meubel.

“Memang ini kerja gila tetapi saya juga berpikir untuk 20-an tahun yang akan datang,” kata Roy.

Vitalis Jehadut alias Roy saat terima penghargaan. (Foto/Istimewa)

Selama 7 tahun  pengelolaan hutan kota, dia sudah menghabiskan biaya kurang lebih Rp. 100 juta.

Dana itu digunakannya untuk membeli anakan hingga biaya perawatan anakan pohon agar bisa bertumbuh dengan subur.

“Setiap tahun saya harus mengeluarkan uang Rp 7,5 juta untuk perawatan hutan kota tersebut. Saya menyewa berapa pekerja yang membantu saya selama 3 kali setahun untuk membersihkan dan merawat pohon yang ada di dalam lahan 3 hektar ini,” ungkap ayah 3 orang anak ini.

Kreativitas dan inovasi Roy menciptakan hutan kota sebagai salah satu paru-paru di Manggarai mendapat apresiasi. Pemerintah Kabupaten Manggarai memberikan penghargaan Kalpataru.

Selain itu, Roy juga mendapat penghargaan dari Kodim 1612 Manggarai sebagai Pahlawan Lingkungan Hidup.

Kedua penghargaan tersebut diterima Roy setelah upacara pengibaran bendera Merah Putih dalam rangka HUT RI ke-72 di Lapangan Motang Rua, Ruteng, Manggarai, NTT, pada Kamis (17/08/2017).

“Saya berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai dan Kodim 1612 Manggarai atas penghargaan ini. Saya melakukan ini semata-mata karena rasa cinta saya terhadap bumi Manggarai dan masa depan generasi muda. Sekaligus mengajak masyarakat manggarai untuk selalu mencintai bumi miliknya dengan menanam pohon agar di generasi berikutnya anak cucu kita masih bisa mengetahui hutan itu seperti apa bukan dari cerita saja,” terang Roy.

Hutan kota milik Roy ini sering dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang melakukan wisata sepeda maupun tracking sekitar areal persawahan Watu Alo dan Kilo Lima. Para wisatawan tersebut selalu menyempatkan diri berekreasi di hutan kota tersebut.

Selain itu, tambah Roy, saya peduli dengan petani-petani di sekitar hutan kota itu, yang sangat membutuhkan air, sehingga adanya hutan itu mereka tidak kekurangan air karena saat ini sejumlah mata air ada di dalam area hutan kota tersebut. (Penulis: Yuga. Editor: YS/Florespost.co).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here