Beranda Unique Flores Adat dan Seni Budaya Watu Waru, Batu Sakral Suku Melong di Manggarai Timur

Watu Waru, Batu Sakral Suku Melong di Manggarai Timur

515
1
Watu Waru milik Suku Melong di Matim, NTT. (Foto: Mulia Donan/Florespost.co)

FLORESPOST.CO, Borong Watu Waru adalah batu yang memiliki nilai sakral tersendiri bagi Suku Melong di Desa Mokel, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa tenggara Timur (NTT).

Konon katanya batu-batu yang terletak di atas puncak Bukit Golo Melong, Desa Mokel tersebut berasal dari seorang Embo (Nenek Moyang) Suku Melong yang datang dari Golo Meleng (Gunung Meleng) yang terletak di Sita, Kecamatan Borong, Matim, NTT.

Zakarias Riba (76), “Tua teno” (Tuan Tanah) Suku Melong, saat ditemui Florespost.co di kediamannya Kamis, (7/9/2017) menjelaskan bahwa, nenek moyang yang tinggal pertama kali di atas bukit Melong (Golo Melong) adalah Meka Matu.

Ketika Meka Matu sudah menetap dan tinggal di atas bukit tersebut, kisah Zakarias, batu-batu bulat tersebut tiba-tiba muncul dengan sendirinya di hadapan Meka Latu.

Lanjut Zakarias, selang beberapa tahun kemudian Meka Matu dipanggil oleh Suku Mokel untuk tinggal bersama Suku Mokel di sebuah kampung yang bernama Deru. Meskipun demikian, tanah yang Meka Latu tinggal sebelumnya itu menjadi hak penuhnya Meka Latu.

“Batu unik yang berbentuk bulat tersebut sampai saat ini masih terkumpul rapi di atas bukit Golo Melong,” ungkap Zakarias.

Zakarias menambahkan, kalau dalam Suku Melong ada keluarga yang meninggal dunia, batu yang ada di atas bukit Golo Melong itu hilang dengan sendirinya. Lalu kalau ada dalam Suku Melong yang melahirkan keluarga baru, batu tersebut muncul dengan sendirinya di atas bukit Golo Melong.

Yang paling uniknya, jelas Zakarais, kalau suku lain datang mengambil batu ini dan dibawa ke tempat lain, batu ini kembali dengan sendirinya dan berkumpul lagi dengan batu-batu yang lain.

Zakarias menuturkan, batu-batu tersebut terdiri dari berbagai macam ukuran, ada yang ukuran besar dan ada juga yang berukuran kecil.

“Batu tersebut mengikuti umur anggota keluarga yang berada dalam suku tersebut,” tuturnya.

Zakarias berharap, bagi anak-anak saya khususnya generasi Suku Melong tetap menjaga batu-batu tersebut.

“Tolong jaga batu ini dengan baik, jangan membuat rusak dan jangan buang sembarang di luar bila perlu kalian kumpulkan, dan menata lagi batu-batu ini agar tetap jaga kelestariannya. Karena batu ini merupakan batu yang memiliki nilai tersendiri dan batu tersebut juga merupakan bagian dari keluarga kita khususnya dalam Suku Melong itu sendiri,” harapnya

Ditambahkanya, dalam Suku Melong terdapat lima keturunan yaitu, keturunan  Meka Matu, keturunan Meka Rasi, keturunan Meka Langging, keturunan Meka Rambang, dan keturunan Meka Zakarias Riba.

Dari kelima keturunan Suku Melong ini, tutur Zakarias, yang melanjutkan kedudukan sebagai tua teno (Tuan Tanah) dalam Suku Melong sampai saat ini adalah Meka Zakarias Riba. (Mulia Donan/Florespost.co)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here