Beranda Opini Opini: Mencari Jalan Terbaik, Jangan Cuci Tangan (Penutupan Galian C)

Opini: Mencari Jalan Terbaik, Jangan Cuci Tangan (Penutupan Galian C)

326
0
Lokasi tambang pasir di Bondo, Manggarai Timur, NTT. (Foto: Andre)

FLORESPOST.CO :

Mencari Jalan Terbaik, Jangan Cuci Tangan (Penutupan Galian C)

Oleh : Erik Jumpar*

 

Satuan Reserse dan Kriminal Polres Manggarai memutuskan sebuah putusan menarik nan-kontroversial dengan menutup lokasi penggalian pasir Golongan C di dalam wilayah administrasinya. Terhitung, hingga kini sudah ada 5 lokasi penggalian yang ditutup oleh pihak kepolisian, dan mungkin masih ada tempat lain yang dalam waktu dekat akan segera ditutup.

Di Kabupaten Manggarai, penggalian pasir yang ditutup adalah di Wae Reno pada 18 Agustus 2017 dan di Weol, Cancar pada 28 Agustus 2017. Juga yang terbaru, di Wae Pesi, Kacamatan Reok pada pekan lalu.

Kepolisian Resort Manggarai juga melakukan aksi serupa di Kabupaten Manggarai Timur. Di Kabupaten Manggarai Timur yaitu di Desa Compang Ndejing Kecamatan Borong dan di desa Watu Mori (Bondo), Kecamatan Rana Mese pada 29 Agustus 2017.

Seperti kita ketahui bersama, pasca putusan ini diambil, jagat dunia maya dan dunia nyata intens mendiskusikan polemik ini. Ragam argumentasi pro-kontra hiasi ruang diskursus. Masing-masing orang mencoba membangun argumentasi dengan segala macam dalih dan solusi yang ditawarkan.

Setidaknya, dari perdebatan alot di dunia maya, penulis menemukan dua benang merah yang menjadi dasar orang untuk berargumentasi. Pertama, pihak pro-penutupan penggalian pasir Galian Golongan C menilik dari kaca mata ekologis. Tentu kita ketahui bersama bahwa konteks kekinian, isu ekologis menjadi isu seksi dan layak untuk disikapi dengan serius. Masifnya eksploitasi sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan telah mengancam eksistensi lingkungan hidup. Negara dalam usaha mencari sumber pendapatan salah satunya dengan mengeksploitasi segala kekayaan alam. Dalam proses eksploitasi sumber daya alam ini, negara atau pihak ketiga (baca:swasta) fokus mengejar profit tanpa diimbangi dengan spirit penyelamatan lingkungan.

Akibatnya, ekses jangka panjang luput dari  perhatian. Hal inilah yang mendorong berbagai lembaga non-profit mengeluarkan rekomendasi untuk mendorong upaya penyelamatan lingkungan, termasuk Gereja Katolik. Melalui Ensiklik Kepausan yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus, Gereja Katolik mencoba untuk mengingatkan dunia untuk bersama-sama menjaga dan merawat bumi. Dalam seruannya, Gereja Katolik membangun sebuah konsep berpikir bahwa kita diharapkan untuk lebih jauh berjuang dan terlibat dalam proses merawat bumi. Gereja mengajak seluruh elemen untuk lebih arif dalam mengeksploitasi bumi. Hemat penulis, hal ini memang ada benarnya juga. Sudah  menjadi kewajiban bersama untuk menjaga dan merawat ibu bumi.

Kedua, pihak kontra penutupan penggalian Golongan C membangun argumentasi berbasiskan pertimbangan ekonomis. Mereka berpendapat bahwa aksi penutupan aktivitas galian Golongan C telah mencaplok sumber daya ekonomi masyarakat. Masyarakat telah lama menaruh harapan di balik pasir dan kerikil. Pasir dan kerikil sudah menjadi piring kehidupan. Mengais rejeki dengan menggali setiap kerasnya tanah dan batuan guna mendulang rupiah. Dari pasir dan kerikil pula, mereka menafkahi keluarga, menabung dan membiayai pendidikan bagi generasi penerus Nuca Lale. Alangkah naifnya, saat Polres Manggarai menutup kran kehidupan mereka. Mereka  yang sudah berpuluh-puluh tahun menaruh harapan pada pasir dan kerikil.

Dari silang pendapat yang didapati penulis di atas, penulis merasakan kerisauan besar. Pasalnya, banyak saudara-saudara di desa saya yang mengais rejeki dari aktivitas menggali pasir. Kalau misalkan, aktivitas pertambangan ditutup dengan dalih penyelamatan lingkungan, dengan dalih pertambangan ilegal, maka ke mana dan di mana lagi pemilik lahan dan para pekerja mencari sesuap nasi? Apakah mereka dibiarkan terus-terusan merana tanpa kepastian, terus-terusan gelisah karena sepiring nasinya sedang ditutup atas nama kecacatan prosedur?

Polres Manggarai seharusnya jeli dalam menertibkan aksi penutupan lokasi pasir. Artinya, sebelum melakukan penertiban perlu melakukan kajian yang lebih detail, menelisik apa dan bagaimana konsekuensi yang akan dialami warga pasca penutupan lokasi galian pasir? Apalagi, selama beroperasinya pertambangan yang ditutup, disinyalir kuat bahwa daerah mendapat profit dari retribusi. Itu artinya, para penambang berasumsi bahwa aktivitas yang mereka lakukan legal. Sah secara hukum dan prosedur.

Jangan Cuci Tangan

Sejauh ini, kita patut mengapresiasi langkah cepat yang ditempuh Pemerintah Kabupaten Manggarai dengan menjalin koordinasi dengan Kepolisian Resort Manggarai. Seperti yang diberitakan, pada Senin (4/9/2017) Bupati Manggarai, Deno Kamelus melakukan pertemuan dengan Kapolres Manggarai Marselis Sarimin Karong di ruang kerja Kapolres Manggarai guna membicarakan terkait penutupan lokasi galian pasir di Kabupaten Manggarai. Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Manggarai berjanji untuk segera mengurus secepatnya dokumen tambang galian Golongan C yang sempat ditutup akibat tidak mengantongi izin usaha pertambangan (IUP). Pemda Manggarai dalam pertemuan tersebut berjanji untuk memfasilitasi pemilik lahan pertambangan dalam proses pengurusan izinan usaha pertambangan.

Dalam UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah membentuk beberapa perubahan dalam manajemen pemerintahan kabupaten. Jika sebelumnya, dalam UU No. 32 tahun 2004, Izin Usaha Pertambangan menjadi wewenang pemerintah kabupaten, akan tetapi sejak lahirnya UU No. 23 Tahun 2014 diserahkan kepada pemerintah provinsi. Hal ini semakin mempersulit para penambang untuk mengurus izin, karena itu pemerintah kabupaten harus menunjukan taringnya dengan memfasilitasi pemilik lahan dalam perurusan izin pertambangan. Jangan sampai daerah hanya mengambil untungnya saja, buntungnya dihindari.

Di sisi lain, saat Pemda Manggarai telah menunjukan itikad baiknya dengan membangun komunikasi dengan pihak kepolisian, sementara Pemda Manggarai Timur masih berdiam diri. Hingga kini belum ada tanda-tanda untuk membangun koordinasi dengan kepolisian, minimal untuk membicarakan serius perihal penutupan lokasi galian pasir di Desa Watu Mori, Kecamatan Rana Mese dan di Desa Compang Ndejing Kecamatan Borong. Dalam pernyataan yang disalin dari Floresa.co, Senin (4/9/17) dengan judul berita (Kapolres Manggarai Sindir Bupati Manggarai Timur), Kapolres Manggarai menyindir Bupati Manggarai Timur yang belum berkomunikasi dengan dirinya.  Berikut petikan komentarnya “ Bukan seperti Bupati Manggarai Timur Yos itu. Mana dia mau ketemu kapolres membahas masalah ini” ujarnya.

Dari pernyataan Kapolres Manggarai ini, saya melihat bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur belum menangapi penutupan galian pasir Golongan C. Karena itu, seharusnya Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur menunjukan sikap: Pertama, sikap keberpihakan pemerintah daerah belum tampak dalam polemik ini. Idealnya, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur perlu mengadvokasi secara serius dan melihat secara langsung apa yang menjadi substansi persoalan. Hal ini sebagai tangung jawab otoritas kabupaten, sebab daerah mendapat sumbangsih dari retribusi galian pasir.

Kedua, Pemerintah Manggarai Timur tidak boleh cuci tangan. Dalam persoalan penutupan aktivitas galian pasir ini, pemerintah tidak boleh menutup mata dan telinga. Karena itu, besar harapan saya agar Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur melibatkan diri lebih jauh dalam memperjuangkan keresahan para penambang. Sebab, menambang telah menjadi lahan hidup bagi sebagian warga.

Jangan sampai, karena kelalaian otoritas Kabupaten Manggarai Timur justru semakin mempersulit kehidupan para penambang. Dalam konteks ini, penulis berharap agar Pemda Manggarai Timur segera bersikap. Dengan bersikap-duduk bersama-berkoordinasi dengan Polres Manggarai, maka jalan terbaik pasti akan ditemukan. Lebih baik berbicara daripada diam seribu bahasa.

*****

Erik Jumpar, Aktivis PMKRI Cabang Ruteng (Dok. Pribadi)

*)Aktivis PMKRI Cabang Ruteng

(Catatan: Isi tulisan di luar tanggung jawab kami, Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here