Beranda Wisata Pati Ea, Ritual Hasil Panen Masyarakat Boru Kedang Flotim

Pati Ea, Ritual Hasil Panen Masyarakat Boru Kedang Flotim

363
0
Ibu-ibu sedang menumbuk padi hasil panen (Foto: Jorddy Felix)

FLORESPOST.CO, Larantuka – Desa Boru Kedang, salah satu desa yang terletak di ujung barat Wulanggitang, 61 km dari Ibukota Flores Timur, NTT.

Boru Kedang menjadi pusat destinasi budaya, di mana kebudayaannya sudah membaur dengan budaya Sikka, namun budaya Lamaholot masih didominasi oleh masyarakat suku Boruk khususnya dalam pesta rakyat “pati ea“.

Frengky Liwu, salah satu tokoh adat menuturkan pati ea merupakan salah satu ritual dari rangkaian beberapa ritual yang dilaksanakan. Pati ea  merupakan ritual  adat yang dilakukan oleh keluarga untuk mensyukuri hasil panen tahunan dan upacara pengantaran jiwa-jiwa bagi orang yang sudah meninggal.

Khusus tahun ini, keluarga dan suku Boruk-lah yang melaksanakan ritual pati ea, katanya.

Lebih lanjut Frengky menuturkan, ritual pati ea yang dilaksanakan hari ini (7/9/2017), adalah ritual menumbuk padi yang sebelumnya telah direndam menggunakan air. Kemudian padi tersebut dijadikan emping. Proses menumbuk padi selalu diawali dengan sebuah ritual khusus di mana para leluhur diundang untuk menghadiri acara dan sekaligus meminta restu dari leluhur.

Dijelaskannya, pembagian tugas telah ditentukan di mana kaum laki laki menggoreng padi (goreng padi tanpa menggunakan minyak), sedang kaum ibu melaksanakan tumbuk padi yang diiring dengan dolo, yang terbagi dalam beberapa kelompok sambil mengitari lesung yang telah disiapkan. Selanjutnya proses menapis emping pun dilakukan.

Lanjut Frengky, tak semua orang harus menapis, dan selama menapis haram hukumnya bagi masyarakat yang ingin mencoba emping, sebelum diolah menjadi pangan lokal yang layak.

Ibu-ibu sedang menapis beras hasil panen (Foto: Jorddy Felix)

Sementara itu Darius Don Boruk, Kepala Desa Boru Kedang, menjelaskan, setelah melaksanakan ritual tumbuk padi, malam harinya, semua suku yang ada wajib memanggil arwah di rumah adat yang telah mendahului, kemudian menjemput ke delapan arwah yang dalam tahun 2017 bersama-sama menuju ke nirwana.

Karena menurut kepercayaan dan keyakinan masyarakat adat Boru Kedang, setelah seseorang meninggal dunia, arwahnya masih berada di sekitar keluarganya yang masih hidup, tandasnya. (Jemmy Paun/Emanuel Bataona/Florespost.co).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here