Beranda Sastra Cerpen: Pengantinku Pergi dari Muka Altar

Cerpen: Pengantinku Pergi dari Muka Altar

868
0
Ilustrasi (sumber foto: pixabay.com)

FLORESPOST.CO :

Cerpen Nancy Mangkut*

Pengantinku Pergi dari Muka Altar

 

Cinta? 
Seluka inikah? 
Setakadil inikah jalannya?
Seperih inikah ujiannya?
Manakala kau berdandan dan itu bukan untuk indah di mataku. 
Malah memilih pergi, tak main-main, kau pergi dari muka altar dari hubungan kita yang sebentar lagi akan sejati. 
Terkutuklah cinta ini. 
Telah memilih pada yang salah. Dulu.
***

Awan kumulus berwarna hitam datang bergulung. Sebuah isyarat pertanda hujan petir akan datang. Tetapi gemuruh hatiku menyemarakan rasa tak sabar. Secantik siapakah kau di dalam balutan putih gaunmu?

Aku menyemprotkan sedikit parfum ke atas jas putihku. Parfum yang kaubeli sewaktu mengikuti kegiatan di luar pulau. Baunya entah mengapa menyerupai bau tubuhmu.

Kulihat dari cermin, ibuku tersenyum beribu arti. Sambil dipilihnya sebuah dasi yang serasi dengan bajuku dan diambilnya dari tumpukkan pakaianku di atas tempat tidur sepasang sarung tangan berwarna putih.

Dia lalu berjalan ke arahku. Membalikkan tubuhku, akupun berhadapan dengan tubuh tua itu yang tetap cantik dalam dekapan warna merah maroon kebayanya.

“Hari ini, kau bukan lagi milikku. Kau akan menjadi milik wanita cantik itu. Dia akan mencintaimu, menjagamu, bahkan dia akan selalu menemanimu dalam setiap musim hidupmu.” Tergambar jelas begitu dicintainya wanita pilihanku itu. Dipujinya. Itulah alasan mengapa aku yakin akan berdiri di sisimu dan berjanji di depan altar itu hari ini. Tak lama lagi.

Aku tunduk dan mengecup keningnya. “Engkau tetap wanita pertama di hidupku. Aku tetap milikmu”. Aku berkata demikian karna aku yakin di suatu hari nanti, entah kapan, ibu akan merasa kekurangan cinta dariku dan itu lantas akan menumbuhkan rasa cemburu yang perih. Akupun akan bingung memilih. Aku dilema. Di suatu hari nanti.

Sebelum hujan benar-benar turun, aku dan keluargaku memutuskan untuk lebih dulu sampai ke gereja. Sebuah gereja tua di kota kita. Sebuah gereja yang selalu menjadi saksi malam-malam kita berdua berdiskusi banyak hal tentang kita.

Tak perlu berapa lama dalam perjalanan, aku dan rombongan keluargaku sampai di pelataran gereja. Gemuruh di langit bersaing dengan gemuruh hatiku. Sebentar lagi. Sebentar lagi, kita bukan lagi dua melainkan satu. Jiwaku akan bersemayam dalam seluruhmu pun sebaliknya. Dendang lagu bahagia kita tak akan berhenti sampai kita tua nanti. Aku percaya inilah cinta sejati. Ya. Cinta kita.

***

Hujan lalu turun. Kaupun belum nampak. Aku bertahan dalam mengerti bila kau tentu repot menjaga gaun itu agar tak ternoda sedikitpun. Karena bila ternoda, orang-orang akan ramai mengaitkannya dengan berbagai mitos. Ada-ada saja.

Hujan masih turun, kala mobil yang membawamu memasuki pelataran gereja. Aku telah siap dengan segala mampuku menerjang hujan tanpa takut demi menjemputmu untuk segera di sisiku. Tetapi seseorang keluar dari dalam mobil membawa payung dan seorang lagi keluar mengikutinya. Lelaki yang pertama itu berjas hitam, lalu membuka pintu mobil. Membopongmu dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu gereja di mana aku dan keluargaku menunggu.

Lelaki itu menurunkanmu begitu hati-hati. Kau menatapnya dan tersenyum. Senyum yang tak pernah kulihat untukku sebelumnya. Siapa dia?

Aku bergegas ke arahmu. Setelah berapa detik. Tetapi kau melangkah mundur. Berlahan kau mengapit lengan lelaki di sebelahmu. Aku tetap melangkah maju. Kau pengantinku. Maka lengankulah yang kauapit. Setelah tertinggal selangkah kecil saja, aku mengulurkan tanganku kepadamu, kau tak menghiraukannya. Aku bingung. Ada apakah ini? Permainan apa ini?

Aku tak bisa membendung kesalku atas sikapmu. Mengapit lelaki di sebelahmu begitu erat seakan tak mau berpisah. Ada apa ini Patricia? Jangan bermain drama.

“Ayo kita masuk, sayang” aku berkata dengan suara bergetar. Cemburu, kesal, malu bercampur aduk.

“Maafkan aku.” Katamu.

“Maaf? Untuk apa?” Aku menangkap ada yang tak biasa akan terjadi.

“Sejatiku bukanlah dirimu. Aku ingin ke altar itu tetapi bukan denganmu. Lepaskan aku. Biarkan aku masuk bersamanya ke dalam sana. Kisahmu bersamaku kutinggalkan di sepanjang jalanku ke sini. Pergilah pungut kisah itu, bila tak gampang melupakanku”.

Kau berkata begitu kejam. Hampir terlihat kau bukan seperti manusia.

“Lalu aku dan semua keluargaku?” aku bertanya sendu. Aku pasti akan menangis.

“Hadir dan berlakulah sebagai undanganku”

Setelah berkata demikian kau dan pengantinmu melangkah masuk ke dalam gereja itu. Hujan jatuh dengan derasnya. Aku terduduk. Sekian banyak tangan meremas bahuku, memberi semangat untukku.

Aku tunduk melihat air mataku yang jatuh ke lantai berkeramik putih itu. Kau telah memilih. Dan aku kausuruh pergi memungut luka di sepanjang jalan.

Sebuah tubuh jatuh terduduk di sebelahku.

“Mari kita ke dalam sana. Jadilah tamu undangan yang tahu diri.” Itu ibuku.

Aku berdiri bersama dengannya. Diseretnya tangan dan langkahku. Di langkah terakhir sebelum pintu ditutup ibu meremas jemariku dalam genggamannya. “Jangan memungut apapun di sepanjang jalan nanti”.

Kini kau kulepaskan.

Aku tak akan memunggut apapun. Sekalipun itu waktu yang telah terbuang percuma bersamamu.

*****

Nancy Mangkut

*) Guru swasta, tinggal di Ruteng.

**) Cerita pendek ini adalah hasil imajinasi, mohon maaf bila ada kesamaan kisah dan kesamaan nama. Tentu, itu hanya kebetulan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here