Beranda Florata News Frando Rande Soi dan Mimpi Perpustakaan untuk Anak-anak Nuabosi

Frando Rande Soi dan Mimpi Perpustakaan untuk Anak-anak Nuabosi

315
0
Beranda rumah Frando Rende Soi disulap menjadi tempat baca anak-anak (Foto: Istimewa)

FLORESPOST.co,Ende – Sebagian besar akademisi memilih hidup netral tanpa kecemasan. Setelah selesai menempuh jenjang pendidikan akademis di universitas, mereka mencari pekerjaan, lalu kembali mengikuti pola hidup masyarakat.

Namun, pola itu tidak berlaku untuk seorang Sabinus Frando Rande Soi, S.S., M. Hum. Pria kelahiran Ende, 11 Desember 1990 ini tidak ingin nyaman dengan kesehariannya sebagai pendidik, di Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan (STKIP) Simbiosis Ende.

Frando, begitulah ia disapa, yang juga Ketua STKIP Simbiosis Ende terebut, menaruh perhatian lebih terhadap gerakan literasi di tanah air, khususnya di daerah Nuabosi, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegetirannya sewaktu menyaksikan minimnya semangat membaca anak – anak di Nuabosi, membawa Frando pada suatu pikiran yang berbasis pada solusi.

Ia pun mengumpulkan sendiri buku – buku bacaan, meminta donasi dari sahabat – sahabatnya di NTT maupun di luar NTT, terkhusus buku bacaan untuk anak – anak, sebagai langkah awal menyediakan bahan bacaan untuk anak – anak di Nuabosi, di Kampung Pley.

Melalui pesan WhatsApp kepada kepada Florespost.co, di Ruteng, Rabu (13/09/2017), Frando menyampaikan bahwa terkahir kali ia mendapatkan donasi empat puluh buku dari BUKU BAGI NTT REGIO JOGJA, pada 23 Juli  2017.

Lebih lanjut Frando menjelaskan,  bahwa motivasinya sederhana, tak muluk – muluk, yakni ia tak ingin generasi muda di Nuabosi tumbuh dalam keadaan rabun membaca dan pincang menulis.

Meskipun di Nuabosi terdapat beberapa Sekolah Dasar, serta satu SMP, SMP Swasta Nusantara, yang juga cukup banyak berperan dalam mengedukasi generasi muda, Frando menyatakan itu tak cukup. Sebab, faktor lingkungan sangat menentukan pola pikir remaja. Jika ingin anak – anak pola pikirnya sehat, lingkungan tidak boleh sakit parah.

“Saya hanya mau menggelitik semangat membaca buku anak – anak Nuabosi. Karena buku adalah sumber wawasan. Dengan membaca anak – anak memiliki daya untuk berpikir, kemauan untuk mencari tahu, dan kehendak untuk berbagi,” papar Alumnus Pasca Sarjana Universitas Warmadewa, Denpasar – Bali itu.

Gerakan ini mulai dirintis pada 14 Juni 2017, dengan memberi nama Pley Pustaka. Langkah awal yang dilakukan adalah berlangganan majalah Kunang-kunang yang dibeli di Nusa Indah, di Kota Ende untuk menjadi bahan bacaan pertama buat anak – anak. Lokasi  tempat baca anak – anak sampai saat ini adalah di teras rumahnya sendiri, yang digunakan juga bagi tempat parkir kendaraan pribadinya. Tempat yang sebetulnya tak cukup nyaman bagi anak – anak untuk berkelana dengan isi buku yang dibaca.

“Merintis perpustakaan mini dengan kemampuan seadanya memang sangat sulit. Donasi buku memang sangat diharapkan, karena dengan banyak literatur, maka pilihan untuk menambah wawasan semakin banyak,”ungkap Ketua OMK Stasi Nuabosi itu.

Saat ditanya apakah gerakan literasi ini akan diperluas, Frando menyampaikan untuk sementara ia masih berfokus pada anak – anak di Kampung Pley, karena kekurangan literatur. Ia menjelaskan budaya membaca itu timbul dari sebuah kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus. Nah, kenapa anak – anak? Karena mereka masih memiliki perjalanan hidup yang panjang sehingga jika dibiasakan sejak dini, bukan tidak mungkin kebiasaan itu bisa membudaya dalam diri anak – anak.

Menyinggung apa yang menjadi mimpi besar dari gerakan yang dibangun oleh Mantan Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Cabang Denpasar tersebut, ia rupanya ingin mendirikan perpustakaan dengan bahan bacaan yang bisa dijangkau oleh semua kalangan. Nuabosi juga adalah daerah agraris, maka bahan – bahan bacaan yang berfokus ke dunia pertanian juga akan diperbanyak ke depannya, agar muncul petani – petani profesional pula.

“Ini menjadi mimpi besar saya sebagi anak Nuabosi. Mimpi besar ini harus saya mulai dari mimpi kecil seperti sekarang yang sedang saya rintis,” tegasya.

Adapun yang mengharukan dari gerakan literasi yang dipelopori oleh Frando, Alumnus Seminari Mataloko ini, remaja – remaja yang tak mendapat kesempatan untuk berkutat di dunia pendidkan formal seperti Ferdin Koro dan Lumen, di waktu – waktu senggang juga mengkonsumsi bahan – bahan bacaan tersebut.

Frando menyatakan, ia tak bisa berjalan sendiri. Butuh perhatian dari pemerintah agar menajdi mitra gerakan, jika ingin generasi muda cerdas. Tak rabun membaca dan pincang menulis, usaha ini mesti direspon dengan baik, didukung dengan memberikan sumbangan konkrit. (Efraim/YS/Florespost.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here