Tragis! Bocah 13 Tahun Ini Diperkosa Berkali-kali hingga Depresi

oleh
Ilustrasi (Istimewa)

FLORESPOST.co, Borong –  Bunga, sebut saja namanya demikian, seorang remaja berusia 13 tahun, mengalami nasib tragis karena diduga menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual.

Betapa tidak, Bunga diduga menjadi korban perkosaan dan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh empat pria terduga pelaku dari Kampung Beker, Kelurahan Rongga Koe, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Peristiwa itu sendiri diduga terjadi di beberapa lokasi TKP dalam kampung tersebut.

Bunga yang ditemani ibunya saat ditemui Florespost.co di  Yayasan Weta Gerak di Ruteng, Jumat (15/9/2017) menceritakan bahwa, dirinya mengalami peristiwa keji itu sebanyak tujuh kali sejak tahun 2013.

Kronologi kejadian

Kemudian Bunga menuturkan kronologi kejadian yang dialaminya kepada Florespost.co.

Kejadian pemerkosaan ini pertama kali terjadi pada tahun 2013, diduga oleh seorang pria berinisial YA yang tak lain adalah saudara kandung dari ayahnya.

Saat itu Bunga sedang bermain dengan teman sebayanya di halaman rumah. Terduga pelaku kemudian menyuruh semua teman Bunga untuk segera pulang ke rumah masing-masing dengan alasan nanti dicari sama orang tua mereka.

Setelah teman-temannya pulang, Bunga dipanggil oleh terduga pelaku untuk masuk rumah yang saat itu sedang sepi. Melihat situasi rumah yang sepi terduga pelaku memanfaatkan dengan memaksa Bunga untuk melayani nafsu bejatnya dengan ancaman akan membunuh Bunga dan orang tuanya jika menolak.

Bunga menuturkan peristiwa malang berikut yang dialaminya pada tahun 2015. Kali ini terduga pelakunya berinisial SN.

Kejadian berawal saat Bunga datang membeli rokok ke kios milik terduga pelaku. Bunga ditarik paksa terduga pelaku ke dalam kios dan melakukan aksinya meski mendapat perlawanan dari Bunga.

Karena aksinya ini tidak terbongkar, terduga pelaku kemudian melakukan hal yang sama kepada Bunga dengan iming-iming uang sisa beli rokok ayahnya belum dikembalikan. Karena tak curiga Bunga pun masuk ke kios terduga pelaku. Namun, ia langsung dipaksa untuk melucuti pakaiannya dan melayani nafsu terduga pelaku.

Kemudian, tahun 2016 terduga pelaku  kembali melakukan lagi hal yang sama. Terduga pelaku mengimingi Bunga dengan uang Rp 10.000 dengan alasan tidak tega melihat Bunga yang kecapean saat pulang sekolah.

Pada tahun yang sama juga, Bunga diduga diperkosa oleh seorang terduga pelaku lainnya berinisial AK. Kejadian berawal ketika Bunga bermain bersama cucu terduga pelaku di rumahnya. Saat itu Bunga dipaksa untuk melayani nafsu terduga pelaku dengan ancaman akan membunuh Bunga jika tidak mau.

Setelah kejadian itu, terduga pelaku melakukannya lagi saat Bunga disuruh orang tuanya ke rumah terduga pelaku untuk meminta daun padan. Saat itu, terduga pelaku menarik Bunga ke dalam WC di rumah terduga pelaku dan melakukan aksinya yang kedua.

Pada tahun 2016 itu juga, Bunga mendapat perlakuan kurang senonoh juga dari seorang terduga pelaku berinisial S yang merupakan anak dari terduga pelaku AK. Kejadian berawal ketika S menawarkan Bunga untuk menonton film di laptop miliknya.

Saat itu, S melakukan pelecehan seksual terhadap Bunga dengan memeluk tubuh Bunga dan memegang area vital Bunga. Karena takut, Bunga langsung berteriak dan lari pulang menuju ke rumahnya.

Pada awal tahun 2017, Bunga kembali diperkosa oleh terduga pelaku AK. Kejadiannya sama persis seperti tahun 2016 di mana Bunga disuruh ibunya untuk meminta daun pandan di rumah terduga pelaku AK. Saat itu terduga pelaku memanfaatkan kesempatan untuk kembali memperkosa Bunga.

Dua minggu setelah kejadian itu, korban Bunga sakit karena mengalami pembengkakkan di area kelaminnya.

Melihat hal tersebut orang tua Bunga bertanya kepada Bunga. Dan korban Bunga pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada ibunya, mulai dari peristiwa tahun 2013 hingga awal tahun 2017.

Korban Bunga mengaku mengalami pemerkosaan sebanyak tujuh kali. Satu kali oleh terduga pelaku berinisial YA yang tak lain adalah saudara ayahnya sendiri.

Tiga kali oleh terduga pelaku berinisial SN dan tiga kali oleh terduga pelaku berinisial AK. Kemudian satu kali pelecehan seksual oleh terduga pelaku berinisial S, anak dari AK.

“Saya kaget saat Bunga cerita  kalau dia diperkosa, sehingga saya dan keluarga langsung lapor di Kapolsek Wae Lengga,” ujar ibu korban.

Belum Ada Titik Terang Penyelesaian Kasus

Ibu korban Bunga menuturkan, pihak kepolisian kemudian memanggil empat orang terduga pelaku untuk dimintai keterangan. Namun, semuanya membantah melakukan perbuatan bejat itu.

“Mereka membantahnya. Sehingga saya dan pihak polisi bawa periksa Bunga ke Puskesmas dan hasil pemeriksaan itu diterima oleh pihak polisi sendiri dan mereka mengatakan bahwa kelamin anak saya hanya lecet”, ujarnya.

Lebih lanjut ibu korban Bunga menceritakan bahwa, sejak kejadian itu anaknya mengalami depresi. Sehingga pada bulan Februari 2017 Bunga diantar ke Yayasan Weta Gerak milik Susteran Gembala Baik di Ruteng untuk untuk melakukan pemulihan psikologis.

Namun, terang ibu korban Bunga, titik terang penyelesaian masalah secara hukum tidak ada meski keluarganya terus mendatangi Polsek Wae Lengga.

“Kami terus mendatangi pihak polisi, namun mereka selalu menjawab bahwa kurang bukti petunjuk untuk penyelesaian kasus kami. Padahal kami mempunyai satu saksi, namun itu tidak cukup. Jadi, kami harus terus menunggu,” tutur ibu korban.

Ia menambahkan bahwa keluarga sebenarnya ingin melaporkan kejadian yang menimpa Bunga ini di Polres Manggarai. Namun, pihak Polsek Wae Lengga berjanji bisa menyelesaikannya.

“Sebenarnya sudah sejak lama kami bawa kasus ini ke Kapolres Manggarai. Namun pihak Polisi Wae Lengga bilang bahwa mereka sanggup menyelesaikan kasus ini. Kalau mereka sanggup kenapa kasus kami ini dianggap sepele. Tanpa ada titik terang. Pelaku sekarang masih berkeliaran dan tidak pernah dipanggil lagi oleh pihak kepolisian,” ujar ibu korban dalam nada penuh kesedihan. (Yuga Yuliana/Florespost.co)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *