Uskup Hubert Leteng dan Gerakan Sosial di Manggarai

oleh
Mgr Hubertus Leteng bersama masyarakat ke lokasi tambang (Foto: internet)

FLORESPOST.co, Ruteng – Mgr Hubertus Leteng, Uskup Ruteng, Flores, NTT resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai uskup pada Rabu (11/10/2017).

Dalam siaran pers yang dikeluarkan pihak Keuskupan Ruteng tidak disebutkan alasan pengunduran dirinya.

Tetapi yang pasti sejak Juni 2017 lalu, Uskup Hubert didera isu skandal keuangan dan hubungan yang tidak wajar dengan seorang perempuan. Isu ini sudah mencuat ke publik sejak 2014 lalu.

Vatikan pun pada Agustus 2017 lalu, sudah mengirim Visitator Apostolik untuk menginvestigasi tuduhan yang berkembang itu.

Mgr Hubert secara resmi ditabiskan menjadi Uskup Keuskupan Ruteng yang mencakup tiga kabupaten yaitu Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat, pada 14 April 2010.

Saat itu, wilayah NTT termasuk tiga kabupaten di wilayah Keuskupan Ruteng sedang digempur investasi pertambangan. Sejumlah Izin Usaha Pertambangan (IUP) diterbitkan menyusul diterbitkannya UU No 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara.

Masyarakat yang terhimpun dalam berbagai elemen menolak adanya investasi pertambangan di Manggarai raya karena dinilai merusak ekologi. Apalagi sebagian besar masyarakat Manggarai adalah petani yang menggantungkan hidupnya dari lahan pertanian. Pertambangan dianggap menggusur lahan pertanian warga.

Gereja pun berada bersama masyarakat. Sejak ditabiskan menjadi Uskup, Mgr Hubert tampil untuk menentang pertambangan wilayah Keuskupan Ruteng. Ia bahkan pernah menggelar misa ekologi di lokasi tambang di wilayah Reo.

Tak hanya soal tambang, Uskup Hubert juga berada bersama masyarakat menolak privatisasi Pantai Pede di Labuan Bajo. Ia juga pernah menggelar misa di pantai tersebut.

Pantai Pede adalah salah satu pantai eksotis di kota Labuan Bajo yang menjadi lokasi wisata murah meriah masyarakat. Namun, Pemerintah Provinsi NTT selaku pemegang hak pakai atas tanah di pantai tersebut menyerahkan pengelolaannya kepada pihak swasta.

Dalam gerakan sosial menolak tambang dan menolak privatisasi Pantai Pede, Mgr Hubert Leteng dan juga sejumlah imam, berada bersama masyarakat. Tidak hanya menyampaikan seruan moral, tetapi ikut terlibat dalam gerakan. Itulah legacy yang diwariskan Mgr Hubert.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *