Opini: Mengapa Anak Itu Bunuh Diri?

  • Whatsapp
Frans Anggal (DOK. Pribadi)

FLORESPOST.co :

Mengapa Anak Itu Bunuh Diri?

Oleh Frans Anggal*

 

Muat Lebih

Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, terguncang oleh tindakan bunuh diri pada Kamis, 26 Oktober 2017. Betapa tidak menggemparkan, pelaku bunuh diri itu anak di bawah umur  (di bawah 18 tahun). Cara yang dilakukannya pun terbilang mencengangkan. Ia membakar diri di dalam kamar mandi. (Baca juga: Tragis, Seorang Siswi SMP di Kota Ruteng Diduga Lakukan Aksi Bakar Diri)

Dalam ingatan saya selama 20 tahun menjadi jurnalis, ini kasus kedua di Ruteng. Anak di bawah umur melakukan tindakan bunuh diri! Kasus sebelumnya terjadi pada 2010. Seorang anak 12 tahun, kelas enam SD, tewas gantung  diri di dalam kamar tidur.

Sebelum aksi nekadnya, si anak bertengkar dengan kakaknya soal HP. Usai bertengkar, sang kakak keluar dengan sepeda motor. Saat kembali, ia temukan adiknya di dalam kamar sudah dalam keadaan tergantung dengan tali rafia di leher. Si kakak segera membawa si adik ke rumah sakit karena tubuhnya masih hangat. Naas, ternyata sang adik sudah tidak bernyawa  (Flores Pos, Rabu, 26 Mei 2010).

Dalam kasus 7 tahun silam itu, bunuh diri si anak didahului pertengkaran. Entahlah dalam kasus terbaru di atas. Hingga kini prakondisi jelang aksi bakar diri si anak belum diberitakan lengkap oleh media.

Tak mengapa. Sebab, apa pun prakondisinya, pertanyaan pokoknya adalah ini: apakah situasi terakhir itukah yang menyebabkan si anak melakukan aksi bakar diri?

Merujuk kajian tentang bunuh diri yang dilakukan E. Ringel (1953), kita pastikan: tidak. Sebab, salah satu tesis pokok Ringel menyebutkan, faktor situasi saja tidak dapat mengakibatkan perbuatan bunuh diri. Betapapun sulitnya situasi itu.

Dalam kasus 2010, peristiwa pertengkaran si anak dengan kakaknya hanyalah sebuah situasi. Sama halnya dengan peristiwa murid tidak naik kelas, remaja putus cinta, orang dewasa putus hubungan kerja, dll. Menurut Ringel, situasi tidak dapat melumpuhkan sikap dan keputusan pribadi seseorang.

Kalaupun ada kaitannya dengan bunuh diri, situasi itu hanyalah faktor pencetus. Bukan penyebab. Ia hanyalah percikan api, kecil, tapi mengobarkan nyala besar dan menghanguskan, justru karena sudah ada bensinnya. Bensinya adalah pengalaman dalam masa kanak-kanak dan perkembangan kepribadian sang anak. Sayang, bensin ini sering tersembunyi dalam tangki, sehingga luput dari perhatian siapa pun.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *