Beranda Sastra Puisi: Awal November

Puisi: Awal November

762
0

inkarnasi november

1/
bising kota sejak dini hari
keruh dan anyir diterpa semilir
lampu-lampu jalanan sudah lama mati
butir-butir embun itu perlahan meleleh dan menetes
di hari pertama november

2/
semilir menggoyang rambutmu yang gelombang
entah aroma apa setiap helainya
yang pasti, hembusannya terhirup berjuta rasa
ini bukan di belantara
bukan juga di surga
di awal november ini
nafasmu dan nafasku asyik beramai-ramai
menerabas debu yang gentayangan di atas landskap kehidupan
tiada yang tahu entah berujung di mana

3/
berlembar-lembar kemungkinan
jalanan penuh simpang
adalah interval melodrama perjalanan kita
yang mungkin masih panjang
awal november membentangkan kemungkinan itu sebagai kebenaran yang telanjang
engkau dan harus selalu siaga menyusuri seluas-luas cakrawala

4/
dan apakah november itu
ialah bulan kedua dari tutup tahun
ialah bulan yang belum selesai
ialah bukan pintu terakhir
maka epilog tak perlu engkau potong
narasikanlah terus sepotong rindu
karena apa yang engkau sebut pintu terakhir
adalah sesungguhnya pintu pertama untuk membuka pintu berpintu-pintu

5/
sebelum puisi ini usai
aku ingin november ini melahirkanmu kembali
terserah apakah engkau menyebut peristiwa itu adalah inkarnasi
di dalamnya engkau mati untuk dirimu sendiri
demi memberi hidup bagi yang lain.
(gnb:jkt:rabu:1 nov 2017). ***

Gerard N Bibang (istimewa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here