Beranda Feature Menjadi Odha Bukanlah Akhir Segalanya, Kisah Odha di Larantuka

Menjadi Odha Bukanlah Akhir Segalanya, Kisah Odha di Larantuka

285
0
Ilustrasi (Istimewa)

FLORESPOST.co, Larantuka – Penderita HIV/AIDS atau sering disebut Orang Dengan HIV/AIDS (Odha) acap kali mendapat perlakuan diskriminatif dari masyarakat. Padahal, siapa saja bisa menderita penyakit itu, apa pun latar belakang sosialnya.

Saat ini, penyakit yang bisa menular melalui hubungan seksual, jarum suntik atau transfusi darah ini, sudah memiliki oabat penawarnya yang disebut ARV. Obat ini mampu mengendalikan virus dalam tubuh Odha sehingga Odha bisa tetap sehat dan produktif.

Meski demikian, diskriminasi masih saja terjadi, karena kurangnya pengetahuan masyarakat baik soal bagaimana penyakit ini menular maupun soal bagaimana perkembangannya pengobatannya.

Berikut ini adalah kisah seorang Odha di Larantuka, Flores Timur, yang menunjukkan bagaimana dia pernah mendapat perlakuan diskiriminatif dari lingkungan sekitar. Tetapi  meski demikian, ia tetap tegar dan kini bisa produktif dan berkontribusi bagi orang lain.

***

Gerak-geriknya ringan nan riang. Mata berbinar menangkap setiap obyek yang ditatapnya. Tanpa ragu dia berdiri memberikan kesaksian hidupnya. Bibirnya bergetar mengeja setiap kata, mengurai setiap episode hidup yang ia jalani sebagai Odha.

YIR (30) ibu 3 anak ini tetap tegar ketika mengungkap jati dirinya sebagai pengidap HIV positif. Ia tetap memelihara senyum keramahan yang sejak awal diperlihatkannya di hadapan para peserta Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di gereja Lewo Loba, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Senin (06/11/2017).

“Saya sudah siap jati diri terungkap di masyarakat,” ujar YIR sembari meminta agar masyarakat jangan bersikap diskriminatif kepada komunitas Odha.

Dikatakan YIR, penderita HIV/AIDS atau disebut sebagai Orang Dengan HIV AIDS (Odha) merupakan satu dari sekian banyak penderita penyakit menular yang membutuhkan perhatian. Stigma negatif yang beredar di berbagai kalangan masyarakat  tentang penderita HIV/AIDS atau Odha sudah sepatutnya dikikis habis. Tindakan diskriminatif,  menurutnya berdampak terhadap penolakan masyarakat terhadap Odha, yang selanjutnya berimplikasi terhadap kesempatan mereka kembali bergaul di masyarakat, salah satunya dengan eksistensi di lapang pekerjaan.

“Saya mendapat penyakit ini dari almahrum suami saya. Anak saya pun meninggal di usia 6 tahun akibat penyakit ini. Suami Saya sudah meninggal sejak tahun 2014 lalu. Dalam  perjalanan saya disukai oleh seorang pria dan kami hidup bersama. Sayapun akhirnya hamil dari suami kedua Saya. Pada saat  pemeriksaan kandungan dan melakukan tes HIV untuk janin anak saya, dokter  mengatakan di hadapan sumai saya bahwa saya positif HIV. Apa yang terjadi? Suami kedua saya pun akhirnya meninggalkan saya, karena mengetahui saya positif dengan penyakit ini,” ungkap YIR meriwayatkan penyakit dideritanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here