Esai: Kupu-Kupu dalam “Sangkar” Jefrin Haryanto

oleh
Ezra Tuname, Pengampu Komunitas Sastra Air Pasang Borong, Manggarai Timur, NTT. (Foto/Dok. Pribadi)

FLORESPOST.co :

Oleh: Ezra Tuname*

 

Jefrin menulis di Manila. Entah di bagian mananya. “Manila-Desember, 2008”. Begitu tertulis di bagian akhir cerpen berjudul “Partai Kupu-Kupu”. Saat itu sedang Natal. Ia tidak menulis cerita tentang Malam Kudus. Tetapi di jelang “Malam Kudus” ia mengurai perihal-perihal ritus duniawi yang tak kudus dalam cerpennya.

Sebenarnya, tak penting Jefrin Haryanto menulis di mana. Seperti cerpenis bisa menemukan inspirasi kapan saja dan menulisnya di mana-saja. Seorang cerpenis pasti seorang pencerita yang baik. Ia pandai mengatur alur. Ia cerdas menemukan tokoh yang pas. Seperti itulah Jefrin Haryanto.

Cerpen-Cerpen Jefrin Haryanto terkumpul dalam bukunya berjudul “Partai Kupu-Kupu: Perempuan, Cinta dan Kekuasaan” (Absolute Media, 2012). Ada dua belas cerita pendek (cerpen). Cerpen “Partai Kupu-Kupu” menjadi judul buku kumpulan cerpen tersebut.

Membaca cerpen “Partai Kupu-Kupu” akan dijumpai hal-hal yang unik. Sebab, membaca cerpen adalah suatu hal yang menyenangkan. Tentu, baca bukanlah pekerjaan waktu sengang. Baca adalah pekerjaan itu sendiri. Ia butuh keseriusan dalam keganjilan dan kejenakaan cerita-cerita fiksi. Dalam keseriusan itu, untai makna baru perlahan dapat dikauk dari “sangkar” karat cerita fiksi  penulis.

Dalam karya fiksinya, Jefrin Haryanto menggunakan diksi-diksi yang manis. Tetapi, ada ketegasan makna dalam tiap kata. Kalimatnya langsung, tak banyak metafora ataupun tarian kata yang menghilangkan pesan. Mungkin saja Jefrin Haryanto menulis ceritanya dengan penuh senyum, meskipun ia sedang menyusun kemarahan dalam alur ceritanya.

Cerpen “Partai Kupu-Kupu” berisi kemarahan sastrawan terhadap praktik-pratik politik yang penuh intrik. Sastrawan sedang muak akan langgam politik dalam organisasi kepartaian. Terlampau banyak kemunafikan dan kekonyolan politisi yang “mengendarai” partai politik. Seraya memuja kepentingan, partai politik mengangkangi amat dan nurani rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *