Beranda Feature Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian I dari 5 Tulisan)

Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian I dari 5 Tulisan)

122
0
Penulis Frans Anggal (kiri) bersama Marianus Sae saat jumpa di Peot-Borong, Manggarai Timur, NTT, Minggu, 19 November 2017. (Foto: DOK Pribadi)

Oleh Frans Anggal*

 

[CATATAN: Lama tidak bersua, saya dan Bupati Ngada Marianus Sae akhirnya berjumpa pada syukuran Sambut Baru di Peot-Borong, Manggarai Timur, Minggu, 19 November 2017. Seri tulisan berikut saya turunkan untuk “merayakan” perjumpaan tersebut, sekaligus untuk mengenang Pater John Dami Mukese SVD, yang namanya berkali-kali disebut dalam serial ini. Requiescat in pace. Semoga dia beristirahat dalam damai.]

SAYA BABAT 75 PERSEN PERJALANAN DINAS

 

Sore, Jumat 27 Januari 2012, Bajawa terasa sejuk. Ibu kota Kabupaten Ngada itu tidak hujan. Tidak dingin. Kembang aneka warna di pekarangan Kevikepan, tempat kami akan nginap semalam, bermekaran.

Kami sedang nikmati keceriaan itu ketika telepon selular Pater John Dami Mukese SVD berdering. Pemimpin Umum Flores Pos ini mendapat pemastian dari Bagian Humas Pemkab Ngada. Sore itu, katanya, Bupati Marianus Sae siap menerima kami beraudiensi di rumah jabatan.

Tapi, kapan jam persisnya, masih belum jelas juga. Tunggu saja, sampai dubes Polandia tinggalkan rumah jabatan, kata Bagian Humas. Hari itu, Duta Besar Polandia untuk Indonesia Grzegorz Wisniewski singgahi Bajawa dalam perjalanan ke Kabupaten Nagekeo, menghadiri syukur emas imamat Pater Tadeuz Gruca SVD. Sebelumnya, pada hari yang sama, Bupati Marianus Sae disibukkan dengan kunjungan Kapolda NTT. Terbayangkan, betapa padatnya acara sang bupati hari itu.

Kami baru saja selesai bersiap mematut diri, mobil bupati sudah datang menjemput. Petrus Dua, wartawan Flores Pos untuk wilayah Ngada, turun dari mobil itu.

“Pak Bupati sedang tunggu sekarang,” kata Piter usai berjabat tangan dengan saya di pekarangan Kevikepan. Segera saya balik masuk penginapan, mengetuk pintu bilik Pater Dami, memberitahukan adanya penjemputan.

Tak lama berselang, Pater Dami muncul dalam setelan batik motif putih hitam ceria.

“Ada bawa kamera Pater?” tanya saya ketika melihat yang dikepitnya hanya sebuah map.

“Aih, benar e, saya lupa.” Ia balik lagi ke bilik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here