Beranda Feature Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian II dari 5 Tulisan)

Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian II dari 5 Tulisan)

111
0
Marianus Sae (kedua dari kiri) berbaur Ja'i pada syukuran Sambut Baru di Peot-Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Minggu 19 November 2017. (foto: frans anggal)

FLORESPOST.co :

Oleh Frans Anggal*

 

[CATATAN: Lama tidak bersua, saya dan Bupati Ngada Marianus Sae akhirnya berjumpa pada syukuran Sambut Baru di Peot-Borong, Manggarai Timur, Minggu, 19 November 2017. Seri tulisan berikut saya turunkan untuk “merayakan” perjumpaan tersebut, sekaligus untuk mengenang Pater John Dami Mukese SVD, yang namanya berkali-kali disebut dalam serial ini. Requiescat in pace. Semoga dia beristirahat dalam damai.]

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian I dari 5 Tulisan)

MEMBANGUN NGADA DARI DESA

 

PENGHEMATAN di pos perjalanan dinas dan biaya operasional kendaraan dinas punya tujuan khusus, kata Bupati Marianus Sae. Dana dialirkan ke desa.

“Tag line kami adalah Membangun Ngada dari Desa,” katanya.

Dalam bingkai Membangun Ngada dari Desa, meluncurlah beberapa program. Ada Perak: Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Ada JKMN: Jaminan Kesehatan Masyarakat Ngada. Ada Penguatan Koperasi. Ada Pelangi Desa: Percepatan Pelayanan Infrastruktur Desa. Ada Beasiswa Anak Desa.

Program Perak diluncurkan pertama kali pada 2007. Saat itu Marianus masih sebagai wirausahawan murni. Belum masuk politik. Baru pada 2008 ia jadi ketua PAN Kabupaten Ngada dan pada 2010 maju bertarung dan menang dalam pemilukada

Perak diluncurkan di Zeu. Ini lokasi kebun, dekat Soa, sekitar 25 km arah utara kota Bajawa. Di kebun di Desa Sogo I Kecamatan Golewa inilah Marianus bertempat tinggal, sebelum masuk kota Bajawa mendiami rumah jabatan bupati. Dari kebun inilah ia rancang masa depan Ngada. Merancang Ngada dari Zeu. Sebelum Membangun Ngada dari Desa.

Perak di Zeu itu berupa bantuan babi 400 ekor dan sapi 50 ekor bagi kepala keluarga (KK) miskin.

“Sapi anak pertama untuk saya. Anak kedua untuk si KK miskin. Anak ketiga untuk saya. Anak keempat dan seterusnya untuk si KK miskin. Tahun 2008, saya luncurkankan lagi 150 ekor, jadi 800 ekor. Ini menyebar. Diberi cap MS. Dengan demikian mudah diawasi,” kisahnya. MS itu singkatan namanya.

“Saat saya jadi bupati (2010), Perak hanya dipertegas. Perak sekarang jadi hibah murni. Dengan syarat, anak 1, 2, 3 tidak boleh dijual. Setelah itu boleh dijual. Bila dijual, saya proses.”

Untuk menyukseskan Perak, kades mendapat insentif Rp500 ribu. Namun, “Insentif ini berbasis kinerja. Bila ada yang tak beres, (insentifnya) saya tahan.”

Bupati ini merasa punya dasar untuk bersikap dan bertindak tegas. “Perak ini sudah di RPMJ, diperdakan.”

Tidak gampang, tentu. Salah satu tantangannya adalah pola hidup masyarakat. Ini terkait dengan adat istiadat. Budaya pesta cenderung korbankan banyak hewan. Mimpi buruk bagi sapi-sapi Perak.

“Saya mau larang sembelih hewan berlebihan saat pesta. Ini sedang dibahas.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here