Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian II dari 5 Tulisan)

oleh
Marianus Sae (kedua dari kiri) berbaur Ja'i pada syukuran Sambut Baru di Peot-Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Minggu 19 November 2017. (foto: frans anggal)

Itu soal Perak. Bagaimana dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat Ngada (JKMN)?
Bupati Marinus tidak jelaskan program ini secara khusus.

Sejauh diwartakan FLORES POS, JMKN itu—sesuai dengan namanya—diperuntukkan khusus bagi masyarakat Ngada. Ini jaminan kesehatan di luar Askes dan Jamkesmas. Pemkab alokasikan Rp6 miliar. Meski terasa belum cukup, jumlah ini sudah sangat membantu masyarakat (FLORES POS Jumat 15 Juli 2011).

Bagaimana dengan program Penguatan Koperasi? Konkretnya adalah pengucuran dana, kata bupati. Tanpa langkah konkret ini, omong kosong sebuah provinsi akan jadi provinsi koperasi.

Ia mengkritik kepala daerah yang langkahnya seremonial belaka. Menghadiri RAT koperasi ini dan itu tanpa mengucurkan dana bagi koperasi, lalu menyebut provinsinya provinsi koperasi.

Bagaimana pula dengan program Pelangi Desa? “Ini (kurang lebih) sama dengan Perak,” kata bupati. “Cuma, kepentingannya di tingkat dusun. Kalau PNPM, kepentingannya di tingkat kecamatan.”

Dalam program Percepatan Pelayanan Infrastruktur Desa ini, “Uang (digunakan) hanya untuk beli material. Tenaganya, swadaya. Warga desa sendiri yang kerja. Pasti efisien dan kuat. Jangan cuma Rp50 juta (dananya), pake kontraktor.”

Satu lagi: program Beasiswa Anak Desa. Konkretnya, “Anak-anak miskin disaring di kecamatan,” kata bupati.

“Untuk studi kedokteran, kita rekrut 1 orang tiap kecamatan. Tiap tahun kita kirim 9 orang. Kalau 5 tahun, kita sudah ada 45 calon dokter.”

Menurut bupati, selama ini, untuk anak miskin, masuk perguruan tinggi itu sesuatu yang ‘abstrak’. Apalagi untuk jadi dokter.

“Ketika ruang ini kita buka, ternyata mereka mampu. Ada kebanggaan. Anak orang miskin, dari rumah reot, bisa jadi dokter.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *