Beranda Feature Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian III dari 5 Tulisan)

Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian III dari 5 Tulisan)

139
0
Marianus Sae bersama keluarga anak Sambut Baru saat syukuran di Peot-Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Minggu 19 November 2017. (foto: dokumen keluarga sanry gagu)

FLORESPOST.co :

Oleh Frans Anggal*

 

[CATATAN: Lama tidak bersua, saya dan Bupati Ngada Marianus Sae akhirnya berjumpa pada syukuran Sambut Baru di Peot-Borong, Manggarai Timur, Minggu, 19 November 2017. Seri tulisan berikut saya turunkan untuk “merayakan” perjumpaan tersebut, sekaligus untuk mengenang Pater John Dami Mukese SVD, yang namanya berkali-kali disebut dalam serial ini. Requiescat in pace. Semoga dia beristirahat dalam damai.]

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian I dari 5 Tulisan)

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian II dari 5 Tulisan)

KARENA MALU, SAYA GANTI NAMA JADI ARIS

KOPI dalam cangkir putih itu tidak lagi kepulkan uap. Sudah tidak panas. Setengah jam lewat, kami belum menyeruputnya. Bupati Marianus Sae berapi-api bicara sampai lupa persilakan kami minum. Sejurus kemudian, barulah ajakan itu tiba.

“Mari Pater, kita omong sambil minum.” Ia mengajak Pater John Dami Mukese SVD dan saya. Di saat-saat awal ini ia masih mengira saya juga seorang imam.

Ia lanjutkan beberan tentang Membangun Ngada dari Desa. Sangat terasa, ia prihatin dan peduli terhadap orang kecil, orang desa, orang miskin.

“Rupanya perhatian terhadap orang kecil ini ada kaitan dengan pengalaman hidup Pak Bupati,” kata saya menyela.

“Benar,” jawabnya.

Ia pun mulai kisahkan hidupnya. Kisah seorang anak miskin dan yatim piatu, yang sengsara tapi ulet, dan akhirnya kaya, lalu jadi bupati.

“Saya dari kecil orang tua tidak ada,” katanya mengawali cerita. “Saya yatim piatu. Dipiara om dan tanta.

“Tamat SD, saya masuk SMP PGRI di Bajawa, tamat 1982. Sambil sekolah, saya kerja di tempat pembuatan bata merah CV Galeta. Pagi-pagi saya bangun kerja, gali tanah, campur semen, cetak bata. Jam 12 mandi, ke sekolah. Di sekolah saya sering ngantuk. Guru sering pukul. Puji Tuhan, saya tak pilih jadi pencuri, perampok.

“Saya kerja di bata merah sampai tampat SMA Negeri Bajawa, 1985. Di SMA, sekolahnya pagi, sorenya kerja. Maka, tiap setengah empat pagi saya bangun, belajar. Setengah enam saya mandi, makan, ke sekolah. Ini terpola dari dulu. Maka sekarang setengah tujuh saya sudah di kantor. Saya beri tahu staf saya, belajarlah dari ayam. Rezeki itu datang pagi hari.

“Dari SMA, saya ke Kupang, 1986. Di sana jadi buruh gedung SDI Kelapa Lima. Lalu kuliah, sambil kerja. Prinsip: SMA saya bisa, kenapa kuliah tidak. Saya daftar di FKIP Undana Jurusan Adminstrasi Pendidikan. Lulus. Sambil kuliah, saya kerja gali sumur.

“Berhenti gali sumur, saya tidak dapat uang. Tanta dari Bajawa kirim saya brenebon. Brenebon abis, saya sengsara. Tidak makan. Pulang kuliah saya hanya minum air lalu tidur. Itu selama 3 hari 3 malam. Akhirnya saya tidak sadarkan diri. Untung ada yang tolong, kasih minum saya gula tinggi dengan cara cungkil gigi, buka paksa mulut saya. Saya bisa hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here