Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian III dari 5 Tulisan)

oleh
Marianus Sae bersama keluarga anak Sambut Baru saat syukuran di Peot-Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Minggu 19 November 2017. (foto: dokumen keluarga sanry gagu)

“Saya malu. Seorang bekas direktur perusahaan ekspor impor jadi buruh bengkel las. Karena malu, saya ganti nama jadi Aris. Kerja pertama saya di bengkel ini, tukang gerinda. Lalu naik jadi pembantu tukang.

“Suatu waktu bos pemilik bengkel dan pelanggan orang Prancis bertengkar. Keduanya tidak saling mengerti. Bos pake bahasa Indonesia, orang Prancis itu pake bahasa Inggris. Saya bisa bahasa Inggris. Saya selesaikan masalah mereka. Rupanya karena itu bos pekerjakan saya di kantor bengkel.

“Selanjutnya saya undurkan diri, tahun 2000. Buka bengkel las sendiri untuk usaha furniture. Order pertama Rp40 juta lebih. Uang mukanya Rp25 juta. Dari situ usaha berkembang. Omzet ekspor setahun bisa belasan hingga dua puluh miliar rupiah. Di bawah CV Soatri Iron, saya produksi dan ekspor sendiri furniture. Keahlian saya di eskpor. Usaha ini sempat sepi saat Bom Bali, 2002.

“Tahun 2006, besi berkurang. Kebanyakan besi campur kayu untuk pembuatan meja. Sulit cari kayu jati. Pernah cari hingga Kupang, tapi kualitasnya kurang bagus. Saya ke Labuan Bajo. Banyak kayu bagus-bagus, milik Pater Wasser (Pater Ernest Wasser SVD). Dari situ saya mulai pikir, jangan hanya tebang. Perlu tanam. Maka saya beli tanah. Ada 48 sertifikat. Termasuk sebuah pulau, Pulau Tetawa, di perairan Manggarai Barat

“Di Ngada, saya buka kebun di Zeu (Desa Sobo I, Kecamatan Golewa), 45 ha. Saya tanam kayu. Tapi saya tidak mau sendirian. Saya lakukan sosialisasi pribadi dari desa ke desa tentang keuntungan tanam kayu. Masyarakat termotvasi. Lalu saya kirim bibit.

“Tahun 2008 saya masuk politik. Kebetulan PAN di Ngada bermasalah. Saya diminta orang PAN pusat untuk fasilitasi musdalub. Saya bawa 200-an karyawan saya untuk jaga musdalub. Saya di luar ruangan. Malamnya saya dipanggil masuk. Semua peserta musdalub sepakat minta saya jadi ketua PAN. Itu terjadi pada jam 8 malam, tanggal 8, bulan 8, tahun 2008.”

Dengan kendaraan politik inilah Marianus Sae bersama pasangannya Paulus Soliwoa (paket MULUS) maju ke pemilukada Ngada 2010. Paket ini menang hanya dalam sekali putaran, mengalahkan 7 paket lain. Rakyat Ngada tahu siapa yang mereka pilih. *** (Bersambung)

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian IV dari 5 Tulisan)

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian V/Terakhir dari 5 Tulisan)

Frans Anggal (DOK. Pribadi)

*) Penulis adalah kolumnis, mantan Pemimpin Redaksi Harian Umum Flores Pos.

Catatan Redaksi: Narasi kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *