Beranda Feature Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian IV dari 5 Tulisan)

Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian IV dari 5 Tulisan)

121
1
Marianus Sae turun dari mobil lalu membantu seorang ibu yang kesulitan melepaskan bambu dari patahannya di Zeu, Ngada, Jumat 27 Januari 2012. (foto: frans anggal)

FLORESPOST.co :

Oleh Frans Anggal*

 

[CATATAN: Lama tidak bersua, saya dan Bupati Ngada Marianus Sae akhirnya berjumpa pada syukuran Sambut Baru di Peot-Borong, Manggarai Timur, Minggu, 19 November 2017. Seri tulisan berikut saya turunkan untuk “merayakan” perjumpaan tersebut, sekaligus untuk mengenang Pater John Dami Mukese SVD, yang namanya berkali-kali disebut dalam serial ini. Requiescat in pace. Semoga dia beristirahat dalam damai.]

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian I dari 5 Tulisan)

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian II dari 5 Tulisan)

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian III dari 5 Tulisan)

SOPIR KAMI PAK BUPATI

 

JELANG jam 5 sore audiensi berakhir. Kami pamit dari rumah jabatan bupati, kembali ke penginapan di kevikepan. Namun hanya sebentar, hanya untuk salin pakaian. Kami akan segera ke Zeu. Ini lokasi yang terletak tidak seberapa jauh dari tempat pemandian air panas Mengeruda di Soa, 25 km arah utara kota Bajawa.

Ke Zeu itu di luar agenda audiensi. Awalnya adalah beberan Bupati Marianus tentang Membangun Ngada dari Desa. Ia menyebut Zeu sebagai tempat pertama program Perak diluncurkan tahun 2007, ketika dia masih sebagai wirausahawan murni. Zeu itu lokasi kebunnya, sekaligus tempat tinggalnya sebelum ia masuk kota Bajawa, 2010, mendiami rumah jabatan bupati. Dari kebun inilah ia merancang masa depan Ngada.

Pater John Dami Mukese SVD tertarik. Pemimpin umum FLORES POS ini menanyakan kemungkinan curi-curi waktu ke Zeu. Bak ketemu ruas dengan buku. Keinginannya disambut gembira oleh Bupati Marianus.

“Baik, Pater. Sebentar kita sama-sama pergi ke sana,” katanya beberapa saat sebelum kami pamit.

Dalam bayangan kami, kami akan gunakan dua mobil. Bupati tentu saja dengan mobilnya, sedangkan kami akan tetap gunakan mobil Daihatzu Taft Hi Line yang dikemudi Om Flavi dari Ende. Karena itu, setibanya di penginapan diantar mobil bupati, Pater Dami langsung mengingatkan Om Flavi agar segera bersiap-siap menuju Zeu.

Tidak lama berselang usai kami bersiap-siap, sebuah mobil hitam tampak meluncur dari arah rumah jabatan bupati. Di pertigaan depan Gereja Paroki Mater Boni Concilii (MBC), mobil itu tidak membelok ke kiri atau ke kanan, tapi lurus terus masuk pekarangan paroki, lalu mengambil haluan menuju pekarangan kevikepan tempat kami sedang berdiri menunggu.

Makin dekat, mobil hitam itu makin jelas. Toyota Kijang Innova, berpelat hitam, bernomor polisi DK 953 FG. Saya mengira yang datang itu sopirnya bupati, mungkin mau sein kami untuk segera jalan. Meleset! Si sopir itu ternyata Bupati Marianus sendiri. Ia didampingi istrinya. Pasutri ini datang menjemput kami. Maka, ke Zeu, kami hanya pakai satu mobil, Toyota Kijang Innova itu. Sopir kami pun bukan lagi Om Flavi, tapi Pak Bupati.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here