Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian V/Terakhir dari 5 Tulisan)

oleh
Marianus Sae dengan jati emas dan mahoni di kebunnya di Zeu, Ngada, Jumat 27 Januari 2012. Totalnya 54.800 pohon di atas lahan 45 ha. (foto: frans anggal)

Oleh Frans Anggal*

 

[CATATAN: Lama tidak bersua, saya dan Bupati Ngada Marianus Sae akhirnya berjumpa pada syukuran Sambut Baru di Peot-Borong, Manggarai Timur, Minggu, 19 November 2017. Seri tulisan berikut saya turunkan untuk “merayakan” perjumpaan tersebut, sekaligus untuk mengenang Pater John Dami Mukese SVD, yang namanya berkali-kali disebut dalam serial ini. Requiescat in pace. Semoga dia beristirahat dalam damai.]

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian I dari 5 Tulisan)

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian II dari 5 Tulisan)

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian III dari 5 Tulisan)

Baca juga: Lebih Jauh dengan Bupati Marianus Sae (Bagian IV dari 5 Tulisan)

MENANAM POHON ITU INVESTASI YANG CERDAS

 

MELEWATI sedikit pendakian, tibalah kami di punggung bukit. Di sebelah kiri jalan, di kerendahan, ada perumahan warga dan kantor desa. Jelas tertulis pada papan namanya: Desa Sobo 1, Kecamatan Golewa.

“Ini desa baru, hasil pemekaran,” kata Bupati Marianus sambil banting setir ke kanan. Mobil mulai merayapi jalan tanah. Agak mendaki.

“Itu di bawah, kompleks sekolah gratis,” katanya seraya mengarahkan pandangan ke kiri. Kami melihatnya dari kejauhan. Yang tampak hanya atap sengnya. Mobil terus merayap.

“Yang ini rumah guru,” katanya. Lima buah rumah itu terletak persis di pinggir ruas jalan tanah yang sedang kami lalui. Beberapa lelaki sedang berkumpul. Bupati Marianus bertegur sapa dengan mereka. Tiba-tiba seorang wanita muncul dari balik pintu rumah.

“Ae… Ka’e!” sapa Bupati Marianus, pakai teriak. Keduanya berbicara gunakan bahasa daerah. Saya tidak mengerti, kecuali satu kata itu: “ka’e” yang berarti kakak. Sepanjang jalan dari Bajawa hingga Zeu, sapaan kekeluargaan seperti itulah yang Bupati Marianus gunakan setiap kali bertegur sapa dengan siapa saja yang dijumpainya. Saya menduga, wanita itu guru atau istri guru pada sekolah gratis itu.

Seperti pernah diwartakan FLORES POS tiga tahun silam, pendidikan gratis deselenggarakan Flores Village Development Foundation (FVDF) di Zeu. Ketua yayasannya Marianus Sae. Latar belakangnya: keprihatinan terhadap banyaknya anak putus sekolah dasar. Lahannya 10 ha, hibah murni dari suku Langa, tanpa ganti rugi.

FVDF sendiri beranggotakan 7 orang. Lima di antaranya warga negara asing: 4 dari Australia, 1 dari Amerika Serikat. Seluruh kebutuhan sekolah ditanggung yayasan. Pakaian seragam, sepatu, uang sekolah, dll. Tiap hari anak-anak diberi makan siang.

Tahap pertama telah dibangun dua kelas TK dan dua kelas SD. Nanti akan dibangun gedung untuk SMP, SMA, dan SMK. Juga laboratorium, poliklinik, lapangan sepak bola, voli, dan bengkel kayu. Rumah guru 33 unit. Yang sudah dibangun dan ditempati 5 buah.

Yang ditekankan dalam pendidikan gratis ini adalah bahasa asing, paling kurang bahasa Inggris. Guru yang direkrut harus bisa berbahasa Inggris. Sekolahnya mulai beroperasi 2009, setahun sebelum Marinaus Sae jadi bupati.

“Anak sekolah di sini sudah bisa bahasa Inggris,” kata Bapati Marianus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *