Opini: Kursi Anti-Ngantuk Untuk Wakil Rakyat?

oleh
Frans Anggal, Kolumnis dan mantan Pemimpin Redaksi Harian Umum Flores Pos. (Foto: DOK Pribadi)

FLORESPOST.co :

Oleh Frans Anggal*

 

Wapres Jusuf Kalla punya usulan “menarik” saat menjadi keynote speaker Seminar Nasional Hilirisasi Teknologi dan Start-Up Bisnis di Universitas Brawijaya, Senin (5/12/2017). Usulan politikus nomor wahid yang dikenal dengan inisial JK itu berkenaan dengan penemuan tiga mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang. Penemuan kursi anti-ngantuk.

Menurut JK, kursi anti-ngantuk cocok digunakan di DPR. JK bahkan sampai menyebut ketua DPR saat bicara soal kursi itu. “Nanti saya usulkan kepada ketua DPR untuk menggunakan alat itu. Tempat duduk anti-ngantuk.”

Dari konteksnya, dapat dipastikan, JK tidak sedang bersungguh-sungguh mengusulkan pengadaan kursi anti-ngantuk untuk DPR. Mengapa?

Kursi anti-ngantuk itu dirancang khusus oleh ketiga mahasiswa untuk pengemudi kendaraan. Tujuannya mencegah kecelakaan. Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia akibat sopir ngantuk menginspirasi ketiganya. Mereka merancang alas duduk dan gelang yang memantau detak jantung. Ketika alat ini bergetar, detak jantung meningkat, begitu juga aliran darah. Dengan demikian pengemudi akan tetap terjaga dan berkonsentrasi saat berkendara.

Nah. Kalau kursi anti-ngantuk itu sejatinya dikhususkan bagi pengemudi kendaraan, mengapa lantas JK mengusulkannya untuk DPR? Apakah tugas pokok dan fungsi (tupoksi) DPR itu mengemudi kendaraan? Mengapa pula hanya untuk DPR? Mengapa tidak sekalian untuk presiden, wapres, dan para menteri?

Cukup jelas, JK tidak sedang bersungguh-sungguh mengusulkan kursi itu untuk DPR. Ia punya maksud lain. Apalagi ketika usulan itu hendak ia sampaikan kepada Ketua DPR Setya Novanto (Setnov).

Sudah menjadi rahasia umum, JK sangat “berjarak” dengan Setnov. Dalam kasus Papa Minta Saham dan sekarang Skandal Megaproyek eKTP, misalnya, JK bersuara keras menyasar Setnov. Kebetulan pula ketua DPR nonaktif, tersangka dan tahanan KPK, ini punya kebiasaan baru, terutama saat berhadapan dengan lembaga anti-rusuah. Ia suka ngantuk. Ngantuk benaran atau sekadar taktik penghindaran, walahuallam. Dalam suasana seperti ini, eh, tiba-tiba muncul kursi anti-ngantuk rancangan para mahasiswa. Maka, aha, masuk sudah itu barang. Kursi anti-ngantuk untuk Setnov.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *