Pasien Matim di RSUD Ruteng

oleh
Frans Anggal, Kolumnis dan mantan Pemimpin Redaksi Harian Umum Flores Pos. (Foto: DOK Pribadi)

Oleh Frans Anggal*

Ada yang menghentak dari status Yovie Jehabut, seorang pemilik akun Facebook. Oh ya, jangan keliru, dia laki-laki (dan itu berarti nama Yovie bukan monopoli perempuan).

Pada linimasa Rabu, 7 Februari 2018, pukul 19.18, Yovie menulis sebagai berikut. “Yang bilang Manggarai Timur sudah diurus dengan baik, datanglah ke RSUD Ben Mboi Ruteng, lihat bagaimana para pasien miskin di sini. Saya orang Manggarai Timur, yang tinggal di dekat RS, tahu betul bagaimana mengurus keluarga kurang mampu dari Matim di RS Ben Mboi. Menyedihkan dan miris. Dari 3 Manggarai, Matim saja yang sudah tidak bekerja sama dengan RSUD untuk urusan pasien miskin. Akibatnya, para pasien kurang mampu ini harus dibiarkan mengurus semua beban tanpa ada tempat mengadu. Ini adalah bagian dari kejahatan pemda, yang telah mengingkari fungsinya dalam mengurus rakyat.”

Keras e ini kata-kata. Apakah Yovie sedang marah? Entahlah. Itu tidak penting. Yang lebih penting, apakah pernyataannya benar.

Pernyataannya bertolak dari pengalaman konkretnya di RSUD Ruteng mengurus pasien kurang mampu asal Matim. Dan itu bukan sekali dua. Sudah berkali-kali. Maklum, tempat tinggalnya dekat RSUD. Dia asal Matim pula. Maka dialah salah satu orang Matim terdekat yang dimintai bantuan atau yang tergerak hatinya turun tangan membantu ketika pasien kurang mampu asal Matim tidak tahu harus pergi ke mana.

Dari pengalamannya, Yovie menyaksikan pasien kurang mampu asal Matim setengah mati. Ini gara-gara pemkab tidak lagi menjalin kerja sama dengan RSUD Ruteng. Dia menilai, pemkab absen. Pemkab mengingkari fungsinya mengurus rakyat. Dan itu adalah kejahatan. Simpulannya, Matim belum diurus dengan baik.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *