Ini Kisah Marianus Sae, Balon Gubenur NTT yang Terjaring OTT KPK

oleh
Marianus Sae dengan jati emas dan mahoni di kebunnya di Zeu, Ngada, Jumat 27 Januari 2012. Totalnya 54.800 pohon di atas lahan 45 ha. (foto: frans anggal)

FLORESPSOT.co –Bupati Ngada, NTT Marianus Sae terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Minggu (11/2/2018) sore.

Marianus adalah salah satu bakal calon gubernur NTT. Ia diusung PDI-P dan PKB.

Sebelumnya, ditangkap KPK, Marianus dikenal sebagai salah satu kepala derah yang dinilai cukup berhasil. Bahkan Ketua Umum DPP PDI-P menyebut Marianus adalah kepala daerah yang berhasil. Itulah sebabnya, menurut Mega, PDI-P mencalonkannya, meski bukan kader PDI-P.

Baca: Ini Alasan Megawati Pilih Marianus Sae-Emmi Nomleni Jadi Paslon pada Pilkada NTT

Marianus Sae lahir di Bobajo,Mangulawe, Golewa,Ngada, pada 8 Mei 1962 dari pasangan Yohanes Da’e dan Virmina Redo.

Marianus menempuh pendidikan dasar pada 1970-1975 di dua SD. Pertama ia sekolah  di SDK Bejo hingga kelas IV. Lalu, kemudian pindah ke SDK Bajawa I hingga tamat.

Pendidikan SMP ditempuh di SMP PGRI Bajawa pada tahun 1976-1977. Kondisi ekonomi membuat Marianus berhenti sekolah selama empat tahun. Selama empat tahun itu, ia melakoni berbagai pekerjaan seperti bertani, menjadi joki dalam pacuan kuda, pemborong kendaraan umum, cetak batu bata dan sebagainya.

Cobaan hidup terus menerpanya. Dalam kondisi kesulitan ekonomi, tahun 1980 ayahnya meninggal dunia. Namun, cobaan itu tak membuatnya patah semangat untuk melanjutkan pendidikan.

Pada tahun 1980 Marianus kembali melanjutkan pendidikan di SMP Bajawa hingga tamat 1982.

Setelah tamat SMP, ia melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri Bajawa. Selama SMA, ia sambil bekerja pada percetakan batu bata (CV Galeta).

Tamat SMA, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Nusa Cendana pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan memgambil jurusan Administrasi Pendidikan.

Setamat kuliah, ia tidak berkaya di bidang pendidikan. Marianus menjadi agen asuransi yang tugasnya mencari nasabah. Profesi ini jalani dengan tekun higga ia bisa menjadi kepala unit. Ia kemudian memutuskan untuk merantau ke Bali dan bekerja di perusahaan kargo selama beberapa tahun.

Marianus kemdudian mendirikan perusahaan sendiri. Pada tahun 1994, Marianus bersama investor asal Australia mengelola daerah wisata mata air panas Menguruda,Soa dibawah payung PT Paradise dan dia sendiri pemimpinya hingga tahun 1996. Namun kerja sama ini tak berjalan mulus.

Gagal jadi penugusaha, Marianus menjadi transmigran ke Klaimantan tahun 1997.Dan membuka peternakan ayam dan sempat terpilih jadi kepala desa.

Karena tak berhasil juga, Marianus pulang kampung dan menjadi petani pada tahun 1998. Dan kemudian mendirikan usaha majalah pariwisata Flores Paradise.Lalu membangun PT Flores Timber Specialist yang bergerak dibidnag pengolahan kayu.

Marianus terjun ke dunia politik ketika ia mencalokan diri sebagai calon bupati Ngada pada pilkada 2010, berpasangan dengan Paulus Soliwoa.

Ia kemudian terpilih kembali pada pilkada Ngada tahun 2015.

Dituduh Hamili Pembantu dan Jadi Tersangka Kasus Bandara

Langkah politik Marianus Sae sejak 2010, bukan tanpa banyak hadangan. Tahun 2013, Marianus dituduh menjalin affair dengan pembantunya Bahkan hubungan keduanya membuahkan anak.

Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F), sebuah lembaga advokasi kemanusiaan berbasis di Maumere, di mana di dalamnya ada sejumlah pastor dan biarawan/wati, pernah terlibat dalam advokasi terhadap MNS, perempuan  yang dianggap sebagai korban.

Ketua TRUK-F Suster Eustochia Monika Nata SSpS, seperti dilansir ucanews.com pada 8 November 2013, mengatakan dari hubungan gelap itu lahir seorang bayi laki-laki pada 7 Mei 2012.

“Kami punya data berupa catatan, surat kuasa, rekaman, video wawancara. Semua data itu menyebutkan bahwa ayah biologis anak dari MNS (inisial dari Florespsot.co), adalah Bupati Ngada”, kata Suster Eustochia dalam konferensi pers di Maumere, Kamis (7/11/2013), di mana ia didampingi Pastor Otto Gusti Madung SVD, Pastor Ignas Ledot SVD, beberapa suster dan aktivis kemanusiaan lain.

Marianus Sae membantah tuduhan skandal seks dengan pembantunya ini. Selain melalui berbagai media, ia juga telah mengklarifikasi melalui video yang diunggah di laman Youtube pada 29 Oktober 2013.

“Sampai hari ini tidak ada satu pun orang yang datang langsung atau datang meminta pertanggungjawaban saya,” ujar Marianus dalam video tersebut.

Marianus mengatakan tuduhan itu hanya isu tidak benar yang dibuat oleh pihak-pihak yang tidak senang dirinya menjadi bupati. “Semua sudah jelas. Semua sudah bisa dibuktikan. Tidak ada persoalan, tapi yang ada persoalan adalah banyak orang yang merasa terganggu ketika saya menjadi bupati,” ujar Marianus.

Baca: Dugaan Skandal Mengadang Marianus Sae, dari Soal Seks Hingga Kasus Tutup Bandara Turelelo

Selain dugaan skandal seks, nama Maraianus Sae juga mendadak terkenal di seantero Indoneisa pada pada akhir 2013.

Pada Sabtu, 21 Desember 2013, nama diberitakan memerintahkan Satpol PP menutup bandar udara (bandara) Turelelo. Penyebabnya, Marinus kecewa dengan Merpati yang tidak menyediakan kursi kepadanya dalam penerbangan dari Kupang ke Ngada.

Dalam kasus ini, sejumlah personil Satpol PP menjadi tersangka dan dihukum penjara. Marianus sempat menjadi tersangka, namun kemudian bebas.

Reporter : Ryan Gout | Editor : PTT

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *