Dua Kepala Daerah di NTT yang Jadi Pesakitan KPK, Sama-sama Dianggap Berprestasi

oleh
Foto : Istimewa

FLORESPOST.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan  (OTT) terhadap Bupati Ngada, Marianus Sae, Minggu (11/2/2018).

Pria yang juga menjadi salah satu calon gubernur NTT pada pilkada serentak 2018 ini diduga menerima uang fee proyek dari kontraktor sebesar Rp 4,1 miliar.

Marianus pun sudah ditetapkan menjadi tersangka. Mimpinya untuk menjadi orang nomor satu di NTT pun kandas. Meski secara administrasi tidak bisa dibatalkan, tetapi dua pertai pengusung yaitu PDI-P dan PKB kompak menarik dukungan politik kepada Marianus pada pilgub NTT 2018.

“Partai bersikap tegas dan tidak akan melanjutkan dukungan kepada yang bersangkutan,”ujar Sekjend DPP PDI-P Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulis Senin (12/2/2018).

Marianus bukanlah bupati pertama dari NTT yang menjadi pesakitan KPK. Sebelumnya, ada Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome yang tersangkut kasus korupsi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) tahun 2007 senilai Rp 77 miliar. Kasus ini terjadi sebelum Dira Tome menjadi bupati.

Marthen sudah divonis penjara tiga tahun pada Juli 2017 lalu oleh Pengadilan Tipikor Surabaya.

Sama-sama Bupati yang Dianggap Sukses

Baik Marianus Sae maupun Dira Tome adalah dua figur kepala daerah di NTT yang dinilai sukses oleh sejumalah kalangan di NTT.

Dira Tome dinilai sukses membangun industri di Sabu Raijua seperti garam, air minum dalam kemasan, rumput laut, pabrik kaleng ikan,gula Sabu dan minyak kayu putih.

Kegiatan peternakan dan pertanian juga dilakukan untuk mendongkrak perekonomian warga.

Dira Tome sendiri juga merasa telah sukses memimpin Sabu Raujua yang baru dimekarkan tahun 2008 itu. “Saat awal menjadi daerah otonom pertumbuhan ekonominya mencapai 5,09 persen. Pertumbuhan ekonomi terus mengalami kenaikan, sampai tahun 2014 telah mencapai 7,01 persen,”ujar Dira Tome ketika melakukan safari politik di Labuan Bajo, 6 September 2016.

Pendapatan perkapita atau rata-rata pendapatan penduduk, menurut Dira Tome, juga meroket dari Rp 1,6 juta menjadi Rp 6,4 juta per bulan pada tahun 2013.

Dira Tome juga mengklaim berhasil menodongrak PAD Sabu Raijua. Sebelum menjadi bupati definitif, ia juga sempat menjadi penjabat bupati.

“Saat masih Plt Bupati PAD kabupaten Sabu Raijua 320 juta. Setelah saya dilantik dan menjabat lima tahun belakangan ini, PAD sudah 32 Miliar,”ujarnya.

Dengan berbagai aktifitas industri di daerahnya, Dira Tome menargetkan dalam dua atau tiga tahun ke depan, PAD Sabu Raijua akan meningkat menjadi sekitar Rp 200-an miliar.

Berbagai cerita sukses Dira Tome ini membuat ia menjadi salah satu figur yang dijagokan sejumlah kalangan pada tahun 2016 lalu untuk menjadi calon gubernur NTT. Namun, langkahnya terhenti setelah KPK kembali menetapkannya sebagai tersangka pada November 2016.

Sebelumnya, pada November 2014, Dira Tome ditetakan KPK sebagai tersangka. Namun, ia berhasil lolos setelah memenangkan pra peradilan di PN Jakarta Selatan pada Mei 2016.

Kini giliran Marianus Sae, Bupati Ngada yang menjadi pesakitan KPK. Marianus juga dianggap sebagai buapti yang sukses memimpin daerah. Bahkan ada sejumlah orang yang menyamakannya dengan Ahok di Jakarta.

Pengakuan akan prestasi Marianus Sae ini setidaknya diakui oleh DPP PDI-P, sehingga pertai berlambang Banteng ini berani mencalonkan Marianus pada pilkada NTT, meskipun bukan kader partai.

Ketua DPP PDI-P sekaligus anggota DPR RI dari dapil NTT I, Andreas Hugo Pareira kepada Florespost.co beberapa waktu lalu mengatakan saat mengumumkan nama Marianus sebagai calon gubernur NTT, Megawati, selaku Ketua Umum DPP PDI-P menyampaikan alasan memilih pria yang pernah mejnadi kader PAN itu.

Megawati, menurut Andreas, memilih Marianus Sae karena mempertimbangkan track record-nya selama kurang lebih 7 tahun menjadi Bupati Kabupaten Ngada.

Hal yang sama juga disamapikan Sekjend DPP PDI-P Hasto Kristiyanto ketika sejumlah kader PDI-P di NTT menetang pencalonan Marianuus.

“Sebelum penetapan paslon, Bapak Djarot Syaiful Hidayat  sempat ditugaskan ke NTT bertemu para tokoh dan menampung aspirasi masyarakat. Saudara Marianus Sae dinilai berprestasi, mampu membawa perubahan di Kabupaten Ngada,”ujar Hasto.

Dalam catatan DPP PDI-P, lanjutnya, Bupati Ngada Marianus Sae, mampu membebaskan Ngada dari ketertinggalan dalam waktu 3 tahun dengan empat prioritas utama yang dilakukan di Ngada yaitu infratruktur, kesehatan, pendidikan dan Ekonomi.

Reporter : PTT | Editor : PTT

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *