Beranda Headline Membangun Rumah Tanpa Pasung, Kisah Perjumpaan Pater Andi MI dengan Penderita Gangguan...

Membangun Rumah Tanpa Pasung, Kisah Perjumpaan Pater Andi MI dengan Penderita Gangguan Jiwa di Flores

96
1
Petu, penderita gangguan jiwa yang dipasung selama 13 tahun (Foto: Pater Andi MI)

FLORESPOST.co, Maumere – Manusia yang mengidap sakit jiwa sering dijauhkan dan ditakuti dalam kehidupan kita. Orang-orang yang mengidap sakit jiwa atau disebut orang gila sering dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, sehingga orang gila teralienasi dari masyarakat.

Tapi, tidak demikian yang dilakukan Pater Cyrelus Suparman Andi, MI. Walaupun dengan begitu banyak kesibukannya sebagai rektor di seminari St. Kamilus-Nita, Maumere, ia tetap menaruh peduli terhadap sesama yang mengalami sakit jiwa atau yang lazim disebut ‘orang gila’, di sekitarnya.

Kepada Florespost.co, Pater Andi begitu ia disapa, mengisahkan tentang pelayanannya terhadap salah seorang yang mengalami gangguan kejiwaan di Nita, Maumere baru-baru ini.

” Kemarin (19/2/2018) siang, kami kedatangan tamu di Seminari, yaitu seorang perempuan tua. Dia datang sambil menangis. Dia mengisahkan kalau anaknya yang berusia 36 tahun, sudah dipasung selama 13 tahun, dan sekarang selalu memohon supaya pasungannya dilepaskan. Anak ini dipasung karena sakit gangguan jiwa sejak berusia 23 tahun dan sangat galak, bahkan mengancam membunuh banyak orang,” kisah Pater Andi, Rabu (21/2/2018) siang.

Menurut cerita Pater Andi, setiap kali anaknya meminta pasungannya dibuka, ibu tersebut hanya bisa menangis.

“Mama ini juga tidak berani buka pasungan karena takut dengan efek buruk yang mungkin saja terjadi terhadap orang lain atau keluarga mereka jikalau anak yang sakit jiwa ini galak lagi,” katanya.

Berdasarkan pengakuan sang ibu, kata Pater Andi, dua minggu terakhir, anak ini selalu meminta untuk berbicara kepada Romo atau Pastor siapa saja. “Karena itulah dia datang meminta bantuan ke seminari,” ujarnya.

Sebagai seorang pastor Order Of The Ministers Of The Infirm (MI) atau Ordo Pelayanan Orang Sakit, kata Pater Andi, ia dan sejumlah rekannya ingin melanjutkan misi Kristus yang menyembuhkan orang sakit.

“Mendengar kesaksiannya, dan menyaksikan ibu ini menangis, hatiku merasa iba. Air matanya itu bagai petir yang menyambar kalbu. Aku dan Pater Alfons, rekanku di Seminari, dan beberapa Frater, mencoba mendatangi rumahnya. Jaraknya sekitar 3 kilometer dari seminari kami, Seminari St. Kamilus. Ketika tiba, Sekejap aku memperhatikan kondisinya, memang sangat memprihatinkan. Aku pun tak bisa bayangkan, selama 13 tahun tinggal pada posisi yg sama. Satu kakinya dimasukan dalam pasungan. Dia tidak pakai celana, tapi hanya ditutup kain, yang dipakainya juga untuk membungkus dirinya kalo tidur dan menangkal dinginnya angin di kala hujan dan di waktu malam,” ceritanya.

Kata Pater Andi, orang yang mengalami sakit jiwa itu dipasung di luar dapur, di atas tenda, dan hanya beratapkan zenk. Tak ada dinding di tempat itu. “Hanya baru-baru ini dipele (ditutipi) dengan terpal, karena dia selalu mengeluh kedinginan,” ujarnya.

Pater Andi, MI (kiri)

Pater Andi menginformasikan, nama pasien yang sakit jiwa ini, Petu.

“Dia bisa sedikit nyambung kalau ditanya atau diajak ngobrol. Ketika kutanya, ‘bagaimana kabar?’, dia sekejap menjawab, ‘Aku selalu kedinginan di sini,'”ujar Pater Andi.

“Di dekatnya ada Kitab Suci kumal yang selalu dibuka dn dibacanya tiap hari. Dan di lehernya ada Rosario. Ketika aku menanyakan, ‘apa Petu selalu berdoa?’ Dia menjawab, ‘Ya… Doaku hanya satu, Romo, yaitu supaya pasunganku dibuka'”, ujarnya meniru kata-kata Petu.

“Ada kesedihan dan kepedihan di bola matanya. Dan mamanya hanya bisa meneteskan air mata ketika mendengarkan percakapanku dan anaknya,” tambahnya.

Membangun Rumah, Bebas Pasung

Menurut Pater Andi, Petu bukanlah pasien sakit jiwa pertama yang ditemuinya.

“Sejak tahun 2015, kami sudah melayani beberapa pasien sakit jiwa di sekitar kami. Kami mencoba memberikan solusi dengan membangun Rumah, dimana pasien bisa hidup tanpa harus dipasung,” ujarnya.

Kata Pater Andi, Ordo MI telah membangun rumah berukuran 3 x 4 meter, dengan kamar mandi/WC dalam, pada tahun 2015 dan 2016 untuk dua orang pasien sejenis (sakit jiwa). “Rumah ini dibuat persis di samping rumah keluarganya sendiri,” ceritanya.

Solusi ini, kata dia, diberikan setelah mempelajari beberapa aspek, yaitu aspek sosial, ekonomi, fisik/biologis, psikologis, dan spiritual.

“Dari aspek sosial, rumah ini memberikan rasa aman bagi keluarga dan tetangga/masyarakat sekitarnya. Selanjutnya, keluarga akan berpartisipasi secara aktif dlm merawat pasien karena dekat dengan mereka. Juga, pasien tidak terpisah dari keluarganya,” katanya.

Dari aspek ekonomi, jelas Pater Andi, walaupun terkesan mahal di awal, namun untuk jangka panjang, lebih murah. “Karena kami tak bisa membangun sebuah institusi khusus yg menelan ratusan juta atau miliaran rupiah. Selanjutnya, kami tidak perlu menghabiskan dana maintenance/perawatan yang mahal tiap hari. Keluarganya bisa membantu kebutuhan harian pasien dan kami bisa memberikan pendampingan secara rutin ke rumahnya,”jelasnya.

Secara fisik/biologis, lanjut Pater Andi, pasien akan tinggal dalam rumah yg nyaman, bebas dari gangguan-gangguan pihak lain dan bisa bergerak bebas di dalam rumahnya, tanpa harus dipasung.

“Dalam rumah ini pasien bisa makan, tidur, mandi, wc, rekreasi, menerima tamu dengan leluasa, tanpa harus menderita dalam pasungan,” ujarnya.

Secara psikologis, urainya, solusi ini terbukti mengurangi stres dan tekanan psikologis pasien dari beratnya beban pasungan setiap hari.

“Dia bebas dari berbagai tekanan dan merasa nyaman dlm rumahnya,” tandasnya.

Secara spiritual, kata Pater Andi, orang sakit itu bisa berdoa dengan bebas dan tenang, tanpa ada gangguan dari pihak lain.

“Kami yang melakukan pendampingan pun bisa leluasa masuk dan mendampingi dia dengan berdoa dan sharing bersama,” tuturnya.

Dijelaskannya, dari dua pasien yang telah dibangun rumahnya beberapa tahun ini, keduanya mengalami perubahan yang sangat baik.

“Mereka sudah bisa diajak ngobrol dan diajak jalan-jalan ke biara. Mereka tidak lagi galak dan kasar seperti sebelumnya. Kami selalu berdoa dn berusaha supaya mereka kembali pulih seperti sedia kala,” kata Pater Andi.

Rumah untuk Petu

Setelah mempertimbangkan semua aspek, kata Pater Andi, Ordo MI memutuskan untuk melanjutkan proyek “membangun rumah, tanpa pasung” untuk Petu, supaya dia bisa dirawat dengan baik.

Petu, penderita gangguan jiwa yang dipasung (Foto: Pater Andi, MI)

“Kami berencana untuk membangun rumah kecil untuknya, dimana dia bisa tinggal setiap hari tampa harus dipasung,” katanya.

“Kami mohon doa dan dukungannya agar rencana kami sukses dan pelayanan kami selalu diberkati Tuhan,” tutupnya.

Orang Sakit (Jiwa) Di Mata Pater Andi Dan Ordo MI

Menurut Pater Andi, orang sakit jiwa itu hanya satu dari berbagai jenis pasien atau orang sakit.

Pater Andi dan rekan-rekannya di Ordo MI melayani semua orang sakit jenis apa saja. “Karena itu misi kami, yaitu melanjutkan misi Kristus yang menyembuhkan orang sakit,” jelasnya.

Ditengah maraknya penyakit gangguan jiwa di Flores, Ordo MI, Kata Pater Andi, sedang bergerak maju untuk memperhatikannya.

“Jadi, solusi kami ya mungkin seperti ini, kami tentu tidak bisa bangun sekalian rumah untuk mereka semua tapi tahap demi tahap sesuai dengan kebutuhan mereka dan kemampuan kami. Karena kami mau layani mereka secara holistik, tanpa memisahkan mereka dari keluarganya dan tanpa mengabaikan peran aktif keluarga dan pihak lain dalam rehabilitasi mereka,” pungkasnya. (Rosis Adir/PTT)

1 KOMENTAR

  1. Terima kasih Pater Andi atas terobosan ini. Beberapa waktu lalu, kami menjumpai pasien yg rumahnya Pater dkk bangun. Bagus sekali. Sangat bagus. Aman.

    Apakah ada juga penanganan dari sisi medis, Pater?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here