Beranda Feature Kisah Dua Perempuan NTT di Bali, Ditinggal Pergi Calon Suami dalam Kondisi...

Kisah Dua Perempuan NTT di Bali, Ditinggal Pergi Calon Suami dalam Kondisi Hamil

105
1
Foto: Ilustrasi

FLORESPOST.co, Denpasar – Dua wanita muda asal NTT merantau ke Bali. Niatnya ingin merubah nasib, apa daya kehidupan menjadi susah.

Pasalnya kedua wanita ini harus rela menanggung malu berkepanjangan setelah keduanya sama-sama ditinggal pergi oleh calon suami mereka. Padahal, keduannya dalam kondisi sudah hamil . Keduanya pun telah melahirkan bayi mereaka dan ditampung oleh yayasan Angle Heart yang ada di Denpasar.

Sebut saja namanya Bunga, gadis asal desa Kaera, kecamatan Pantar Timur, kabupaten Alor, NTT. Pada (17 /2/ 2017) lalu, ia melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki di Rumah Sakit Sanglah. Bayi hasil hubungannya denga Ela, seorang pria asal kota Kupang NTT.

Sejak usia kandungan Bunga memasuki bulan ke tiga, Ela berpamitan ke Bunga, dengan alasan hendak berangkat kerja di kapal Ikan.

Namun sayangnya, alasan tersebut rupanya dipakai Ela untuk kabur meninggalkan bunga seorang diri. Sejak saat itu ponsel Ela sang pacar tidak bisa dihubungi, ia menghilang tanpa jejak.

Sejak saat itu, Bunga harus menanggung sendiri biaya hidupnya selama di Bali termasuk untuk urusan bayi yang tengah dikandungnya.

Singkat cerita, tibalah waktunya Bunga hendak partus.  Ia dilarikan ke Rumah Sakit Sanglah Denpasar dan lahirlah Bayi dalam kandungannya tanpa kehadiran Ela.

Total biaya melahirkan dan dua hari perawatan di rumah sakit Sanglah sebesar Rp 1,9 juta. Biaya tersebut terpaksa  dibayarnya sendiri,  bermodalkan uang pinjaman dengan menggadaikan ijazah SMK miliknya.

Masalah mulai timbul, terutama terkait biaya hidup Bunga dan bayinya kedepan. Namun berkat informasi dari kenalannya dengan menumpang ojek Bunga berangkat dari Ruma Sakit Sanglah menuju Yayasan Angle Heart yang terletak di kawasan Renon Denpasar tak jauh dari Rumah Sakit.

“Saya sampai di sini sore, mau malam. Setelah bicara dengan ibu (Linda-red) akhirnya diperkenankan tinggal di sini,” kisah Bunga Kamis (22/2/2018) kemarin.

Menurut pengakuannya, Bunga adalah anak ketiga dari tiga bersaudara dalam keluarganya. Dua kakaknya sudah bekerja di Alor. Kedua orangtuanya berprofesi sebagai petani biasa di Alor, namun cukup aktif di gereja dan disegani oleh warga kampung.

Karenanya Bunga mengaku malu apabila aibnya sampai diketahui oleh keluarganya di Alor.

“ Meski kami miskin tapi orang tua sangat dihormati di gereja,” katanya sambil menangis.

Bunga merupakan  lulusan salah satu SMK Kesehatan di Alor. “Begitu tamat, tidak ada kerja. Setahun menganggur di Alor, tahun 2015 saya dan beberapa teman memutuskan ke Bali hendak mencari kerja,” ucap Bunga.

Di Bali awalnya Bunga bekerja menjadi pembantu rumah tangga, namun empat bulan kemudian Bunga memutuskan pindah kerja, juga menjadi pembantu rumah tangga di kawasan Nusa Dua.

Majikan Bunga ini memiliki sebuah toko di pasar Central Nusa Dua. Dari sinilah Ia bertemu dengan Ela, seorang pria asal kota Kupang.

Sayangnya Bunga tak tahu persis alamat Ela di Kupang. Sepengetahuan Bunga kekasih hatinya ini mengaku bekerja di kapal ikan di Pelabuhan Benoa.

Singkat cerita keduanya resmi berpacaran dan hidup bersama di sebuah kos. Alhasil, Bunga pun hamil. Ketika kandungannya memasuki usia 3 bulan, Ela yang berpamitan  naik kapal ternyata hilang tanpa kabar dan tidak pernah balik lagi sampai sekarang.

Tidak hanya berhenti di situ, Ela juga memblokir pertemanannya  dengan Bunga di jejaring social Facebook miliknya.

“ Makanya sampai sekarang saya tidak berharap ke dia lagi. Biar saya piara anak saya. Cuma, bagaimana nanti orang tua saya tahu, itu yang jadi beban pikiran saya terus,” kisahnya.

Kisah hidup yang dialami Bunga  juga dialami oleh Ina (bukan nama sebenarnya,red).  Gadis asal Sumba Barat NTT ini juga ditipu pria asal Batak Sumatra, yang tak lain adalah  pacar yang telah menghamilinya.

Ina mengaku mengenal Nabas, seorang pria Batak karena mereka satu gereja dan sering berpapasan di gereja. Singkat cerita, keduanya resmi berpacaran sekitar 1 tahun. Tetapi  begitu Ina hamil, Nabas mencoba menghindar.

Setelah difasilitasi, akhirnya dia mau datang untuk bertanggungjawab.

“Tapi di tengah proses menikah itu dia (pacarnya) kabur. Saya tidak menyangka dia kabur,” kata Ina.

“Saya coba kontak ke keluarga di  Medan, malah  saya dicaci maki sama ibunya,” kisah Ina.

Pada sekitar pertengahan Januari 2018 lalu Ina melahirkan bayi laki-laki.  Untuk menutupi aib ini, kedua orangtua Ina memutuskan untuk menitipkan Ina dan bayinya di Yayasan Angle Heart. (Antonius Rahu/PTT)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here