Beranda Feature Dipasung Hampir 18 Tahun, Kaki Kristianus Nau  pun Mengecil

Dipasung Hampir 18 Tahun, Kaki Kristianus Nau  pun Mengecil

250
1
Kristianus Nau dipasung hampir 18 tahun, kakinya pun mengecil (Foto: Rosis Adir/Florespost)

FLORESPOST.co, Borong – Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) acapkali dikucilkan dalam kehidupan sosial. Kebanyakan orang takut jika berhadapan dengan ODGJ.

Tak jarang kebanyakan ODGJ dipasung oleh keluarganya agar tidak keluar rumah, meskipun pemasungan itu dilarang dalam undang-undang tentang kesehatan jiwa.

Memasung OGDJ adalah solusi alternatif dari keluarga karena minimnya fasilitas atau ruang yang mengakomodir para OGDJ seperti rumah sakit jiwa.

Demikian pun di Borong, ibukota kabupaten Manggarai Timur, NTT. Pada Rabu (28/2/2018) siang, bersama rombongan Kelompok Kasih Insanis (KKI), sebuah wadah solidaritas dan sosial karitatif yang dibentuk untuk membantu penyandang gangguan jiwa, bersama Pater Avent Saur SVD, Florespost.co dan sejumlah awak media baik media lokal maupun media nasional, mengunjungi salah satu ODGJ di Watu Ipu, kelurahan Kota Ndora, Borong, Manggarai Timur.

Ada rasa iba ketika pertama kali melihat kondisi OGDJ tersebut. Tampak kaki kirinya dipasung dengan sepasang balok berukuran lebar kira-kira 15 cm, tebal 10 cm dan panjang sekitar 1,5 meter.

Kedua kakinya terlihat mengecil akibat terkurung dalam pasungan yang terbuat dari dua balok kayu yang direkat dengan baut berukuran besar tersebut. Kedua kakinya itu secara bergantian dimasukan kedalam pasungan balok tersebut.

Nama ODGJ tersebut bernama Kristianus Nau (33). Kristianus enggan menjawab pertanyaan Pater Avent Saur saat berkomunikasi dengannya. Ia lebih banyak tunduk dan tertawa ketika diajak bercanda oleh Pater Aven. Kristianus terlihat senang, ketika Pater Avent menawakan rokok kepadanya. Ia menyulutkan rokok itu, lalu mengisapnya tanpa henti.

Kristianus ditempatkan pada bilik berukuran 2×3 meter di dalam rumah orang tuanya. Putra ketiga dari pasangan Gabriel Lado (69) dan

Dominika De’o (56) itu tampak hanya mengenakan celana pendek tanpa baju di kamar tersebut. Ia tidur beralaskan selembar tikar pada lantai semen di biliknya itu.

Kepada rombongan kami, Maria Imaculata, saudarinya, mengatakan, Kristianus mulai mengidap penyakit gangguan jiwa sejak bulan September tahun 2000.

Kala itu, kata dia, awalnya Kristianus menghafal semua ayat-ayat kitab suci Katolik (Alkitab). Beberapa hari kemudian, ia mulai melempari beberapa rumah tetangga sekitar dengan batu.

Tak hanya itu, Kristianus bahkan pernah memukul orang tuanya sendiri. “Sempat pukul bapa karena dia minta pasung, bapa tidak mau, karena merasa kasihan dengan dia,” cerita Maria.

Sejak saat itu, keluarga pun sepakat untuk memasungnya agar tidak mengganggu warga sekitar.

Pihak keluarga, kata Maria Imaculata, enggan membawa Kristianus ke panti rehabilitasi karena takut  kambuh dan mengamuk di Panti. “Tidak mau bawa ke panti karena takutnya dia kambuh lagi, pukul orang lain itu yang kami takut,” katanya.

Maria hanya bisa berharap agar saudaranya itu lekas sembuh dari penyakit kejiwaan yang telah belasan tahun tersebut. “Ya, selalu berharap agar ade mau sembuh,” ujarnya lirih.

Tak Perlu Takut Dengan ODGJ

Pandangan publik terhadap ODGJ sepertinya sangat kontras dengan pandangan Pater Avent Saur SVD, pastor SVD yang dikena mendampingi ODGJ di Flores.

Penggagas dan Pendiri Kelompok Kasih Insanis  itu berpendapat bahwa tak ada yang perlu ditakuti dari ODGJ.

“Cuma kalau Kita tidak perna dekat dengan mereka, apalagi dengan pelbagai stigma dan dugaan, itu yang membuat kita takut,” ujar Pastor dari ordo Serikat sabda Allah tersebut.

Pater Avent Saur SVD (Foto: Ist)

Menurut pastor yang sudah 4 tahun mengurus para ODGJ itu, orang yang mengidap penyakit gangguan jiwa tersebut disebabkan karena gangguan fungsi otak, sehingga mempengaruhi bagian tubuh yang lain. Jadi, kata dia, tidak ada hubungannya dengan hal lain seperti karena gangguan roh halus, guna-guna (santet) dan faktor keturunan.

“Orang dengan gangguan jiwa dapat disembuhkan melalui proses rehabilitasi dan pemberian obat yang teratur. Sudah banyak orang dengan ganguan jiwa yang sudah kami tangani dan puji Tuhan semuanya sembuh,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut juga Pater Avent memberikan obat untuk Kristianus. Dia berharap agar pihak keluarga tidak menjadikan Kristianus sebagai beban.

“Kamu punya tanggung jawab untuk mengurusnya,” pesan Pater Aven kepada keluarga Kristianus sebelum rombongan meninggalkan rumah mereka. (Rosis Adir/PTT)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here