Beranda Headline Puisi: Jejak-Jejak Sunyi

Puisi: Jejak-Jejak Sunyi

919
0
FOTO: Ilustrasi (StockSnap)

Oleh: Gerard N Bibang

 

1/

jejak-jejak sunyi berwarta merdu

tentang kisah dua anak manusia pada paruh sebuah waktu

meski angin tiba-tiba menderu

darah dalam nadi mereka kembali mencair

ketika rindu menggelorakan jiwa untuk meluruhkan kabut sepi

2/

siapakah yang rela berkisah

ketika ombak berkejaran dengan senyap

siapakah yang menggambari langit

dengan kuas sehalus awan pagi

ketika rindu hanya membekas pada jejak-jejak sunyi

yang mengukir udara dengan piawai

dengan pahat selentur jemari

3/

pada jejak-jejak sunyi

rahasia rindu jelas terurai

kenangan mengelus rambutnya waktu itu

merembes ke dalam syair-syair syahdu

tentang jiwa yang merindu kebahagiaan

dengan dia yang disebut separuh jiwa

4/

ketika sepi menyeberangi gunung, pulau, laut dan selat

angin mengirimkan isyarat

untuk kembali kepada jejak-jejak sunyi

yang telah mendekatkan jarak ruang dan waktu

yang ketika senja mematangkan cahaya

dua anak manusia tenggelam dalam palung rindu

5/

tak ada kata-kata yang menggambarkan bahwa kehilangan merupakan bentuk lain dari penyerahan kepada kepentingan lebih besar

ketika salah seorang harus pergi dan di mana salah seorang lainnya lagi mesti berdiri

jejak-jejak sunyi yang ditinggalkan berupa bau dan cerita panjang lenyap di kejauhan

benarkah di sebelah selat tersimpan rindu dalam derunya ombak

mereka berusaha saling mengingat dalam jarak yang masih terjengkal

hari demi hari tidak pernah mengantarkan mereka kemana-mana

sukma-lah destinasi paling akhir dari semua persinggahan di dunia, demikian keyakinan mereka

jejak-jejak sunyi yang telah menuliskan syair di atas pasir adalah ibarat artefak percintaan mereka

menjadi hikayat yang menghembus ke udara yang tak akan dihapus cuaca

perjumpaan mungkin tidak harus sekarang

sebagaimana pertemuan langit dan bumi yang selalu tertunda

6/

pelan-pelan langkah fajar mendekati tembok bandara

menjelang subuh tiba

ufuk yang kemerahan menggeraikan rambutnya ke udara

dan udara menyisir rambutnya dengan hembusan angin

ia pergi meninggalkan jejak-jejak sunyi dalam sanubari

7/

dari ujung kaki gunung menyembul matahari yang berawan

tirai-tirai cahayanya membayang pada sungai dan lembah

jejak-jejak sunyi mengingatkannya akan awal percintaan mereka

sejak saat itu, waktu tak pernah menyebutnya sebagai kehilangan

tapi di manakah dia sekarang

8/

jejak-jejak sunyi membisikinya sebuah kebenaran:

“ingatlah, kehilangan hanyalah jeda dari sebuah perjalanan panjang

Hanyalah persinggahan di antara keberangkatan dan kedatangan

yang terus menerus berulang

hingga kematian datang sebagai destinasi akhir

membukakan pintu menuju kebenaran abadi

maka, bertarunglah melawan sunyi

di sana ada artefak yang mengisahkan dirimu sebagai pemberani“

9/

bibirnya mendarat di kening halusnya saat jumpa pertama

angin mengabarkan percintaan itu keselatan dan menghilang di balik ombak

tapi kecupan itu telah menorah jejak-jejaksunyi

telah menjadi sangat panjang dalam ingatannya

menjadi layar bagi perahu imajinasinya

menjadi jaring bagi sisa-sisa godaan yang bertaburan

menjadi petunjuk jalan ketika sedang galau kebingungan

10/

lalu matanya padam bersama senja

akankah cintanya memudar?

jejak-jejak sunyi memang telah menjadi ujung cahaya di balik keremangan

mungkin menghilang tapi tidak ternoda oleh tumpahan tinta

perjumpaan demi perjumpaan sudah terlukis indah dalam jejak-jejak sunyi

selalu melahirkan berbagai kemungkinan yang sulit untuk di gambar ulang

mungkin akan seperti angin yang ber-sahut2-an di udara

dan per-lahan2menurunkan layar senja ke mulut muara

***

(gnb:tmnaries:jkt:hari minggu ketiga prapaskah:4.3.2018)

Gerard N Bibang (Foto: DOK Pribadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here