Beranda Feature Sukacita di Kala Pasung Petu Dilepaskan

Sukacita di Kala Pasung Petu Dilepaskan

88
0
Petu dibebaskan setelah 13 tahun dipasung (Foto: DOK.MI)

FLORESPOST.co, Maumere –  Meski tidak ada data pasti, jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Flores diindikasikan cukup tinggi. Tetapi di sisi lain, ketersediaan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit jiwa tidak ada.

Selama ini perlakuan yang umum terhadap ODGJ adalah memasungnya, bila ia melakukan tindakan-tindakan berbahaya. Bahkan ada ODGJ yang dipasung selama bertahun-tahun oleh keluarganya.

Hal itu terpaksa dilakukan karena minimnya fasilitas yang bisa mengakomodir para ODGJ tersebut, seperti rumah sakit jiwa atau panti rehabilitasi.

Padahal, memasung ODGJ,  melanggar undang-undang tentang kesehatan jiwa.

Petu adalah salah satu dari sekian banyak  orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Flores, NTT yang dipasung karena galak dan mengancam membunuh banyak orang.

Warga Maumere, Kabupaten Sikka ini dipasung sejak berusia 23 tahun. Kini usianya sudah 36 tahun. Selama 13 tahun, Petu hidup dalam kesengsaraan.

Jiwanya sakit, badannya turut disakiti karena dipasung selama belasan tahun. Ia ditempatkan di luar rumah yang ditutupi zink dan terpal seadanya.

Hari yang dinanti-nantikan Petu pun tiba. Setelah 13 tahun dipasung,  Rabu 7 Maret 2018 menjadi  hari pembebasannya.

“Ada rasa haru dan air mata ketika akhirnya pasung itu dibuka. Dari matanya, tampak Petu mencoba menahan tangisan karena rasa haru, sedangkan mamanya tak henti-hentinya meneteskan air mata kebahagiaan,” kisah Pater Cyrelus Suparman Andi dari ordo Ordo Para Pelayan Orang Sakit (MI), kepada Florespost.co, Rabu (7/2/2018) malam.

Sukacita di hari pembebasan Petu (Foto: DOK.MI)

Pater Andi dan rekan-rekannya dari MI berinisiatif membangun rumah bebas pasung bagi orang-orang dengan gangguan jiwa di Flores. Sudah ada beberapa rumah yang dibangun dan masih ada lagi beberapa yang akan dibangun.

“Terima kasih Pater, terima kasih para frater dan Seminari St. Kamilus untuk bantuannya kepada kami dan kepada Petu,” ujar ibuda Petu, setelah putranya itu dilepaskan dari pasungan.

Pater Andi menceritakan ada rasa haru karena sukacita di hari pembebasan Petu. “Aku memeluk Petu dengan penuh kasih sayang. Aku juga menahan air mata, karena merasa haru melihat Petu bisa bebas dari pasungannya,” ujar Pater Andi.

Setelah pasung dibuka, kata dia, Petu dituntun masuk ke rumah barunya, ‘rumah bebas pasung’ yang dibangun oleh Ordo MI.

Rumah itu diberkati secara Katolik. Petu juga diberkati dan didoakan agar sembuh. Petu mengikuti semuanya dengan tekun dan khusyuk. Ibunya tampak selalu meneteskan air mata, air mata sukacita.

Selesai doa pemberkatan Petu bisa berkumpul untuk ngobrol dan sharing pengalamannya dengan semua yang hadir sambil makan-makan dan minum. “Sungguh kami bersukacita karena Petu akhirnya lepas dari pasungan dan dia tidak merasa malu atau canggung dengan kami semua yang hadir,” tuturnya.

Petu diberkati Pater Andi, MI

Menurut Pater Andi, tanpa diduga, ternyata kabar tentang pembebasan Petu dari pasung sudah beredar. Sehingga, banyak orang sudah menunggu di rumah Petu. Para perawat dan dokter dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka dan Puskesmas Nita serta dari Dinas Sosial Kabupaten Sikka juga turut hadir.Demikian juga dari perangkat desa dan relawan Kelompok Kasih Insanis, kelompok masyarakat yang juga menaruh perhatian pada orang dengan gangguan jiwa di Flores.

“Kami tentu merasa senang karena perbuatan kecil kami menarik perhatian banyak pihak untuk membantu Petu dan pasien-pasien lain yang  gangguan Jiwa. Hal itu membuka mata banyak orang bahwa Petu adalah manusia yang layak untuk dilayani dan diperhatikan,” tambahnya.

Sebelum pamit, kata Pater Andi, dirinya memeluk Petu dan berbisik di telinganya untuk menanyakan tentang perasaan Petu terhadap ibunya.

“Apa perasaanmu terhadap mama?” tanya Pater Andi.

Hal itu ditanyakan, karena Petu sempat memukul mamanya beberapa bulan lalu.

“Dan dengan halus Petu menjawab, ‘Aku tidak membenci mamaku, Pater. Aku tidak sadar kalau aku pernah pukul mama. Tapi aku sayang mamaku yang selalu melayaniku,” ceritanya.

“Aku merasa bahagia mendengarnya. Dari mulut Petu, aku mendengarkan kata-kata seorang anak yang tahu bersyukur kepada orang tuanya. Dan sungguh hati seorang anak itu akan selalu tau bersyukur, jika tidak ada sesuatu yang mengganjel di hatinya,” lanjutnya.

Diakhir ceritanya, Pater Andi mewakili Petu dan keluarga serta seminari St. Kamilus,  mengucapkan limpah terimakasih kepada semua doa dan dukungan sahabat-sahabat yang memperlancar pembangunan rumah baru Petu.

“Semoga semua amal baktimu berkenan kepada Tuhan. Dan semoga Tuhan memberkatimu secara melimpah,” pungkasnya.

Awal Perjumpaan dan Inisiatif Bangun Rumah Bebas Pasung

Kisah tentang Petu ini diketahui setelah Pater Andi, didatangi seorang perempuan tua pada Senin (19/2/2018) di seminari St. Kamilus Nita, Maumere. Perempuan tua tersebut tak lain adalah ibunda Petu.

Diceritakan ibunya itu, Petu yang berusia 36 tahun, telah dipasung selama 13 tahun.

“Sekarang selalu memohon supaya pasungannya dilepaskan,” kata Pater Andi kepada Florespost.co, saat dihubungi pada Rabu (21/2/2018) lalu.

Baca: Membangun Rumah Tanpa Pasung, Kisah Perjumpaan Pater Andi MI dengan Penderita Gangguan Jiwa di Flores

Petu dipasung karena pernah mengancam membunuh orang. Namun, setelah lama dipasung, Petu meminta dibebaskan. Menurut cerita Pater Andi, setiap kali anaknya meminta pasungannya dibuka, ibu tersebut hanya bisa menangis. “Mama ini juga tidak berani buka pasungan karena takut dengan efek buruk yang mungkin saja terjadi terhadap orang lain atau keluarga mereka jikalau anak yang sakit jiwa ini galak lagi,” katanya.

Rumah bebas pasung, tempat baru Petu (Foto: DOK.MI)

Berdasarkan pengakuan sang ibu, kata Pater Andi, beberapa waktu terakhir, Petu juga selalu meminta untuk berbicara kepada Romo atau Pastor siapa saja. “Karena itulah dia datang meminta bantuan ke seminari,” ujarnya.

“Mendengar kesaksiannya, dan menyaksikan ibu ini menangis, hatiku merasa iba. Air matanya itu bagai petir yang menyambar kalbu. Aku dan Pater Alfons, rekanku di seminari, dan beberapa Frater, mencoba mendatangi rumahnya,”ujarnya.

Jarak Seminari degan rumah Petu sekitar 3 kilometer. Ketika tiba di rumahnya waktu itu, kondisinya memang sangat memprihatinkan. Selama 13 tahun, Petu hanya duduk dalam pasungan.

“Dia tidak pakai celana, tapi hanya ditutup kain, yang dipakainya juga untuk membungkus dirinya kalau tidur dan menangkal dinginnya angin di kala hujan dan di waktu malam,” ceritanya.

Petu dipasung di luar dapur, di atas tenda, dan hanya beratapkan zink. Tak ada dinding di tempat itu. “Hanya baru-baru ini dipele (ditutupi) dengan terpal, karena dia selalu mengeluh kedinginan,” ujarnya kala itu.

Petu bukanlah pasien sakit jiwa pertama yang ditemui ordo MI. Sejak tahun 2015, ordo MI sudah melayani beberapa pasien sakit jiwa di sekitarnya. “Kami mencoba memberikan solusi dengan membangun rumah, dimana pasien bisa hidup tanpa harus dipasung,” kata Pater Andi.

“Dua orang pasien sejenis telah kami bangun rumahnya yang berukuran 3 x 4 meter, dengan kamar mandi/WC dalam, pada tahun 2015 dan 2016. Rumah ini dibuat persis di samping rumah keluarganya sendiri,”ujarnya.

Setelah mempertimbangkan semua aspek, kata Pater Andi, pihaknya memutuskan untuk melanjutkan proyek ‘membangun rumah, tanpa pasung’ untuk Petu, dan orang dengan gangguan jiwa lainnya. (Rosis Adir/PTT).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here