Beranda Headline Cerpen: Adios

Cerpen: Adios

18
0
FOTO: Ilustrasi (Katerina Knizakova)

Oleh: Anselmus Sudirman*

 

Jauh di lubuk hatinya, Oliviera berusaha mematahkan anggapan miring yang pernah ia dengar selama ini. Hampa. Garing. Itulah kata-kata yang meremehkan hidup perkawinannya dengan seorang yang bergelimang harta. Tapi seiring berlalunya waktu, siapa yang menyangka kalau ia sendiri akhirnya membuka lembaran baru kehidupan, mewujudkan kasih dan kebahagiaan seperti halnya keluarga lain.

Di suatu senja, Oliviera duduk menyendiri di kamar tidur, terpaku menghadap ke dinding marmer dan menyadari bahwa belakangan ini suaminya menjadi sosok yang semakin asing baginya. Dengan setumpuk asa yang masih tersisa, ia tetap menerima dengan lapang dada apa pun yang menghalangi bahtera perkawinannya, perkawinan tanpa cinta.

Masih segar dalam ingatannya kata-kata Salma Oliviera, ibunya, “Meskipun tanpa cinta, ayah dan ibu telah melalui perkawinan selama puluhan tahun. Sampai sekarang kami tetap rukun. Kau dan Fabian Gomez mestinya juga begitu.”

Gomez adalah putra sahabat dekat Leo Oliviera, berwajah tampan, kaya, tinggi dan berotot seperti atlet angkat besi. Ia menjadi pria idaman gadis-gadis remaja, idola wanita-wanita cantik, bahkan janda-janda kembang. Di mata mereka, Gomez adalah calon suami dan menantu ideal bagi anak-anak gadis dari keluarga kaya. Celakanya, Leo Oliviera termasuk dalam golongan itu yang tega mencelakakan anaknya sendiri, Martha Oliviera, dengan jebakan perjodohan.

Tidak pernah terlintas dalam pikiran Oliviera apa artinya ketaatan dan kesetiaan pada laki-laki kaya raya yang tidak pernah dikenal dan dicintainya. Laki-laki yang merupakan pilihan orang tuanya. Dalam keluarga besarnya, ada kebiasaan menikahkan anak berdasarkan perjodohan, suatu ironi kehidupan dari sisa-sisa keangkuhan kaum patriarkat.  Dan, ia sendiri tidak bisa menghindari hal itu termasuk kesediaan menanggalkan identitas keluarga orang tuanya. Apalagi kalau bukan soal nama marga Oliviera yang harus diganti dengan nama marga suaminya, Gomez. Jadi, kini ia menyandang nama baru – Martha Gomez, nama yang belum pernah ia pakai dalam segala situasi.

Begitu pernikahannya menginjak tahun kelima, terjadilah apa yang ditakutkannya. Persoalan demi persoalan datang silih berganti – pertengkaran, ketidakcocokan, miskomunikasi. Bahkan setelah dikaruniai dua anak sekali pun, mereka tetap merasa asing satu sama lain.

Hadirnya kekasih gelap memperkeruh suasana keluarga itu. Hampir setiap minggu Gomez berkencan dengan gadis simpanannya. Yang muncul di permukaan adalah pola tingkahnya yang aneh. Oliviera belum tahu kalau jauh di lubuk hati suaminya bercokol orang ketiga yang berusaha menghancurkan bahtera rumah tangganya.

Oliviera tidak sudi membicarakan masalah perkawinannya. Segala sesuatu ia simpan sendiri. Orang tuanya juga tidak mengetahui kalau perkawinannya sedang bermasalah. Cuma ada satu orang yang bisa dipercayanya sebagai sahabat. Demetria Dumilah – wanita yang baik hati,  cerdas, cantik, setia dan bisa diandalkan. Hanya kepadanyalah ia menyampaikan keluh kesah. Hal itu telah berlangsung lama sejak ia kuliah dan tinggal di Yogyakarta.

Suatu ketika Oliviera berkata, “Demetria, hari ini aku mau ke Dili.” Dengan seulas senyum di wajahnya, Demetria bertanya, “Kau hendak bertemu Gomez?”

“Ya, aku hendak meminta ia pindah ke Yogyakarta.”

“Kenapa?”

“Biar lebih dekat. Anak-anak pasti membutuhkan seorang ayah.”

“Kurasa memang begitu. Jika tidak, semuanya akan jadi hampa, garing.”

Kepergian Oliviera kali ini menemui sesuatu yang tak diduga-duga. Biasanya setiap kali ia tiba di Dili, suaminya siap menjemputnya di Bandara Comoro. Tapi hari itu ia tidak melakukannya. Oliviera menelepon ke kantor suaminya dan kata sekretarisnya ia sedang keluar kota. Untungnya sekretarisnya itu mengirimkan mobil untuk menjemputnya.

Sesampai di rumah, ia disambut Olga Tum yang terus mengomel, “Aduh, kalau Oliviera kembali ke Jawa, aku dan mas Marjo ikutan, ya?”

“Lho, kenapa?” tanya Olviera. “Nanti siapa yang urus rumah?”

“Terserahlah. Pokoknya si Mbok mau pulang ke Jawa.”

“Ada apa sebenarnya Mbok? Pak Marjo?”

Dengan berlinangan air mata Mbok Tum dan Pak Marjo menceritakan bahwa Gomez sering pergi bersama wanita cantik asal Spanyol. Namanya Harlot Esperanza. Memang sejak dua tahun terakhir ini Oliviera melihat gelagat tak beres dalam diri suaminya. Otaknya berputar cepat memikirkan tindakan apa yang harus diambil. Ia langsung menelepon Demetria. Tidak ada sedikit pun perasaan sedih dan getir yang menyelimuti dirinya ketika ia menceritakan kembali affaire d’amour1 itu. Ia biasa-biasa saja – tersenyum, tertawa, bersemangat dan tidak pernah menangisi kelakuan Gomez. Wanita itu. Nama itu. Cerita  Mbok Tum dan suaminya, Pak Marjo.

“Begitu rupanya,” kata Demetria. “Apakah kau merasa shock?”

Oliviera menjawab sambil tertawa, “ Tidak. Itulah yang membuatku heran. Mungkin karena kami berdua dijodohkan. Lalu bagaimana aku menghadapinya?”

Demetria berpikir sebentar sebelum berkata, “Yang perlu kau ingat adalah masa depan anak-anakmu. Bangunlah rasa percaya diri dan kasih sayang untuk hidup dan masa depan mereka. Semuanya berawal dari keluarga. Maka tidak ada salahnya bila bahtera keluargamu ditata kembali sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi sebuah hubungan dan komunikasi dari hati ke hati. Dan, jangan lupa satu hal lagi – mintalah uangnya sebagai modal awal bisnis barumu.”

Dari jendela berjeruji lebar Oliviera melihat ke arah lautan. Saat itu langit lagi mendung. Tidak ada kapal besar yang merapat ke pelabuhan. Tapi banyak orang berbondong-bondong menuju ke pantai. Pikirannya terbenam jauh ke masa silam. Di tahun 1977 usianya masih delapan tahun, bisa berbicara dalam lima bahasa – Inggris, Spanyol, Portugis, Tetum dan bahasa Indonesia. Ia bermain dengan Cabral, Soarez, Aviz, Pedro, Maria, Carmona, Mahmud dan Francisco di pantai yang sama, berenang, menikmati pemandangan indah dan menyanyikan lagu kehidupan:

Jangan hiraukan gumpalan keriput di wajahnya

Yang selalu tersenyum di kala senja menjelang

Bunyi klakson mobil membuyarkan lamunannya. Ia mengintip dari balik tirai jendela. Setelah memastikan itu mobil Gomez, ia langsung menyambutnya di depan pintu dengan sikap yang ramah dan dandanan yang begitu cantik.

“Halo, apa kabar?” sapa Oliviera sambil mencium pipinya.

“Baik. Terima kasih. Kok, datang tanpa memberitahuku?”

“Anggap saja ini kejutan dan kunjungan mendadak.”

Gomez menyeringai dan terlintas pikiran di benaknya, “Oh, tadi kan kau telepon ke kantor. Oliviera, kau kira kunjungan mendadak bisa menguak relasiku dengan si cantik Esperanza. Ia wanita luar biasa yang pernah kujumpai di bumi ini.”

“Kau sibuk sekali, ya? Ayo lekas ganti baju. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.”

Gomez terbengong-bengong menghadapi perhatian istrinya yang tidak biasa ia lakukan sejak lama. Sambil menikmati hidangan istimewa, mereka mengobrol santai.

“Kau kelihatan kurus, Gomez,” kata Oliviera. “Kenapa?”

Kurus dari Hongkong. Ya, akhir-akhir ini aku makan tidak teratur.”

“Andai saja aku tidak sibuk, pasti aku bisa menemanimu di sini.”

Kau tidak tahu duduk persoalannya. Ah, jangan terlalu dipikirkan.”

Oliviera cemberut. Gomez berusaha meyakinkannya dan berkata, “Jangan keliru, Oliviera. Maksudku, kegiatanmu begitu padat. Mana mungkin kau sempat memikirkanku? Lagi pula, aku baik-baik saja, kok.”

Konsentrasinya buyar kembali ketika bayang-bayang wajah cantik Esperanza terus mengikutinya. Lalu ia berkata dalam hati, “Aduh, kenapa kau selalu mengisi kekosongan di hatiku. Pergilah dari pikiranku. Aku minta sebaiknya kau menjauh. Pergilah sejauh mungkin dari ingatanku.”       

Oliviera tiba-tiba berdiri dan membisikkan sesuatu ke telinganya, “Aku sedang memikirkan sesuatu, Gomez.”

“Apakah itu?”

“Bagaimana kalau aku membangun satu atau dua restoran lagi di Yogyakarta?”

“Oh, itu ide bagus.”

Terdengar kelegaan dalam suara Gomez yang membuatnya tampak lebih ceria. Tapi pikirannya tetap melayang-layang dan suara aneh lain di lubuk hatinya berkata, “Lebih baik kau cepat menyingkir ke Yogyakarta sehingga aku lebih leluasa bergerak dengan Esperanza-ku.”

“Apakah kau bisa menyediakan uang dalam waktu dekat?” Oliviera bertanya. “Aku kira usaha restoran membutuhkan modal yang tidak sedikit. Bukankah begitu?”

“Jangan kau pikirkan soal uang, Oliviera.”

“Betulkah? Oh, terima kasih, Gomez-ku. Kau sungguh baik hati.”

Oliviera tersenyum semanis madu. “Benar juga,” batinnya. “Bila pria merasa berdosa, ia akan bersikap royal untuk menutupi kebohongan dan rasa bersalah. Gomez, permainan ini baru dimulai dan aku sedang memikirkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memuluskan jalanku.”

Di pagi yang cerah keesokan harinya, urusan transfer uang berjalan lancar. Maka mengalirlah uang ratusan juta rupiah ke dalam rekening Oliviera.

Setelah semuanya beres, Gomez tetap berangkat ke kantor dan pulang lebih cepat dari biasanya. Tapi raut wajahnya yang tidak bersahabat seakan memberitahukan suatu isyarat bahwa Oliviera perlu berpikir panjang untuk tinggal bersamanya lebih lama lagi.

“Besok aku akan kembali ke Yogyakarta,” kata Oliviera. Gomez menatapnya tidak percaya dan bertanya, “Kenapa terburu-buru pulang? Sudah bosan ya tinggal di sini?”

“Tidak. Apakah kau tidak kasihan? Ibu mertuamu harus mengurusi anak-anak kita.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here