Beranda Opini Opini: Pendidikan Multikultural: Solusi Perpecahan di Tahun Politik

Opini: Pendidikan Multikultural: Solusi Perpecahan di Tahun Politik

1.571 views
0
Heribertus Kamang, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, (Foto: DOK. Pribadi)

Oleh: Heribertus Kamang*

 

Beberapa waktu terakhir ini, masalah yang berkaitan perpecahan menjadi topic hangat untuk diperbincangkan di media dan semua kalangan. Apalagi berkaitan dengan isu agama yang sangat sensitif di mata masyarakat Indonesia. Di beberapa media sering memuat tentang bagaimana sikap masyarakat Indonesia dalam menanggapi multicultural yang ada. Namun itu semua hanya wacana belaka atau sebuah slogan untuk menggaet kepentingan tertentu. Menerima adanya sebuah pluralis bukan atas dasar kesadaran dari dalam diri melainkan tindakan yang hanya mau dipuji oleh public.

Multikulturalisme

Multikulturalisme secara sederhana dapat dikatakan sebuah pengakuan atas adanya pluralisme. Pluralisme bangsa merupakan sebuah pandangan yang mengakui akan adanya keberagaman di dalam suatu bangsa, seperti Indonesia. Istilah plural mengandung arti yang beragam, namun pluralisme bukan berarti sekedar pengakuan dalam hal tersebut. Namun mempunyai implikasi-implikasi politis, sosial, ekonomi yang harus dijalankan oleh setiap warga negara Indonesia untuk menjaga kesatuan republik.

Sebagai sebuah ideologi, multikulturalisme terserap dalam berbagai interaksi yang ada dalam berbagai struktur kegiatan kehidupan manusia yang tercakup dalam kehidupan sosial, kehidupan ekonomi dan bisnis, dan kehidupan politik, dan berbagai kegiatan lainnya di dalam masyarakat yang bersangkutan. Interaksi tersebut berakibat pada terjadinya perbedaan pemahaman tentang multikulturalisme. Perbedaan tersebut berimplikasi pada perbedaan sikap dan perilaku dalam menghadapi kondisi multikultural masyarakat Indoneisa (Rustman, 2013).

Sebagai sebuah ideologi, multikulturalisme harus diperjuangkan, karena dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, hak asasi manusia dan kesejahteraan hidup masyarakat. Sebenarnya kunci dari permasalahan yang sering terjadi di Indonesia saat ini adalah tanamnya rasa pluralis dari dalam diri kita, karena ketika kita bertindak tanpa ada rasa demikian maka segala tindakan kita selalu melukai orang sekitar kita.

Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek seperti kondisi sosio-kultural maupun secara geografis. Berdirinya negara Indonesia tentu tak terlepas dari masyarakat yang beragam, baik secara etnis, geografis, kultural maupun religius. Oleh karena itu akar dari bangsa Indonesia adalah multikultural di mana pejuang kemerdekaannya adalah masyarakat yang plural.

Masyarakat multikultural harus dihargai potensi dan haknya untuk mengembangkan diri sebagai pendukung kebudayaannya di atas tanah leluhurnya, pada saat yang sama, mereka juga harus tetap diberi ruang dan kesempatan untuk mampu melihat dirinya, serta dilihat oleh masyarakat lainnya yang sama-sama merupakan warga negara Indonesia, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, dan tanah leluhurnya termasuk sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Dengan demikian membangun tanah leluhur, berarti juga membangun bangsa dan tanah air tanpa merasakannya sebagai beban, tetapi sebagai ikatan kebersamaan dan saling kerja sama.

Pendidikan Multikulturalisme

Perkembangan multikulturalisme di Indonesia dewasa ini masih mengalami beberapa benturan seperti, perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, saparatisme, perusakan lingkungan dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk selalu menghormati hak-hak orang lain. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu adanya strategi khusus dalam memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai bidang antara lain bidang sosial, politik, budaya, ekonomi dan pendidikan.

Di sini penulis lebih memilih pendidikan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan di atas bahwasannya pendidikan adalah dasar dari pembentukan karakter manusia. Oleh karena itu pendidikan multikultural memiliki peran penting untuk menjawab permasalahan yang terjadi di Indonesia. Pendidikan multikultural merupakan upaya kolektif suatu masyarakat majemuk untuk mengelola berbagai prasangka sosial yang ada dengan cara-cara yang baik. Pendidikan multikultural sangat penting diterapkan guna meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik di beberapa daerah. Melalui pendidikan berbasis multikultural, sikap dan mindset (pemikiran) siswa akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman.

Pertentangan etnis yang terjadi di negeri ini beberapa tahun terakhir ini mengajarkan betapa pentingnya pendidikan multikultural bagi masyarakat sebagai peredam pertentangan itu. Seperti disinggung di atas, meskipun bangsa ini secara formal mengakui keragaman, namun dalam kenyataan tidak, buktinya ada begitu banyak masalah seperti diskriminsi sosial, masalah kemanusiaan dan agama. Pada prinsipnya, pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menghargai perbedaan dan kesejajaran budaya.

Penerapan Pendidikan Multikultural di Sekolah

Penerapan pendidikan multikultural di dunia pendidikan atau di sekolah diyakini dapat menjadi solusi nyata bagi konflik dan disharmoni yang terjadi di masyarakat, khususnya yang kerap terjadi di masyarakat Indonesia yang secara realitas plural.

Selain sebagai sarana alternatif pemecahan konflik, pendidikan multikultural juga signifikan dalam membina siswa agar tidak tercerabut dari akar budaya yang telah dimiliki sebelumnya, tatkala berhadapan dengan realitas sosial-budaya di era globalisasi (Ibrahim, 2013).

Oleh karena itu pendidikan multicultural harus diterapkan di lembaga pendidikan agar generasi muda Indonesia memiliki bekal yang kuat untuk menghadapi pluralisme. Ketika hal ini (pendidikan multikultural) sudah ditanamkan sejak dini maka permasalahan yang sekarang terjadi akan berkurang.

Pendidikan Multikultural tidak hanya dibutuhkan oleh seluruh anak atau peserta didik, tidak hanya menjadi target prasangka sosial kultural, atau anak yang hidup dalam lingkungan sosial yang heterogen, namun seluruh anak didik sekaligus guru dan orang tua perlu terlibat dalam pendidikan multikultural.

Dengan demikian, diharapkan akan dapat mempersiapkan anak didik secara aktif sebagai warga negara yang secara etnik, kultural, dan agama beragam, menjadi manusia-manusia yang menghargai perbedaan, bangga terhadap diri sendiri, lingkungan dan realitas yang majemuk. ***

*) Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here