Beranda Sastra Puisi: Ada Cinta di Ujung Senja

Puisi: Ada Cinta di Ujung Senja

10.540 views
1
FOTO: Ilustrasi (cmolens)

Oleh: Januarius Ola Megu*

 

Ada Cinta di Ujung Senja

 

Langit cerah perlahan memudar

Senja tergelincir dari bola mataku

Aku terpana menanti malam yang turun ditutup awan hitam

Mungkinkah ada cinta yang tunas di jantung malam?

 

Malam mekar dengan sinar purnama

Dan di langit bertabur bintang-bintang yang liar

Aku masi duduk dengan tanya dalam lamunanku

Mestikah aku harus teriak sekencang gemuruh?

Ataukah kesepian datang menampung sepi?

Mulutku bungkam, lidahku kaku

 

Suara rindu memanggil-manggil sepi

Hingga malam tiba menutup bumi

Serta bintang-bintang berbinar melukis langit

Namun aku tak apa-apa

 

Hanya sebatang rokok yang mesra dibibirku

Hingga suntuk dan lepas di tangan

Lalu aku menanti cinta yang terbit di ujung senja

Sebab ada janji yang harus diakhiri dengan sempurna

(Jakarta, Februari 2018).

***

Perempuan Tanpa Nama

 

saat kita bertemu di tepian sunyi

waktu terhenti di kaki langit yang muram

kau menatapku dalam penuh makna

seolah pertemuan kita telah abadi

bersama senyum yang mekar dengan pesona kasih

 

kudapati senyum indah itu lagi

yang membuat lidahku kaku dan tak mau bicara

ingin tangan untuk berjabat

namun indah tubuhmu lebih membuatku terpaku

 

perempuan tanpa nama

dengan wajah cantik yang selalu menghantuiku

bibir merahmu selalu menggoda jiwaku

hampir di sepanjang waktuku terbayang wajahmu

 

di manakah kau?

perempuan tanpa nama

apakah kita akan bertemu lagi?

aku masih merindukan seyum indah yang mekar

dari parasmu yang lugu nan indah

 

senja itu datang membawa berkas-berkas cahaya

yang mengisyaratkan kehadiran dirimu

waktu itu kita hanya hati dan bayang-bayang yang resah

kau bertanya tentang senja

yang menjadi payung keresahan kita?

 

entahlah, resah itu ibarat senja yang masih tertutup awan hitam

kau tersipu dan aku menebak tanya di bola matamu

tentang rasa yang akan hadir lagi bersama senja

yang indah dan waktu yang setia

“nantikan aku di senja yang akan datang”

katamu diakhir perbincangan kita yang hening

 

hari ini penantian rindu itu makin menebal

dan perlahan sirna bersama senja

aku merasa ada serpihan hatimu tumbuh dan

lekat di dalam sukmaku bersama senja

 

perempuan tanpa nama

kaukah itu, teka-teki yang

tak kutemukan jawabnya?

(Jakarta, Februari 2018).

***

Januarius Ola Megu

*)Penulis adalah Penggiat Sastra, Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, asal Adonara Flores Timur.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here