Beranda Feature Kisah Jemi, Penderita Gangguan Jiwa di Maumere, Dipasung di Dekat Kandang Babi

Kisah Jemi, Penderita Gangguan Jiwa di Maumere, Dipasung di Dekat Kandang Babi

80
0
Jemi, orang dengan gangguan jiwa di Maumre (Foto: Cyrelus Suparman Andi, MI)

FLORESPOST.co, Maumere – Namanya Jemi. Usianya lebih dari 30 tahun. Dia sudah dipasung begitu lama. Saking lamanya, antara keluarga dan tetangga pun tidak ada yang tau persis, sudah berapa lama dia dipasung.

Ada yang bilang 13 tahun, 15 tahun, dan 17 tahun. Tak penting berapa angkanya, namun yang pasti sudah begitu lama dan penderitaanya sudah begitu berat.

Terhitung Diantara Babi

Ayah Jemi sudah meninggal. Tinggal mamanya yang mengurus dia, selain mengurus kebun. Adik kandungnya sudah menikah dan  memiliki keluarga sendiri. Walaupun mereka tinggal serumah dengan mamanya, Jemi hanya diperhatikan oleh mamanya.

Karena sering sibuk mengurus rumah tangga dan berkebun, sang Mama juga mengalami kewalahan dalam mengurus kehidupan harian Jemi. Maka Jemi hampir tak terurus kalo dilihat dari tampangnya.

Dia dipasung di bagian belakang rumah mereka. Di sana juga ada kandang babi keluarga mereka. Kondisi temapt pasungannya sangat memprihatinkan.

Dia dipasung diatas tanah, hanya beralaskan papan kayu yang sudah lapuk. Tanahnya pun sudah becek. Maka kondisinya tidak jauh berbeda dari kandang babi. Jemi sepertinya terhitung diantara babi-babi itu.

Seminggu yang lalu, Jemi jatuh sakit. Badannya demam dan menggigil. Aku dipanggil oleh seorang temanku angota kelompok KKI yang peduli terhadap orang dengan gangguan jiwa. Dia meminta tolong untuk meminjamkan mobil dan menghantar Jemi ke rumah sakit.

Aku pun turun ke kampungnya di kecamatan Nelle, kabupaten Sikka, sekitar 5 KM dari seminari kami yang berada di kota Maumere. Aku belum pernah ke kampung itu. Maka aku selalu menanyakan orang sepanjang jalan.

Ketika memasuki kampung itu, aku pun tanya rumah Jemi. Orang-orang menunjukan rumahnya. Dan mereka mulai datang mengerumuni dan bertanya, mengapa saya cari rumah Jami. “Ada apa, sampai Pater ini mencari Jemi?” Demikian aku mendengar mereka bertanya satu sama lain.

Air Mata Melihat Teman Lama

Aku mendapati Jemi sedang dibuka dari pasungnya. Kondisinya sangat memprihatinkan. Dia tidak bisa berdiri dan berjalan karena kelamaan dipasung. Bagian belakangnya luka banyak, dan dia susah duduk. Badannya pun berbau sekali, mungkin karena sudah lama tak mandi dan ganti pakaian, ditambah lagi bau lumpur dan dari kandang babi.

Jemi dipasung di dekat kandang babi

Saat kami angkat Jemi ke halaman rumah mereka, untuk dimasukan ke mobil, banyak orang kerumun melihat dia. Diantara mereka, ada teman-teman lamanya. Sepertinya ini yang pertama kali mereka bersua. Jemi menyebut nama-nama mereka.Tak sadar, air mata menetes dari matanya. Mungkin dia terharu dan kaget melihat teman-teman masa kecilnya berangsur dewasa.

Aku tak tahu, apakah sedih atau gembira yang ada di hatinya. Namun yang pasti, air matanya adalah air mata karena melihat kembali teman-teman masa mudanya setelah lama tak bertemu. Dan orang-orang disekitar itu juga tak tahan melihatnya dan turut meneteskan air mata….

“Mama, ayo kita pulang…”

Kemudian kami membawa Jemi ke rumah sakit, ditemani mama dan beberapa anggota KKI temanku. Sepanjang jalan Jemi cukup tenang, tidak meronta. Setiba di rumah sakit pun, dia dirawat di UGD. Syukur kepada Tuhan, para perawat dan dokter pun sabar menanganinya.

Sepanjang perawatan di UGD, Jemi merasa tidak tenang dan tak nyaman. Dia naik turun tempat tidur dan tidak bisa duduk dan baring lama-lama.  Mungkin tubuhnya terasa sakit karena tak biasa duduk dan baring lama, ditambah lagi sakit dari luka-luka di tubuhnya.

Di antara kesakitannya, Jemi selalu mencari mamanya dan meminta, “Mama, ayo kita pulang…” Mamanya merasa sedih setiap kali Jemi meminta. Dari matanya, tampak dia menahan tangis.Dia hanya menjawab, “Yaa, nanti kalau Jemi sudah sembuh,  baru kita pulang…” Aku pun turut menghiburnya dan meyakinkan dia kalo dia akan baik-baik saja.

“Sekiranya berkenan, apakah Kami bisa Membangun Rumahnya…”

Sambil menunggu perawatan Jemi, aku menanyakan kepada mamanya, “Jika Jemi pulang, apakah dilepaskan atau dipasung lagi?” Mamanya menjawab, kemungkinan besar, Ya, dipasung lagi. Karena hanya itu pilihan supaya Jemi tidak ke mana-mana.

Mendengar itu, hatiku merasa sedih. Lalu aku menawarkan, “Jika berkenan, apakah kami bisa membangun rumahnya, supaya ia tidak perlu dipasung lagi….?”

Baca: Membangun Rumah Tanpa Pasung, Kisah Perjumpaan Pater Andi MI dengan Penderita Gangguan Jiwa di Flores

Mamanya tersipu, seperti ada rasa malu untuk menerima tawaran itu. Aku pun meyakinkan dia dengan memberikan keuntungan lebih banyak, baik terhadap Jemi maupun terhadap mereka. Dengan itu, mereka tidak perlu terlalu repot dan cemas mengurus dia dan Jemi sendiri pun tdk terlalu menderita karena dipasung. Setelah mendengarkan semuanya itu, mamanya dengan senang hati meng-iya-kan tawaranku.

Hadiah Paskah: Bebas Pasung

Sehabis minggu paskah, kami berencana untuk memulai pembangunan rumah baru Jemi. Semoga Jemi akan segera bebas bergerak dalam rumahnya, dan kesehatannya semakin pulih. Mungkin ini akan menjadi hadiah paskah terindah baginya. (Pater Cyrelus Suparman Andi, MI/PTT)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here