Beranda Headline Puisi: Bintang

Puisi: Bintang

3972
2
FOTO: Ilustrasi (skeeze)

Kumpulan Puisi Fransiska Romana Oldin*

 

Bintang

Di singgasana langit malam engkau bertahta bak raja
Memaksa mata tuk bersua
Menggoda bibir tuk mengumbar senyum paling sempurna
Menuntut kaki tuk melangkah menggapai hatimu

Bintang
Kekuatanku adalah menjadikanmu alasan segala bahagiaku,
Ketika hati memaksa mata mengeluarkan bait penuh derita
Ada kamu yang membuat semua derita menjadi canda tawa

Bintang
Balutlah luka lama yang membekas di hati ini
Manjakan aku
Hangat pelukan mesra
Pelukan berbintang malam. (Ruteng, 13/10-2017). **

Elegi Senja

Ayah,
Pada atap rumah abadimu
Aku daraskan doa
Yang kuungkapkan lewat butiran air mata
Di pintu rumahmu jua
Aku tak sempat mengetuk
Takut mengusik ketenanganmu

Ayah,
Seribu kisah kini membayang
Pada awan berwarna darah
Kala mentari beranjak menjemput malam

Kala itu, pada pagi 6 Juni 2015
Kudapati ragamu berbaring kaku
Pada lantai tanah gubuk kita
Sedang di sisi lain
Ada mata yang tak lelah menderai airnya
Ia telah kehilanganmu
Ia permaisuri abadimu
Ia yang kusebut ibu

Kami sungguh kehilanganmu
Raja dalam istana kami
Istana cinta kita

Ah ayah
Adakah kerinduan dalam hatimu kini?
Aku menunggumu dalam mimpi di penghujung hari
Senjaku kembali bercerita tentangmu
Tentang istana cinta yang tak pernah ada akhir. (Rumah, 06/03/2018). **

Surat Ibu

Pada kertas usang
Ukiran huruf ibu tampak utuh
Berupa kata nasihat
Untuk sang anak yang dicintainya seumur hidup

“Nak, jangan kau lihai bermain hati, tetapi lihailah dalam mencintai sepenuh hati, dan pulanglah jika tak kautemui yang berbaik hati, di sini ibu menunggumu sambil berderai, rindu ibu mengiringmu. Kembalilah ke rahimmu”

Pulanglah
Rumah menantimu

Ibu … (Rumah, 06/03/2018).

Senja Yang Romantis

Ketika mata kita bertemu pada satu pandangan di langit yang memerah, dan tangan kita menyatu pada satu genggaman serta bibir kita bersentuhan pada mulut secangkir teh hangat.
Kunamai ini senja paling romantis.

Indah
Kupandangi engkau sore ini
Seperti rindu-rindu kusut yang mulai rapi..
Bahagia
Rasaku saat ini
Menghirup setiap aroma-aroma kasih yang engkau taburkan dalam hati

Terima kasih sudah menjadi bagian dalam jejak-jejakku
Menjadi hidup dalam ceritaku yang pernah mati, bahkan menjadi nadiku saat jantungku mulai tak degup lagi. (Ruteng, 23/10-2017). **

Kepada Kawan

Seperti langit yang tak tampak biru
Demikian aku tanpamu, sambur limbur

Engkau
Bahkan tak berupa
Tapi imajinasiku selalu menjadi rupamu

Kawan
Di manakah engkau?
Aku merasa ada yang kurang
Ketika engkau menghilang

Apa kabar kawan?
Jangan lagi sekali-kali kau pergi
Sebab di sini, kisah kita belum usai

Kawan
Kepadamu 1000 alasan akan segala tanya yang belum sempat terjawab, jika memang perlu bawalah aku bersamamu
Agar aku tak mati suri di sini

Iya,
Harapku ingin bersua denganmu
Sebab sujudku adalah namamu
Dan doaku mengalir bersama eritrosit di tubuhmu berkembang serupa leukosit bak pengawalmu dan mendamai seperti trombosit di ragamu
Doaku tumbuh dalam nadimu.

Bayang Abadi

Bayangmu utuh
Ia terus berkanjar di pelupuk mataku
Melukis tawa tak pasti
Lalu aku bertanya
manakah yang harus kupilih?

Senyummukah?
Atau syahdu matamu?

Masih tentang elok rupamu
Rupa yang membuatku jatuh berkali-kali
Sedang ragaku mencoba bangkit dan berlari
Dan ternyata
Rupamu terlalu kuat merangkulku. (Ruteng, penghujung 2017). **

Pagiku

Selamat pagi mentari,
Datanglah dan nikmati
Seulas senyum yang menyapamu di sini
Di tanah air tercinta ini

Kini kusadari,

Aku mau menjadi pagi
Jika engkaulah matahari

Aku mau menjadi siang
Jika terangmu terus bersinar

Aku mau menjadi sore
Jika cahayamu menjelma mega-mega.

Bila engkau dalam rupa raga
Aku ingin mencintaimu setiap hari, seperti cintamu ke bumi,
Bila engkau adalah nyawa,
Kuingin hidup tak terhitung lamanya,
Seperti deretan angka sampai ke tak terhingga. (Rumah, 28/02/2018). **

Suatu Pagi Bersama Viabel Nostrum

Pada lembaran pertamamu
Ada “Puisi di makam ibu”,
Berhasil membuatku menangis akan kenangku pada Ayah

Perlahan
Pada entah yang keberapa
Kudapati ada pesan ayah untuk sang anak
Yang dikemas dalam kata-kata indah
Diurai sedemikian rupa, persis seperti pesan ayahku pada pertemuan kami yang tak sempat diingat lagi

Pesan ibu menghantarku pada lembaran terakhir
Benar bahwa kerinduan yang paling abadi adalah pulang menuju pelukan ibu. (Mukun, 6/3/2018). ***

Fransiska Romana Oldin (Foto: Dok. Pribadi)

*)Penulis adalah alumnus Prodi Matematika STKIP St. Paulus Ruteng.

Editor : FR

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here