Banyak Kasus Kriminal, Pemerintah Indonesia Diminta Perketat Keamanan di Perbatasan dengan Timor Leste

oleh
Pastor Yohanes Kristo Tara OFM (Foto: Ist)

FLORESPOST.co, Kupang – Pemerintah Indonesia diminta memperketat keamanan di wilayah perbatasan dengan Timor Leste menyusul berbagai peristiwa kriminal yang terjadi yang melibatkan warga negara tetangga itu.

Pastor Yohanes Kristo Tara, OFM, Pastor Paroki Laktutus, Keuskupan Atambua, Kabupaten Belu mengatakan selama ini sering terjadi kasus pencurian ternak, motor dan penyanderaan warga negara Indonesia di Laktutus, Kecamatan Nanaet-Dubesi oleh warga negara Timor Leste.

Hal itu, menurutnya, menyebabkan kehidupan  masyarakat tapal batas sangat tdk aman dan  nyaman.  Lebih dari itu, menurutnya, kedaulatan negara direndahkan dan martabat bangsa dilecehkan.

“Kasus macam ini terjadi berulang kali,”ujar  Pastor Kristo Tara,  dalam keterangan tertulis, Jumat (12/4).

Menurutnya, masalah keamanan tapal batas di Laktutus sangat serius dan mengancamnya kenyamanan warga.  Oleh karena itu, Pemerintah dan pihak keamanan harus memberi jaminan keamanan kepada masyarakat tapal batas dengan meningkatkan patroli tapal batas. “Keamanan tapal batas harus diperketat,”ujarnya.

Pastor aktivis ini juga berharap agar Pemerintah Indonesia mesti memberi tekanan serius kepada pemerintah Timor Leste untuk menjamin keamanan tapal batas.

“Pemerintah Indonesia mesti melakukan diplomasi dan tekanan yang serius kepada Pemerintah Timor Leste agar masyarakatnya segera hentikan tindak  kejahatan di tapal batas yg sangat merugikan warga negara Indonesia. Diplomasi antara kedua negara harus mengedepankan kedaulatan masing-masing negara dengan tujuan perlindungan secara maksimal kepada warga negaranya masingnya,”ujarnya.

Keluhan yg sama juga disampaikan oleh Baltasar Mali, warga Laktutus.

“Hingga sekarang sapi kami sudah lebih dari 600-an ekor dicuri oleh warga sebelah (Timor Leste). Kami hanya kerja untuk masyarakat di sebelah. Kami juga tidur tidak nyenyak, kerja tidak tenang, bahkan ke gereja pun tidak aman karena harus pikir kami punya ternak takut dicuri,”ujarnya.

Selanjutnya Baltasar menegaskan agar sebelum ada jaminan keamanan dari pemerintah kedua negara, perbatasan Laktutus harus ditutup total.

“Kami minta tutup total perbatasan Laktutus. Tidak boleh ada warga negara Timor Leste yg masuk Indonesia, juga sebaliknya. Jika ada warga negara TL yg memasuki wilayah NKRI secara ilegal, pihak keamanan harus mengambil tindakan tegas”, lanjut Baltasar.

Mengingat tingginya tingkat kerawanan kejahatan dan keamanan perbatasan Laktutus, masyarakat Laktutus berharap agar Pemerintah Daerah Belu segera mengusulkan ke kementerian terkait agar Pos Lintas Batas (PLB) Laktutus segera dibangun.

“Kami sudah lama merindukan agar PLB Laktutus dapat segera dibangun seperti Motaain dan Motamasin. Ini penting untuk memperlancar komunikasi dan relasi warga antara negara yang disatukan oleh budaya yang sama. Selama ini, warga masuk secara ilegal untuk acara-acara adat, misalnya kematian, rumah adat, atau acara lain,” tutup Pastor Kristo. (PTT/PTT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *