Puisi: Sela

oleh
FOTO/MODEL: Meme Kwee (Ilustrasi)

Oleh: Marsel Koka, RCJ*

 

Sela, engkaukah itu

Yang meluluhkan tatapku di silam yang telah berlalu

Pula yang mencuri hatiku seenaknya

Lalu memampukan langkahku hari demi hari

Dan engkaukah itu yang menimpa berton-ton rindu di relungku

 

Tapi

Mengertikah kamu jika aku sering digoda sepi yang sunyi?

Sadarkah kamu kalau aku pernah disiksa penat tak berujung?

Dan pernahkah kamu ingat bahwa kasihku tak lagi sebulat rembulan?

Namun pecah dan retak berkeping-keping?

 

Sekali lagi

Sela, engkaukah itu yang berdendang sendu

Dengan seutas senandung rindu

Pada rintihan-rintihan sang kalbu

Yang terus tenggelam dalam kubangan pilu

Kadang terinjak langkah sang waktu

 

Sela, engkaukah itu yang membuat hari-hari senyum

Dengan sejuta lembar bayangmu

Merebut setiap hembusan nafasku

Mengikat setiap persendian tulangku

Dan merindukan selamnya

 

Sela, engkaukah itu yang mencintaiku

Yang melengkapi semua asaku

Serta bermain di atas taman hatiku

Yang berdendang di ujung kangenku

Pula yang tak pernah pudar mesti di sapa mesra banyak rembulan

Dan sela, engkaukah itu yang perlahan-lahan menaklukkanku?***

 

TAPAK

Ingin kutuntasi tapak ini,

Sekarang dan di sini

Dan jumpai tuannya

Lalu rampas hatinya sampai hayatku menjelang.

 

Tak ingin lagi kuhenti di ladang tandus dan apalagi gersang,

Sebab kakiku sudah menjauh langkah,

Pula membekas di lorong-lorong.

 

Benar

Di telapak ini ada gurat letih mengental.

Ada jenuh yang memborgol jiwa

Ada rembulan yang selalu merampas tatap

Pula ada ingin yang sempat bagi-bagi

Tapi cuma sebentar

Itu hanyalah remah jalanan

 

Aku tahu mentari selalu tak telat tuk tiba

Dan senja melambat lalu hilang menuju pulang

Yang pasti pepohonan segera menampak teduhnya

Lalu rinduku menyelinap di tunas-tunas baru

 

Aku tahu

Menjauh sudah lajuku

Meninggi pula tatapku

Balik pulang, bukan pilihan bijak.

Sebab jalanku adalah langkahku

Dan kasih pemilik tapak lebih dalam***

 

AYAH

Ayah, aku hanya tak ingin menderita terlalu lama karena rindu ini

Aku ingin ayah tahu kalau kamu adalah rinduku yang abadi

Ayah, ijinkan satu ruang untuk kita temu malam ini

Walau mungkin cuma sedetik di mimpiku

Sebab berjam-jam sudah kuhabiskan rinduku dalam hening

 

Ayah, engkau telah pamit dengan tenang

Dan aku pahami itu betul

Namun kenapa tiadamu menumbuh galau yang gundah di hatiku

Getirnya tak berujung hari demi hari

 

Ayah, mengapa kisah kita harus terpenggal

Aku ke timur dan kamu ke barat

Mengapa hadirmu tak kekal

Jiwa ini jarang terjamah belaianmu

Kau pergi memeluk maut, lalu aku ditinggalkan

 

Jujur ayah, lirih rinduku bergejolak menepi pada malam sunyi

Hanya sepoi angin yang mampir membelaiku

Saat tangis merampas mataku

 

Pedih perih rindu ini kadang tak berujung

Namun penaku tak berhenti mencatat syair tentangmu

Puisiku adalah rindu padamu**

Marsel Koka, RCJ (Foto: Dok. Pribadi)

*)Penulis berasal dari Rio-Ruing Barat Ngada, Sekarang tinggal di Biara Rogasionis, Maumere, Flores, NTT.

 

Editor : FR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *